Rabu, 25 Februari 2015

MUSHOLA ANGKER

Kami sering jalan-jalan pas ada waktu longgar. Mengunjungi saudara, teman ataupun sekedar jalan-jalan saja di sekitaran yogyakarta. Dari pojok ke pojok. Saat waktu sholat tiba, kami mencari masjid terdekat. Ternyata seringnya mampir ke masjid dan mushola, menjadi pengalaman tersendiri buat kami.
Salah satu yang menarik adalah saat kami ke Bantul ke rumah seorang teman, saat itu sudah masuk waktu maghrib. Kami mencari masjid terdekat tetapi yang kami temui hanya sebuah mushola di pojokan kampung. Sekitar mushola sangat sepi, mushola itupun seperti tak terawat. Agak berdebu. Seperti tidak pernah dipakai untuk sholat. Meski agak heran, kami tetap masuk dan mencari tempat wudhu. Ada di belakang mushola dan gelap tentu saja.
Sebelum sholat, aku berkata pada suamiku, " Kok aneh yo mushola iki, suasane kok angker, serem rasane".
" Hooh ya", suamiku mengiyakan.
Suasana di sekitar mushola itu benar-benar sepi, lengang, tidak nampak seorangpun yang lewat.
"Aja-aja iki wis ora dinggo ya?," kata suamiku.
"Tapi lampu nyala, jam dinding juga masih hidup?".
Selesai sholat kamipun pergi dengan masih bertanya-tanya.
Sesampai di rumah yang kami tuju, kami pun bertanya tentang mushola itu.
"Jenengan wau sholat di situ? Niku cen mushola angker, dha wedi nek sholat teng riku, " kata temanku.
Masya Allah...kok ya ada mushola angker ya?
Sing kebangeten siapa coba?

PERJALANAN KE MADURA

Mengikuti perjalanan pengajian PDHI(Persaudaraan Djamaah Haji Indonesia) yang kali ini diselenggarakan di dusun Tlokoh, kp. Murarah, kabupaten Bangkalan, Madura pada tanggal 8 Februari 2015 kemarin sangat mengesankan. Pengajian PDHI yang biasanya diselenggarakan di sekitar daerah yogyakarta dan jawa Tengah, kali ini diselenggarakan jauh di sebuah kampung di Bangkalan. Ada sebuah masjid yang didirikan oleh seorang kyai yang telah terhenti hampir 2 tahun karena kekurangan biaya, sedang mayoritas penduduk lokal adalah petani tadah hujan yang hanya bisa panen 1 kali.
Rombongan berangkat dibawah koordinasi langsung PDHI ada 5 bis, sedang yang lainnya berangkat dengan kendaraan/rombongan sendiri-sendiri, ada kurang lebih 500 jamaah yang mendaftar untuk ikut hadir.
Perjalanan menuju ds. Tlokoh yang kami tuju membutuhkan waktu hampir 2 jam dari jembatan suramadu, sepanjang perjalanan banyak ditemui tanah kosong terbengkalai. Tampak sekali jika kawasan ini tertinggal secara sosio ekonomi, sedikit sekali ditemui sekolah, fasilitas kesehatan dan pelayanan publik lainnya.
Sesampai di lokasi, ternyata sudah banyak jamaah lain yang sampai. Dari pemberhentian bis, masih harus jalan kaki dengan jalan sedikit menanjak hampir 500m. Beruntung ada mobil yang disediakan untuk mengangkut sampai tiba di lokasi pengajian. Kalo tidak dijamin mengkis-mengkis.
Tidak ada fasilitas kamar mandi, untuk keperluan buang air jamaah yang datang hanya dibuat sekat2 ala kadarnya dengan bilah bambu dan terpal. Beberapa jamaah ada yang buang air di kali. Untungnya tadi sebelum ke lokasi pengajian, sempat mampir ke rumah salah seorang penduduk di dekat bis berhenti saking kebeletnya, di rumah itu, kamar mandinya gede tanpa wc dengan bak mandi besaar(buat nampung air hujan), agak tidak nyaman berasa pipis di dapur. He he he.
Dengan segala keterbatasan yang ada, hidanganpun bawa sendiri- sendiri, acara silaturahmi, pengajian dan penggalangan dana pun berjalan lancar. Dana yang terkumpul melebihi target dari yang diharapkan panitia.
Sungguh mengharukan, Ya Allah semoga hanya karenaMu-lah kami semua disini, bertemu dengan saudara kami di sini, di daerah yang sangat jauh dan terpencil seperti ini.
Ada banyak hikmah yang bisa di ambil dari perjalanan ini, menjawab pertanyaan mengapa mengadakan pengajian dengan jamaah begini banyak ke tempat yang jauh dan sulit seperti ini. Bukankah lebih mudah menggalang dana di yogya, kemudian mengirimnya ke sini. Secara teknis mungkin iya, tetapi ternyata kesan dan makna yang mendalam sangat dirasa dengan melakukan perjalanan seperti ini, bagi masyarakat yang didatangi, terlebih lagi bagi jamaah yang datang itu sendiri. Terbukti tak terdengar keluhan dan gerutuan. Meski sesudah dari sana dilanjutkan dengan jalan-jalan, perjalanan ini lebih dari sekedar refreshing.
Perjalanan ini bukan sekedar menyegarkan pikiran semata tetapi juga menentramkan hati.

Selasa, 09 Desember 2014

MENAHAN DIRI

Kemarin, ketika puasa asyura 10 Muharram, cuaca begitu panas di Yogya. Belum lagi dhuhur, panas matahari sudah 'ngenthang-ngenthang'.
Saat mengambilkan air minum untuk tetangga yang kumintai tolong setrika, segelas air putih dengan beberapa butir es batu tampak begitu menggoda, perasaan yang tak pernah terlintas di saat menjalani puasa Romadhon selama sebulan.
Ketika saat buka kuceritakan hal itu pada suamiku. "koyo cah cilik wae budhe" komentar suamiku. Bener juga sih.
Malam masih terpikirkan, segelas air putih dengan butiran es batu di hari yang sangat panas, di depan orang yang puasa(artinya diniati untuk tidak makan dan minum) begitu menggoda, marai pengin. Bagaimanalah lagi perasaan orang yang tidak punya uang, sangat butuh uang, ketika melihat orang orang kaya menghambur-hamburkan kekayaan, dan
memamerkan gaya hidupnya? Tentu bayangan itu akan sangat menyakitkan jika berbenturan dengan kemampuan ekonomi yang tak kunjung beranjak.
Mungkin itulah sebabnya kenapa Allah lewat RasulNya bukan hanya mengajarkan kedermawanan, melarang sifat bakhil tetapi juga memerintahkan untuk menahan hawa nafsu, melarang kemubadziran dan bersikap boros. Agar tidak menyakiti perasaan orang yang tidak berpunya, serta memudahkan mereka untuk bersabar dengan keadaan mereka.
Dermawan dan menahan diri dari orang-orang berpunya akan menetramkan hati orang -orang yang tak berpunya, dan ketentramanpun akan tercipta.
Wallahu a'lam.

PUISI SAAT PAKDE PERGI HAJI

Membersamaimu dalam doa adalah sesuatu yang bisa kulakukan untuk menolongmu saat tak ada diriku disisimu
Yakin engkaupun melakukan yang sama untukku
Karena apa yang kaulakukan dan apa yang kulakukan di sini adalah apa yang kita sepakati untuk kita kerjakan.
"Ini pembagian peran saja insya Allah dirimu dapat pahala yang sama karena kerelaan dan dukunganmu selama ini"
Dan aku berharap demikianlah adanya


Di batas sunyi
Mencoba mencari senyummu
Di baris-baris yang telah tertulis
Rasa itu datang melalui kejapan mata
Tatkala kita menata potongan mimpi
Menjadi gambar yang mewujud nyata
Indah....
Saat kita bisa meletakkan asa bukan pada kuasa kita
Saat kita menyadari hidup bukan sebatas pandangan mata
Bawakan untukku sebait doa
Untuk kebahagiaan kita
Di sana....



Mungkin diriku cuman lelah karena tak ada dirimu di sini
Meski kutahu kau tak pernah suka aku berkata seperti itu
Kepala boleh saling bersandar
Hati jangan saling bersandar
Begitu dirimu sering mengingatkanku
Kita saling menguatkan tetapi tidak saling bergantung
Cinta ini memang bukan cinta sederhana
Saat kita jaga untuk tetap sujud padaNya....



Gelaran hari tanpamu menyadarkanku akan sebuah tujuan
Tujuan yang menghibur hati dari sebuah kehilangan
Menghindarkan diri dari kekosongan
Hidup memang bukan sekedar bersama
Tujuan kitalah yang menjadikan kebersamaan ini bermakna
Saat keridhaan Allah menjadi tujuan
Dimanapun kita, sendiri atau bersama, harusnya tidaklah beda
Semoga Allah menerima amal kita, menjadikan kita berdua dan orang-orang yang membersamai kita dalam keridhaanNya

CERITA DARI PANTI 6

Sebuah sms masuk dari salah seorang anak penghuni panti asuhan yang biasa kukujungi.
"Ibu saya ingin keluar dari panti".
"Ada apa, apa yang terjadi?"
"Tidak tahu ni bu, sudah tidak kerasan saja".
Sampai di sini sms tidak kubalas, jika dia menceritakan duduk persoalannya maka kuusahakan untuk bisa menemaninya, tapi ketika jawabannya menunjukkan kegalauan saja maka biar dia bisa berpikir dulu, biar belajar untuk memahami persoalan dirinya sendiri. Untuk masalah penting seperti itu mestinya bukan berdasarkan kegalauan. Itu yang hendak kusampaikan dengan tidak kujawab smsnya.
Panti Asuhan di mana aku sering kesana bukanlah panti asuhan sebagaimana yang dikesankan di cerita-cerita, mereka semua masih punya orangtua meski tidak lengkap, pagi mereka sekolah biasa, selebihnya mereka dididik dengan pendidikan agama. Ada ustadz pengasuhnya.
Sedang yang bertanya padaku pun sudah lulus SMA yang sedianya mau melanjutkan kuliah atas biaya panti. Jadi bukannya aku kejam tho dicurhati kok tidak dibales, wajar bukan ketika aku berharap dia bersikap dewasa?.
Meski mereka anak panti asuhan, meski mereka selama ini " hidup" dari santunan, aku berharap mereka mempunyai kemandirian sikap, bisa menentukan sikap untuk kebaikan mereka sendiri, dan bukannya menjadi lemah jiwanya. Kemandiran sikap dibangun dengan mengenali apa yang jadi persoalannya, baru bisa memutuskan jalan keluar dari persoalan tersebut.
Seseorang memang cenderung bersimpati ketika mendengar kesusahan orang lain tetapi akan menjadi tidak baik ketika menjadikan sesorang berpikir orang lain harus menolongnya ketika dia merasa susah. 

Apalagi jika bantuan itupun harus sesuai keinginannya.

PANGGILAN SAYANG

Di antara saya dan suami punya panggilan sayang, pakde dan budhe.
Mungkin cuman kami yang begitu. Bukan lantaran panggilan bapak dan ibu tak kunjung tersemat, atau memamerkan kondisi kami. Samasekali tidak, tak ada maksud untuk menunjukkan kengenesan takdir itu.
Awalnya karena suamiku anak kedua maka lebih banyak yang manggil budhe/pakde dari pada om dan bulik. Di depan ponakan-ponakanku itu, iseng saja setiap memanggil suamiku dengan pakde.. dan suamiku membalas dengan sebutan yang sama, budhe… 
Jadilah kami biasa menggunakan panggilan itu disetiap situasi dan kesempatan, disms, chating ataupun pembicaraan-pembicaraan langsung kami berdua.
 Tidak ada beban, asyiik saja. Kadang berasa lucu juga sih, hee…
Kami hanya ingin berbahagia di setiap takdir Allah, karena yakin Allah tak hendak menyusahkan hambaNya.
Hidup hanya sekali, rugi sekali jika tak menyadari banyaknya rahmat Allah yang diberi.

BERBAGI ITU INDAH

Suatu saat saya mengajak suami untuk pergi berdua.
Suamiku berkata,"Kita ini hidup berdua, jangan selalu pergi berdua saja, nanti kita akan semakin sepi". Begitu jawab suamiku.
Karena itu lah amat jarang kami pergi hanya berdua, lebih sering berombongan. Mobil kijang tua kami persis dengan yang digambarkan di iklan mobil kijang tahun 90-an dulu kala.
"Ada Aa', teteh, adik. pakde, budhe, om, tante,nenek, kakek, semuanya masuk". Ketika mobil berhenti yang keluar dari dalam mobil banyak bingit, ha ha ha.
Dan ternyata saya juga menikmatinya....
Menikmati kebersamaan itu membahagiakan
menikmati kebahagiaan ketika dibagi ternyata semakin bertambah-tambah
Jadi ingat kata-kata kakakku, "Heran ya kok ya ada orang yang tidak suka berbagi?"