Kamis, 10 Oktober 2013

KOMUNIKASI YANG BURUK

Saat menunggu teman yang akan menjemput untuk main ke rumahnya di halte bis depan pasar kleco Solo, ada seorang bapak-bapak juga tengah menunggu di sana. Bapak itu berusia 50 tahun ke atas , berpakaian rapi, dengan membawa tas kerja. Bapak itu tampak sibuk menelepon tapi sepertinya tidak diangkat-angkat.
Ketika telpon tersambung, bapak tersebut langsung berbicara dengan suara keras,"Bodoh!". Kemudian melanjutkan makiannya dengan serentetan kata-kata keras.
Kupikir, bapak itu memarahi anak buahnya. Tetapi alangkah terkejutnya ketika kudengar bapak itu mengatakan," Kamu tahu saya tidak suka mahasiswa bodoh seperti kamu, otak pas-pas saja sok-sokan pengin jadi sarjana".
Astaghfirullah, jadi bapak itu menelepon mahasiswanya. Sampai shock aku mendengarnya apalagi yang jadi mahasiswanya.
Terlepas dari apa kesalahan dari mahasiswa tadi atau karakter dari pendidik yang bermacam-macam, aku merasa kok tetap kebangetan ya bapak itu memarahi anak didiknya. Begitu parahkah sikap mahasiswanya sehingga harus disikapi segitu kerasnya?
Sepertinya banyak yang harus diperbaiki dalam kehidupan sosial agar ekspresi-ekspresi semacam itu tak banyak tercetus, agak mengerikan rasanya membayangkan jika interaksi kita banyak diwarnai dengan ekspresi kekerasan bahkan pada interaksi yang harusnya penuh kesantunan.

Selasa, 08 Oktober 2013

SEMUANYA TAKDIR ALLAH

Dalam perjalanan ke solo beberapa waktu yang lalu, dengan kereta Sriwedari, duduk di sebelah saya seorang ibu berusia 2-3 tahun lebih muda dari saya. Entah siapa yang mengawalinya ( mungkin juga saya, biasa crigis gak nyadar). kami sudah terlibat perbincangan akrab. Rupanya beliau tengah mengambil S2 di UNS.
Hingga sampailah ketika dia cerita:
"Saya baru diberi momongan setelah 13 tahun menikah mbak, semua usaha medis saya lakukan. Saya pernah laparoskopi, ditiup 2x, inseminasi buatan hingga terakhir bayi tabung",demikian ceritanya panjang lebar
"Berhasil mbak" tanyaku.
"Tidak, padahal sudah sempat ditanam. Setelah 2 bulan akhirnya keluar. Setelah itu saya berhenti dulu usaha medisnya".
" Jadi, kehamilan jenengan, alami, setelah tidak ada usaha medis yang dilakukan?"
"Iya, setelah saya pasrah, akhirnya hamil".
"Alhamdulillah, Allah mengaruniai jenengan seorang anak, kadang memang begitu setelah usaha berbagai macam tidak berhasil, tetapi setelah itu Allah beri anak meski seakan pas tidak berusaha apa-apa. Begitulah takdir , seperti apapun kita berusaha kalau Allah belum menakdirkan kita punya anak, anak itu belum hadir juga", kataku setelah mendengar panjang usahanya untuk memiliki anak.
"Menurut saya itu bukan takdir",kata ibu itu lagi.
"Lho kok bukan takdir?"tanyaku heran.
"Iya, bukan takdir, asal kita usaha pasti Allah akan memberi",jawabnya yakin.
"Itu takdir mbak, kalo jenengan akhirnya punya anak, itu karena memang Allah menakdirkan jenengan punya anak. Tidak semua yang berusaha akan memperoleh apa yang diinginkannya. Tanpa menyakini takdir Allah, seseorang tidak akan bisa bersabar dengan ketetapan Allah padanya yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya", jawabku panjang lebar.
Takdir Allah, ya... banyak orang salah memahami takdir Allah.
Mengimani takdir Allah sebagai salah satu rukun iman setiap muslim, sebenarnya adalah satu kunci agar manusia bisa hidup bahagia, karena apapun yang menimpa dia, selalu disandarkan kepada Allah Azza wa Jalla dan selalu akan berakhir baik untuk hamba tersebut. Karena pilihan Allah adalah yang terbaik untuk hamba tersebut.
Wallahu a'lam bishshawab.

Senin, 07 Oktober 2013

STATUS FACEBOOK 2


Mereka yang bisa merasakan cukup dengan pemberian Allah di dunia adalah mereka yang mengharapkan di akhirat nanti.
Sedang bagi orang yang tak mengharapkan kebaikan akhirat, dia tak akan pernah merasa cukup di dunia.
Seorang yang beruntung bukannya mereka yang tak pernah menderita. Tetapi orang yang beruntung adalah orang yang tak merasa menderita ketika penderitaan itu menimpa. Kesabaranlah yang akan membawanya pada pahala yang tiada batas.

 Sejatinya dunia maya adalah bagian dari dunia nyata seseorang, dia dihadirkan untuk menjadi pelengkap dari kehidupan nyata seseorang. Untuk menunjang bisnisnya, ajang bertemu dengan teman lama, hiburan, berbagi ilmu ataupun seseorangntuk menipu, setiap orang akan mendapat hasil dari apa yang diusahakannya. Mau dia berkamuflase atau hadir dengan sejujurnya itu adalah pilihan. Akan tetapi bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi haruslah selalu disadari agar tidak merasa jika berbuat dosa di dunia maya itu juga semu belaka. Dosanya tetap nyata.

Luka yang dirasa perlukah dipelihara?
Sakit yang ada bisakah dianggap tidak ada?
Bukankah kita manusia?
Tetapi hanya manusia juga yang bisa memaafkan dan
hanya manusia pula yang bisa mengubah derita menjadi bahagia
ketika bukan apa yang ada di tangan manusia yang didamba
ketika hanya ridha dan rahmat Allah yang diminta
semua ada di hadapan tinggal pilih yang mana

Ketika diri dikalahkan amarah
Ketika hati terbebani sakit hati
Amal sholih menjadi berat untuk dilakukan
Kebaikan jadi susah untuk dikerjakan
Hari menjadi suram meski panas matahari menyengat
Alangkah bahagianya mereka yang mudah memaafkan dan berlonggar hati.
Dia akan mudah untuk bahagia.
Tidak akan bahagia mereka yang mengharapkan kesempurnaan di dunia karena kesempurnaan di dunia mustahil ada.


Dalam hidup selalu ada pilihan. Bahkan dalam kondisi tak ada pilihan sekalipun kita masih bisa memilih, mau sabar atau tidak sabar, mau terima atau menghujat, mau syukur atau mengingkari. Setiap manusia punya kesempatan yang sama.Selagi tak ada hak2 orang lain yang terlanggar setiap orang bebas menentukan pilihannya.
Hanya saja setiap pilihan selalu membawa konsekuensi yang harus ditanggung, di dunia ini atau akhirat nanti.

Ketika harapan tak juga didapat
ketika keinginan tak juga kunjung terwujud
Dan doa tak juga terjawab
Jangan bosan berusaha, jangan  bertanya masih berapa lama lagi menanti
Yakinlah di ujung jalan Allah menyiapkan lebih baik dari yang kita minta
karena kesabaran kita menerima ketentuanNya
karena keyakinan kita Allah mampu memberi apa yang kita minta
Abaikan waktu yang telah terlewat
fokuslah pada apa yang akan Allah beri

Mencoba untuk memahami dan menikmati kesendirian.
Sendiri tak selalu menyedihkan.
Sendiri tak selalu melarakan.
Toh suatu saat nanti kita akan sendiri.
Dalam penantian panjang tak bertepi
Teman kita saat itu apa yang kita usahakan hari ini
Jangan terlalu sibuk dengan teman kita hari ini
Pikirkanlah seperti apa teman kita nanti
Bisa jadi hiruk pikuk pertemanan kita saat ini menyebabkan kesunyian yang menyengsarakan saat itu
Sebaliknya kesendirian kita saat ini bisa mendatangkan teman yang menyenangkan nantiny
a

Senin, 30 September 2013

CINTA DALAM KOTAK MAKANAN

Seorang istri setiap pagi menyiapkan bekal untuk makan siang suaminya di kantor.
Sang suami lebih suka makan siang dari bekal istrinya daripada makan siang di kantin atau membeli makan di luar.
"Enak masakanmu," atau" males cari makan keluar",begitu suaminya bilang.
Maka setiap hari istrinya menyiapkan bekal nasi lengkap dengan lauk dan sayur. Ditatanya bekal untuk suaminya di sebuah kotak makanan, sayur dibungkus plastik khusus dan lauk pelngkap lainnya.
Pada suatu hari saat istrinya tugas sore, sang suami menghubunginya, mengajaknya untuk takziah ke rumah salah seorang kerabat di luar kota sepulang kerja jam 8 malam.
Si istri menyetujuinya, sembari berkata,"bawain bekal ya mas, aku belum makan malam.
Saat istrinya dijemput dan membuka bekal yang disediakan suaminya di dalam mobil yang membawa mereka, di dapatinya bekal yang ditata persis saat dia menyiapkan untuk suaminya.
Setengah takjub sang istri berkata,' kok persis seperti aku yang menyiapkan mas"
" Kan aku sudah diajari sama istriku",jawab suaminya sambil tersenym.
Inilah cinta, inilah saling pengertian itu dalam wujud nyata.
Sederhana tapi indah.

Selasa, 24 September 2013

LATIHAN YANG KELIRU

Seorang remaja putri datang ke apotek malam itu menyerahkan selembar resep.
Ketika kubaca resep itu tertera nama seekor kucing.
"Kucingmu kenapa? tanyaku.
"Kucingku sakit bu", jawabnya dengan nada sedikit manja.
"Sakit apa?" tanyaku kembali dengan meniru gaya bicaranya. Ha ha iseng saja.
"Gak tahu bu, tapi badannya panas sama batuk2 gitu deh", jawabnya masih dengan gaya yang sama.
"Di antar pacarmu?"
"Iya, yang ngasih juga dia, lucu banget kucingnya".
Masya Allah, anak-anak remaja sekarang, ada ada saja cara berpacarannya.
So sweet-kah?
Menurut saya sih nggak banget deh. Apa mereka berpikir mengurus kucing itu seakan-akan mereka belajar mengurus anak mereka kelak?
Mungkin diriku memang berpikir terlalu jauh tetapi banyak orang tua sekarang ini begitu permisif terhadap aktivitas anak anak mereka terutama gaya mereka berpacaran.
Bagaimana jadinya jika mereka terbiasa melakukan sesuatu bsrdua yang kegiatan itu merupakan prototype kegiatan suami-istri semisal memeriksakan berdua kucing itu tadi? Atau saling menyapa mama papa, ayah bunda atau yang aku lebih geleng-geleng lagi si gadis mencum tangan pacarnya ketika akan berpisah.
Ketika tingkah laku, sapaan dan acara sudah seperti sepasang suami istri meski mereka belum menikah bukankah ini membawa pada kedekatan lebih jauh lagi bagaikan suami istri padahal mereka belum menikah, sekali lagi belum menikah.
Lalu apa untungnya mereka melakukan itu?  Bukankah lebih baik jika masing-masing remaja itu menempa diri mereka dengan pengetahuan, ketrampilan dan ilmu yang bermanfaat dan dengan cara yang benar sehingga ketika Allah takdirkan mereka untuk menikah, siap untuk bertanggung jawab dan mengerti akan hak dan kewajibannya?
Sehingga kelak jika mereka punya anak, mereka tahu bagaimana bersikap sebagaimana menjafi orang tua dan bukan hanya jadi orang tua karena lahir lebih dulu dari anaknya..
Latihan yang keliru tidak akan menghasilkan hasil yang baik, jika itu dilakukan dalam kehidupan akan teramat besar resiko yang akan ditanggungnya

Minggu, 22 September 2013

NASEHAT 2

Seringkali seseorang ketika bermasalah atau terkena musibah, kemudian dinasehati oleh temannya, jawabannya adalah: "Kalau cuman ngomong gampang, coba kalau kamu yang mengalaminya sendiri?"
Kalau saja setiap orang yang akan menasehati harus membuktikan dulu ucapannya maka tak akan ada orang yang akan nasehati-menasehati, karena apa? Karena setiap orang punya permasalahan sendiri-sendiri, dan waktunya tak berurutan sebagaimana jadwal pelajaran. Justru dengan saling menasehati seseorang akan mempunyai kekayan batin dengan banyaknya pengalaman menyelesaikan permasalahan yang bisa jadi suatu ketika gantian menimpa dirinya. permasalahan akan lebih ringan dan akan menimbulkan kasih sayang diantara orang yang saling menasehati.
Pada akhirnya akan menghindarkan manusia dari kerugian, sebagaimana yang Allah jelaskan dalam surat Al-Asyr :
Demi Waktu,
sesungguhnya manusia dalam kerugian,
kecuali mereka yang beriman dan beramal sholeh dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran

Minggu, 08 September 2013

DUNIA KAPUR

Dulu ada film animasi berjudul chalkzone atau dunia kapur. Peran utama dalam film itu adalah Rudi tabhotee, seorang anak kecil yang bertualang dengan kapur ajaibnya. Setiap goresan kapurnya seakan akan hidup dan dia bertualang di dunia goresan kapurnya bersama teman-temannya.
Entah kenapa, akhir2 ini teringat kembali film itu yang kutonton dulu ketika menemani ponakanku. Mungkin karena melihat bahwa di dunia nyata dan duniia dewasa ternyata ada juga yang membangun dunianya dengan persepsinya sendiri bagaikan dunia kapur rudi tabuti. Bukan dengan kapur ajaib tentu saja tetapi dengan kata-katanya yang berbuih-buih, dan dengan khayalannya. Dia hidup di dunia yang dibangun oleh khayalannya sendiri seakan-akan nyata meski itu tak bisa diterima kebanyakan orang bahkan bertabrakan dengan norma dan nilai nilai agama. Dunia kamuflase ini bisa di dunia maya ataupun dunia nyata.
Lebih parah lagi jika dia memerangkap orang lain untuk masuk ke dunia kapurnya. Dengan kepandaiannya berkata-kata berhasil menyakinkan orang untuk mengakui dunia kapurnya sebagai dunia nyata. Seseorang yang terperangkap ini sering tidak sadar bahwa dia terperangkap kamuflase dan mengikuti presepsi pemilik dunia kapur tersebut. Namanya kamuflase tentu saja merugikan.
Dibutuhkan ilmu dan kesadaran agar kita tidak mudah dibawa masuk ke dalam kamuflase seperti ini, agar kita dapat terus berpijak pada kenyataan dan mendasari hidup kita dengan nilai-nilai agama sepenuh kesadaran kita.