Senin, 18 Agustus 2014

JALAN-JALAN PAGI

Salah satu segmen kehidupanku yang kusukai adalah saat jalan-jalan pagi berdua. Meski terkadang aku harus dipaksa dulu untuk mau jalan-jalan. Lumayan membuat badan segar dan banyak kejadian yang menarik yang kutemui di acara jalan-jalan itu.
Salah satunya adalah banyak rejeki yang datang menghampiri. Benar-benar menghamipiri.
Pernah saat kami berjalan mau pulang lewat rumah tetangga yang sedang memindah lele dari kolamnya karena kekurangan air maka lele-lele itu saling menggiggit, melihat kami jalan, si ibu melambaikan tangan memanggil kami,"Mbak purun masak lele?". Maka pulanglah kami dengan 3 ekor lele sebesar lengan orang dewasa.
 

Kemudian, ada lagi saat kami berjalan di depan rumah seorang teman, mereka melambaikan tangan menyuruh mampir dan membagi panenan bawalnya.
Entah apa kami seperti pengembara kekurangan bekal atau nampak suka makan, yang jelas kami tak pernah menolak rezqi, apapun itu kami terima dengan senang hati. Badan sehat kadang masih bawa rambutan, pisang ataupun pepaya. Pernah juga ada yang kasih buku.
 

Rizqi dari Allah memang bisa dari arah mana saja, kadang tanpa disadari kita bergerak menjemput rizqi kita. Meski usaha dan apa yang diperoleh tidak nyambung sekalipun.
Maka jika seseorang merasa sempit rezqinya, bisa jadi karena dia tidak mengenali rizqi yang diterima hanya karena tak sesuai dengan apa yang diinginkannya.
 

Maka memahami rezqi yang kita terima adalah langkah awal dari bersyukur kepada Allah Azza wa jalla, artinya langkah awal untuk bahagia.

KENANGAN HAJI 5

Masjid Nabawi sudah penuh meski waktu subuh masih lama ketika aku memasukinya dini hari itu. Terpaksa menggelar sajadah diantara karpet-karpet yang sudah terisi penuh oleh jamaah. Kebetulan pagi itu berangkat ke nabawi hanya berdua dengan suami tidak bareng dengan ibu-ibu jamaah lainnya. Setelah lewat waktu beberapa lamanya, tempat duduk kanan kiriku sudah terisi penuh tinggal satu tempat kosong di sisi kananku dan kiri depanku.
Tak lama berselang datang 2 orang ibu-ibu berkulit hitam, mungkin dari Sudan tapi yang jelas berkebangsaan afrika. Satu orang duduk di sisi kananku, satunya lagi duduk di kiri depanku. Karena memang hanya itu tempat duduk yang tersisa.
Ternyata ibu yang duduk di sebelahku tidak membawa sajadah, padahal lantai masjid nabawi sangat dingin, suhu di Medinah dingin sekali kala itu.
Dengan bahasa isyarat ibu berkulit hitam uang duduk di kiri depanku memintaku untuk membagi sajadahnya dengan temannya, dia sendiri sudah membawa sajadah.
Dengan bahasa isyarat juga, kubalas aku tidak kuat dengan dinginnya lantai masjid jika harus berbagi sajadah dengan temannya, kuajak dia untuk bertukar posisi denganku agar dia bisa berbagi sajadah dengan temannya. Alhamdulillah dia mengerti, kami pun bertukar posisi.
Kepahaman bisa diwujudkan jika tak ada prasangka buruk dan saling mengerti meski dengan seseorang yang tidak saling kenal, berbeda bangsa dengan bahasa isyarat pula. Asal tujuannya sama.
Lalu bagaimana bisa sepasang suami istri bisa berselisih paham hingga level mengkhawatirkan hanya karena masalah sepele bahkan kadang karena masalah di luar kepentingan mereka sendiri? Jelas mereka telah hidup berdua, berbicara dengan bahasa yang sama pula.
Bisa jadi karena ada prasangka dari salah satu pasangan, ketidakmauan untuk mengerti atau tujuan mereka berdua yang mulai tidak sama.
Wallahu alam.

Jumat, 04 Juli 2014

KEMUDAHAN

Suatu pagi aku berjalan kaki ke rumah saudara. Di jalan bertemu dengan tetanggaku, sudah berusia lanjut, dengan menenteng beban di kedua tangannya. Satu keranjang belanjaan, satunya tabung gas 3 kiloan. Karena jalanku searah, maka setelah kusapa, kuambil tabung gasnya, sambil berkata, "Kula betakke bu".
Untungnya tidak terlalu jauh, bukan karena pecitraan tapi memang aku tidak begitu kuat bawa beban sakjane. He he he.
Sambil jalan kubertanya pada simbah itu,"Kok mboten ken dugekke mawon bu".
"Ora gelem mbak, wong gas cilik nek sing gedhe kae yo gelem", jawab ibu itu.

Malam harinya aku teringat kejadian tadi dan baru sadar kalo selama ini aku hampir tidak pernah pergi mencari gas sendiri. Driku yang masih terhitung muda dibanding ibu itu yang usianya hampir 2x usiaku, gas selalu bisa minta diantar ke rumah meski gas 3 kiloan sekalipun. Apapun sebabnya, harus diakui Allah telah memberi kemudahan lebih bagiku. Sebuah kemudahan yang tak kusadari.
Ternyata banyak kemudahan -kemudahan hidup yang tak kita sadari, kita anggap wajar sajalah kemudahan itu kita dapatkan. Padahal sejatinya kemudahan hidup itu adalah kenikmatan yang tak semua orang mendapatkannya.
 

Jika kita tak menyadarinya, mungkinkah kita akan bisa mensyukurinya?
Kemudahan yang kita dapatkan ini bisakah membawa kita untuk lebih mudah taat kepada Allah Ta'alaa?
Ada banyak pertanyaan yang bisa kita tanyskan pada diri srndiri, untuk memperbaiki diri sendiri, agar kemudahan yang Allah beri menjadi sebab untuk kemudahan kita selanjutnya di akhirat nanti.

LALAI

Suatu malam sekitar jam 2 dini hari, aku terbangun berasa ingin ke kamar mandi. Ketika keluar kamar, aku terperanjat kaget, ada 2 kucing melintas tepat di depanku. Deg, jantungku berdetak cepat. Aku tidak punya kucing, lalu darimana mereka masuk? Dengan berdebar-debar aku berjalan ke arah pintu depan, jangan-jangan….tepat sekali dugaanku, pintu depan terbuka. Agak gemetar segera kututup pintu depan.
Ya…Allah terima kasih atas perlindunganMu, pintu depan lupa tidak kami tutup bukan hanya sekedar tidak dikunci. Saat itu kami memang benar-benar lalai menutup pintu, pintu terbuka bukan karena di masukin orang, karena memang tidak satupun barang kami hilang. Kebetulan rumah kami terhalang rumah Ibu dari jalan depan, itu salah satu hal yang menyelamatkan.
 
Tetapi bagaimanapun, ini adalah kelalaian. Dan ketika kelalaian tidak berakibat keburukan adalah satu nikmat karena Allah berkehendak melindungi dan menghindarkan kami dari sebuah kejahatan. Dan yang namanya kelalaian tentu bukan untuk diulangi, karena jika kelalaian itu kami ulangi atau parahnya disengaja, sangat bisa kejadiannya akan berbeda.
 
Demikian pula dengan kesalahan-kesalahan kita, jika Allah berkehendak menutup aib-aib kita maka orang lain tak akan tahu kemaksiatan yang kita lakukan. Allah melindungi kita dari akibat buruk kelalaian atau kesalahan kita di dunia sedang di akhirat tetap ada pertanggungjawabannya selagi kita tidak mohon ampun dan bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla. Kesempatan memperoleh ampunan Allah terbuka lebar di bulan Romadhon yang akan kita masuki, hingga Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bersabda sangat rugi orang yang mendapatibulan romadhon dan tidak mendapat ampunan. Kesalahan kita tak hanya ditutupi tetapi juga dihapuskan dan Allah ganti dengan pahala yang tanpa batas sebagaimana yang Allah janjikan.
Sebuah kelalaian besar jika sampai kesempatan ini terlewat begitu saja.

Senin, 16 Juni 2014

KEMISKINAN

Saya mengenal sebuah keluarga miskin di sebuah desa di kulon Progo, tidak terlalu pelosok hanya berjarak sekitar 6 km dari jalan negara. Kemiskinan keluarga itu sangat jelas terlihat dari kondisi rumahnya yang berdinding bambu tanpa pondasi, lantai rumahnya sama dengan halaman depan rumahnya, nyaris tak ada perabot di rumah itu, hanya meja dan kursi kayu beserta dipan kayu. Saking miskinnya mereka juga tak punya lemari yang cukup memadai sehingga akte kelahiran anaknya pun hanya diselipkan diantara dinding bambu, sehingga saat dibutuhkan ketika anaknya hendak menikah, akte kelahiran anaknya sudah di makan rayap.
Tetapi dengan kondisi yang seperti itu, keluarga itu tidak mendapat bantuan BLT dulu itu.Ketika kami berkunjung, si bapak juga tidak menunjukkan kalo dia kecewa tidak mendapat BLT bahkan dengan tetap berprasangka baik kepada pemerintah dan aparat setempat yang tidak memberikan haknya. Dan kuyakin bapak itu tulus ketika mengatakannya.
Kemiskinan keluarga ini mengharukan tetapi tidak menyedihkan karena mereka mensikapi kemiskinannya dengan sikap yang benar, tetap bersyukur dan memiliki sifat-sifat yang mulia dalam kemiskinannya. Dengan prinsip hidup yang seperti itu ketika Allah longgarkan rezeki mereka dengan cepat mereka akan bisa memperbaiki kualitas hidup mereka. Demikianlah yang terjadi pada keluarga itu saat ini.
Ada satu lagi kisah keluarga miskin yang lainnya, meski tak semiskin keluarga 1 tadi tetapi tak pernah berhenti mengeluhkan kemiskinannya bahkan saat panen sekalipun. Ketika anaknya tidak mau sekolah lagi dan ada pihak-pihak yang berusaha membantu, si ibu membela sikap anaknya dengan beralasan si anak tidak mau meberatkan orangtuanya. Tetapi ibu ini sama sekali tidak melarang ketika anak yang tidak sekolah tadi menghabiskan gaji sebulan dia kerja untuk rebonding rambutnya.
Kemiskinan seperti ini menyedihkan tetapi tidak mengharukan.
Demikianlah memberantas kemiskinan tidak sekedar meningkatkan pendapatan mereka saja, tak sesederhana itu.
Rasulullah mengajarkan doa untuk berlindung dari kefakiran, itu artinya kita memohon kepada Allah subhana wa Ta'alaa agar terhindar dan dijauhkan dari kefakiran. Akan tetapi Rasulullah juga mengajarkan bahwa kaya itu bukan pada banyaknya harta tetapi kayanya hati.
Begitulah Rasulullah mengajarkan hakekat harta itu pada umatnya.
Wallahu a'lam bishawwab.

CINTA 3

Ketika cinta kita bermuara sama
Kesenyapan bukanlah kehampaan
Bertemunya kita menyamakan
Berpisahnya kita menggenapkan
Bukan cinta kita yang menghilangkan segala hambatan
Tetapi cinta kita kepadaNyalah yang memudahkan
Genggamlah tanganku untuk bisa
Menggenggam lebih erat cinta kita kepadaNya

MENJAGA ADAB



Suatu hari ada anak seusia SD, putri, datang ke apotek membeli tablet hisap vitamin C. Ketika dia sudah menerima vitamin yang diinginkannya, dia memberikan uang dengan cara melemparkannya. Kebetulan kejadian itu kulihat langsung, secara reflek kuambil uang itu, sambil berkata, “Bukan begitu cara memberi uang, coba diulangi, berikan dengan baik”.

Sesaat anak itu terperangah, kemudian dia mengambil uang itu lagi dan mengulangi memberikannya, sambil berkata, “nggih Bu”.

Saya bukan orangtua yang nyinyir, yang sedikit-sedikit ngomel tetapi melihat kejadian seperti itu, tidak rela bener deh. Bukan karena tersinggung, tetapi tidak rela ada anak bersikap tidak sopan, kok tidak diberitahu yang benar bagaimana. Paling tidak berharap diriku ikut peduli terhadap kebaikan prilaku seorang anak. Meski aku tidak mengenalnya.

Mudah-mudahan teguranku itu bermanfaat buat anak tersebut