Senin, 10 Agustus 2015

SEHAT ITU NIKMAT

Malam itu, ada panggilan telpon masuk di apotek. Terdengar suara yang lemah di ujung telpon:
"Mbak, gadhah obat penghilang nyeri sing warnane oranye mboten?
"Obate jenenge nopo mbak?"
"Niku obat penghilang nyeri sing ngga loro kanker koyo kula, nek ngombe obat niku langsung mari mbak?"
"Wonten resepe mboten?"
"Mboten enten, enten mboten mbak? Nek wonten mbok tulung diterke riki.."
 

Dan pembicaraan pun berulang-ulang, tanpa ada nama obat yang dia sebutkan.
Dia ingin aku mengerti apa obat yang dia maksud, untuk bisa mengurangi rasa sakit yang dideritanya.
Aku tercenung, bisa memahami apa yang dia rasa sampai terlihat bingung seperti itu.
 

Tak lama berselang, datang suaminya. Membawa resep yang difotokopi.
Membaca resep yang dia bawa, langsung mahfum dengan kebingungan dan kekalutan penelfonku tadi. Sebuah resep analgetik golongan morphin , untuk pasien kanker terminal.
"Pak, obat niki mboten saged ditumbas tanpa resep dokter, jenengan kedah nyuwun resep kalih dokter ingkang ngrawat garwane", kula caosi penghilang nyeri sanese kangge sementara purun?"
"Wonten kok bu teng griyo".
 

Sepulang suaminya, aku masih termenung.
Mendadak aku merasakan tubuhku begitu ringan, jika kelelahan dan segala keluhan yang dirasa masih bisa hilang dengan tidur, tidaklah pantas untuk dikeluhkan sepertinya ya.
Sehat memang nikmat yang banyak orang tak menyadarinya.

Selasa, 24 Maret 2015

KEBAIKAN

Dulu saat kontrak rumah di daerah utara ring road utara, Sleman. Kala itu belum seramai sekarang. Ada simbah yang jadi tetangga samping rumah. Meski sudah tua, beliau masih rajin ke kebun untuk menanam sayuran atau memetik daun pisang untuk dijual di pasar. Kadang simbah itu menawariku sayurannya,"Kerso nyayur kacang panjang mboten bu?".
Ketika kuiyakan penawarannya, maka dia tidak hanya memberiku kacang panjang tetapi juga lombok dan kelapa. Lengkap untuk menjadi sebuah masakan.
Ketulusannya sungguh mengharukan dan mengajariku untuk berbuat baik tak harus menunggu punya harta berlebih.
Kemarin, ada seorang teman, jauh lebih muda dariku, menawariku daun singkong. Sayuran kesukaanku. "Remen godong telo(daun singkong) mboten mbak"?.
Maka siang tadi sudah diantar ke rumah 1 ikat besar daun singkong dan juga 2 buah kelapa sudah dikupas, putih bersih. Padahal rumahnya tidaklah dekat.
Ya Allah, Segala Puji bagiMu, kejadian berulang meski dengan pelaku yang berbeda. Beda usia, beda daerah, tetapi kebaikan yang mereka berikan bisa sama.
Ya Allah...hindarkanlah kami dari sifat bakhil dan jadikan kami orang yang bisa bersyukur kepadaMu dan kepada orang yang berbuat baik kepada kami.

KESETIAAN

Seorang ibu sudah cukup tua setiap hari berjalan tertatih-tatih lewat di depan apotek. Dengan langkah sedikit timpang dia menempuh hampir 4 km perjalanan, pulang pergi setiap harinya. Mak'e begitu biasa dipanggil adalah pembantu dari salah seorang tetanggaku. Setiap hari dia pulang pergi menempuh jarak sejauh itu dengan kontur jalan naik turun selama puluhan tahun. Sebuah ketekunan, kesungguhan dan kesetiaan yang luar biasa.
Sore itu ditengah hujan deras yang mengguyur, kulihat dia berjalan dengan langkah tertatih-tatihnya mengenakkan jas hujan tipis. Berjalan pelan-pelan menembus hujan, tak tahu jam berapa dia akan sampai rumah.
Aku tersadarkan melihat pemandangan itu, betapa kesetiaannya, ketekunannya menetapi pekerjaannya telah mengundang kekuatan yang luar biasa yang membuat dia mampu untuk menjalaninya selama bertahun-tahun. Kesetiaannya pada majikan dan keluarganya membuat dia mampu untuk mondar mandir sejauh itu.
Bolehjadi dia memang tidak punya banyak pilihan karena keterbatasn kemampuannya. Tetapi bukankah banyak orang yang sebenarnya Allah beri banyak kelebihan menjadi terlihat lemah karena tidak sabar menjalani proses? Sehingga mudah beralih perhatian hanya karena melihat seolah pilihan yang lain lebih menjanjikan? Terlihat lemah karena pada akhirnya orang sperti itu tidak menghasilkan apa-apa selain keluhan saja. Banyak orang tidak sabar menjalani proses, tidak tekun sampai mendapatkan hasil yang diharapkan.
Kesetiaan dan ketekunan akan mengundang kekuatan yang tak terbayangkan, meski tertatih-tatih, Allah akan mampukan kita. Insya Allah.

Rabu, 18 Maret 2015

IRONI

Kukenal dia sejak ia masih SMA. Saat awal aku mulai tinggal di Kulon Progo. Di antara saudaranya ia memang tak secantik dan sepintar adik-adiknya. Tetapi ia rajin bekerja dan sangat ramah.
Selang beberapa tahun kemudian, dia mengabari kalau sudah menikah dan kerja di batam.
Ketika Apotekku mulai buka, dia datang menemuiku dan bercerita kalau sudah tidak kerja di batam. Kembali ke daerah asal suaminya dan merawat ibu mertuanya yang sudah sakit-sakitan. Dia bersama suaminya membuka usaha jualan rujak es krim.
"Dijual kemana?",tanyaku.
"Bojoku kula mubeng mbak, terus kula dodol teng omah, sering angsal pesenan ngge manten-manten. Alhamdulillah mbak", ceritanya padaku.
Sepertinya rezekinya memang bagus, melihat ceritanya bagaimana dia merawat ibu mertuanya, membawanya berobat kesana kemari. Jelas itu butuh biaya banyak. Atau mungkin bakti mereka pada ibunya yang meluaskan rezqinya. Sepertinya begitu.
Sayangnya saat ibu mertuanya meninggal, dia tidak memberi kabar.
Sore itu dia kembali datang ke apotek, cerita ke sana kemari. Sampai akhirnya dia cerita mau ke rumah ibunya, mengirim uang untuk membantu adiknya.
"Adikmu isih kuliah, adikmu sing endi?".
"Sing ragil mbak, pun lulus kuliah(dia menyebut sebuah universitas swasta ternama di yogyakarta) sakniki kerja teng kantor lingkungan hidup".
"Adikmu wis sarjana tur kerjo kok isih mbok ewangi?".
"Dheke niku kan sarjanane sanes lingkungan hidup, ajeng ndherek pelatihan teng UGM mbayar 5 jt".
Kutatap sinar ketulusan di dalam matanya. Ya Allah moga Kau luaskan rizqinya.
Malam hari, aku cerita ke suamiku.
"Kok aneh yo pakde, mosok adine sarjana njaluk tulung karo mbakyune sing dodolan rujak eskrim?".
"Yo ngono kui budhe masyarakate dewe, neng kantor ki ana PNS nyilih duit karo pegawai honorer"
Memprihatinkan bukan.? Ketika kemandirian dan menjaga ifaf(kehormatan diri)  untuk tidak meminta tolong/merepotkan orang lain tidak dipunyai oleh orang-orang yang seharusnya lebih berkewajiban untuk menolong orang lain. Bukankah dia sudah diberi lebih oleh Allah?

Rabu, 25 Februari 2015

REZQI DARI ALLAH

Pagi itu selepas subuh kami boncengan pergi ke pantai. Hanya butuh waktu 30-45 menit kami sudah sampai di pantai Trisik. Hal yang dulu sering kami lakukan, menghirup segarnya udara pagi di pantai, duduk sebentar menikmati deburan ombak sambil minum teh panas yang kami bawa dari rumah dengan sebuah termos kecil. Tak perlu banyak persiapan, waktu dan biaya. Nikmat bukan?
Di pantai sudah ada sepasang suami istri, mereka sudah minum the dan makan bekal mereka. Asyiknya mereka berdua naik sepeda.
"Nek aku numpak sepeda piye yo mas?", kataku.
"Paling yo ra tekan", jawab suamiku ringan.
Hi hi hi ya iyalah, naik sepeda sebentar saja sudah ngos-ngosan.
Ada beberapa bapak-bapak yang berjalan menyisiri pantai sambil menggenggam jala. Mereka adalah penduduk desa, yang bertani di pinggir pantai dan mencari tambahan penghasilan dengan menjala ikan. Jala ditebar di laut kemudian dia berjalan menyisir pantai mengikuti jala yang terbawa ombak
Suamiku mengajak untuk mengikuti bapak itu. "Nanti kita beli ikan hasil tangkapannya".
Sambil mengamati bapak itu, " Kok bisa ya di laut seluas ini dengan arus sederas itu ada ikan nyangkut di jala," aku berkata dengan takjub.
Tak lama kemudian jala ditarik, terlihat beberapa ekor ikan Surung besar dan kecil, ikan layur, dan seperti ikan kembung, ada sekitar 10-an ekor ikan. Tidak banyak ya, padahal sepertinya berat.
"Kula tumbase pak iwakke, pinten?", kataku.
Sejenak bapak itu menghitung-hitung,"35 ewu mawon bu".
Kubeli ikan itu tanpa kutawar lagi. Tiga puluh lima ribu untuk seikat ikan, fresh from the sea.
Masya Allah, beginilah Allah mengatur pembagian rizqi untuk hamba-hambaNya. Ikan untukku dan 35 rb untuk bapak itu. Alhamdulillah

BEBAN PERASAAN

Terkadang hidup terasa sulit untuk dijalani.
Bukan hanya karena beratnya persoalan atau kesulitan yang ditemui tetapi juga karena beratnya beban perasaan yang harus ditanggung.
Beban perasaan adalah penderitaan yang tak terlihat. Bisa jadi dari luar seperti tak kurang suatu apa-apa tetapi siapa yang tahu di dalam hati apa yang dirasa?
Hidup memang hanya sementara, dan dalam masa yang sementara itulah manusia menerima banyak ujian.
Bukankah kesedihan adalah ujian?
Bukankah tersakiti juga ujian?
Rasa marah dan juga direndahkan adalah ujian?
Adakah semua perasaan itu bisa menjadi kebaikan buat kita jika apa yang kita rasa semuanya kita ungkapkan dan lampiaskan?
Kesedihan akan berbuah pahala manakala kita bisa tetap berharap akan rahmatNya dan yakin akan pertolongan Allah saat kesedihan melanda.
Rasa sakit tak akan lama jika kita bisa memaafkan dan berlonggar hati.
Menahan kemarahan meski bisa melampiaskan akan berbuah kemulian hidup dan ketenangan jiwa.
Maka saat-saat sulit dalam mengendalikan perasaan akan bisa terlewati dengan sabar dan bertaqwa kepada Allah subhana wa ta'alaa. Yang menyakini apa-apa yang disisiNya lebih baik dan kekal.

SABAR DAN SYUKUR

Kadang saat seseorang tertimpa musibah atau sedang punya masalah. Kemudian dihibur temannya,"Yang sabar ya", atau kata-kata semisalnya.
Malah dijawab dengan nada ketus,"dirimu tidak merasakan apa yang kurasakan", "nek meng omong gampang". Ataupun jawaban-jawaban semisal, yang bukan hanya tidak membantu dirinya tetapi juga kadang malah membuat orang lain tidak jadi membantunya.
Seseorang kadang tidak menyadari hadirnya teman yang menghiburnya dengan kata-kata yang baik dan menghibur, menentramkan adalah bagian dari pertolongan Allah untuknya. Sebuah nikmat, sebuah anugerah.
Karena banyak orang yang saat tertimpa musibah, orang yang ada di dekatnya malah bersikap cuek jangankan membantu menghiburpun tidak,
terkadang malah ada yangsenang melihat orang lain susah atau menyalah-nyalahkan dan mencela sembari menuduh dengan tuduhan yang kadang lebih menyakitkan dari musibah itu sendiri.
Maka bersabar dalam musibah tak akan bisa tanpa diiringi rasa syukur. Sabar dan syukur bagaikan 2 keping mata uang. Tidak akan bisa sabar orang yang tidak bersyukur, tak akan bisa syukur orang yang tidak sabar.
Bukankah tidak ada yang bisa meringankan beban yang diderita selain sabar?
Semoga saudara-saudara yang sedang tertimpa musibah diringankan penderitaannya, diberi ketabahan, kekuatan dan kesabaran, diberi ganti yang lebih baik dan pahala yang besar di sisi Allah Ta'alaa dalam musibah yang terjadi.