Senin, 10 Agustus 2015

CINTA ITU MENYAMAKAN

Suatu pagi saat jalan-jalan, kami mampir ke sebuah warung nasi langganan para bikers. Warung itu sederhana saja, berdinding kayu, dengan beberapa kursi kayu dan ada juga amben kayu. Tidak banyak menu makanan yang ditawarkan, hanya ‘jangan tholo’dengan irisan lombok ijo dan ayam goreng bacem, sepertinya ayam kampung tapi bisa juga ayam petelur yang sudah tidak produktif, jadi seperti ayam kampung rasanya. Penjual warung itu sepasang suami istri yang sudah tua. Meski sederhana tetapi warung itu sangat ramai, banyak para bikers yang mampir setelah selesai menempuh rute-rute favorit mereka.
Seiring dengan kian banyak peminat olahraga bersepeda, daerah kulon progo terutama daerah di perbukitan menoreh menjadi lokasi favorit untuk bersepeda.
 

Di warung itu kami menjumpai sepasang suami istri yang tengah beristirahat setelah bersepeda. Usianya sekitar 40 tahunan. Bapak itu bercerita kalo mereka baru saja bersepeda ke embung kleco, ngesong, girimulyo.
“Mandeg ping pinten pak?’tanyaku, karena kutahu daerah itu tanjakannya cukup tajam.
“Nggih ping kalih, ning seneng kula nek nyepeda teng daerah girimulyo mriki. Yen teng sermo pun bosen, mboten enten tantangane”jawab bapak itu.
 

Aku takjub sama istri bapak itu, kuat ya padahal daerah yang disebut bapak itu cukup tinggi. Bandingke sama diriku nyepeda ke pasar saja wis mengkis-mengkis. hi hi hi.
“Pun biasa bu, bojo kula riyin nggih mboten kuat ning kula ajak terus, sakniki nek prei mesti ngejak nggowes. Sakderenge nyepeda, sering sambat pegel-pegel. Bareng nyepeda awakke dadi seger, mboten tahu sambat malih”.
“Pendhak sabtu minggu nyepeda pak?”
“Nggih, pokoke pendhak prei mesti nggowes, prei tanggal abang 3 dinten nggih nggowes 3 dinten.
 

Wuiiih…contoh pasangan yang menemukan kesenangan bersama dalam hidup mereka, dan kesenangan inilah yang mendominasi hidup mereka sehari-hari. Aku tidak cukup kepo untuk menanyakan bagaimana anak-anak mereka.
 

Samanya kesenangan sepasang suami istri memang menjadikan hubungan suami istri itu makin dekat dan juga menjadikan kesenangan itu sendiri bisa terus dilakukan. Bisa dibayangkan jika salah satu pasangan itu tidak suka bersepeda bukan?
Maka bisa dimengerti bahwa cinta itu memang menyatukan, cinta itu menyamakan, cinta itu membuat seseorang berubah, cinta itu saling mempengaruhi.
Apakah cinta itu selalu membahagiakan?
Tergantung….atas dasar apa kita mencintai.

TIGA TAHUN BERJALAN

Sore itu saat ke panti kudapati 3 orang muridku sudah pulang setelah mereka menyelesaikan ujian SMK-nya. Mereka adalah murid-muridku yang pertama ketika aku mulai mengajar di panti ini. Awalnya panti asuhan muhammadiyah Tuksono ini hanya mendidik santri-santri laki-laki baru 3 tahun yang lalu mulai menerima santri perempuan.

Berarti sudah hampir 3 tahun aku mengajar, ikut mengasuh di sini. Waktu cepat sekali berlalu. Teringat saat awal keterlibatanku di sini. Waktu itu saya dan suami baru berangan-angan untuk bisa ikut terlibat dalam pengasuhan di panti ini, yang hanya berjarak 7 km dari rumahku. Tidak lama berselang suamiku ditemui oleh bapak pimpinan panti untuk meminta ibu mertuaku mengajar santri putri yang mulai diterima tahun ini. Ibu mertuaku pensiunan guru agama. Tetapi berhubung ibu sudah tidak bersedia, suamiku mengajukan driku. Maka jadilah aku mulai mengajar di sana.
 

Sebuah kebetulan yang jelas bukan kebetulan semata. Allah yang mengatur ini semua.
Terkadang apa yang kita inginkan,bahkan yang baru terbersit Allah bukakan jalan untuk itu. Maka penting untuk selalu menjaga niat dan usaha kita untuk selalu dalam koridor kebaikan agar tatkala Allah kabulkan menjadi berkah buat kita dan bukan sebaliknya.

MASA TUA YANG BAHAGIA

Dalam aktifitasku sehari-hari banyak berhubungan dengan ibu-ibu yang sudah sepuh. Di apotek, di rumah, saat nganter ibu, atau pas pengajian di masjid.
Asyik juga mengobrol dengan ibu-ibu sepuh ini, mengajaknya bicara, mendengar keluhannya meski berulang-ulang sekalipun, dan juga mendengar ceritanya.

Dari pembicaraan itu, aku belajar boso kromo lagi, belajar untuk bisa mendengarkan, mengatur volume dan kecepatan bicara dan mencoba untuk bisa memahami apa yang mereka sukai.
Meski bahan pembicaraan mereka tidak update, tetapi macam-macam juga topiknya, banyak yang bisa diambil pelajaran.
 

Waktu terus berjalan. Musim akan berganti. Suatu saat jika Allah izinkan, aku kan tua juga seperti mereka. Sungguh suatu nikmat jika bisa menikmati masa tua dengan bahagia, tenang dan tetap bisa beribadah.
"Allahumma matti'naa biasmaa'inaa wa absharina wa quwwatina ma ahyaitanaa waj'alhul waaritsa minna"
Ya Allah, anugerahkanlah kenikmatan kepada kami melalui pendengaran kami, penglihatan kami, dan dalam kekuatan kami selama kami masih hidup dan jadikan ia warisan dari kami.

SEHAT ITU NIKMAT

Malam itu, ada panggilan telpon masuk di apotek. Terdengar suara yang lemah di ujung telpon:
"Mbak, gadhah obat penghilang nyeri sing warnane oranye mboten?
"Obate jenenge nopo mbak?"
"Niku obat penghilang nyeri sing ngga loro kanker koyo kula, nek ngombe obat niku langsung mari mbak?"
"Wonten resepe mboten?"
"Mboten enten, enten mboten mbak? Nek wonten mbok tulung diterke riki.."
 

Dan pembicaraan pun berulang-ulang, tanpa ada nama obat yang dia sebutkan.
Dia ingin aku mengerti apa obat yang dia maksud, untuk bisa mengurangi rasa sakit yang dideritanya.
Aku tercenung, bisa memahami apa yang dia rasa sampai terlihat bingung seperti itu.
 

Tak lama berselang, datang suaminya. Membawa resep yang difotokopi.
Membaca resep yang dia bawa, langsung mahfum dengan kebingungan dan kekalutan penelfonku tadi. Sebuah resep analgetik golongan morphin , untuk pasien kanker terminal.
"Pak, obat niki mboten saged ditumbas tanpa resep dokter, jenengan kedah nyuwun resep kalih dokter ingkang ngrawat garwane", kula caosi penghilang nyeri sanese kangge sementara purun?"
"Wonten kok bu teng griyo".
 

Sepulang suaminya, aku masih termenung.
Mendadak aku merasakan tubuhku begitu ringan, jika kelelahan dan segala keluhan yang dirasa masih bisa hilang dengan tidur, tidaklah pantas untuk dikeluhkan sepertinya ya.
Sehat memang nikmat yang banyak orang tak menyadarinya.

Selasa, 24 Maret 2015

KEBAIKAN

Dulu saat kontrak rumah di daerah utara ring road utara, Sleman. Kala itu belum seramai sekarang. Ada simbah yang jadi tetangga samping rumah. Meski sudah tua, beliau masih rajin ke kebun untuk menanam sayuran atau memetik daun pisang untuk dijual di pasar. Kadang simbah itu menawariku sayurannya,"Kerso nyayur kacang panjang mboten bu?".
Ketika kuiyakan penawarannya, maka dia tidak hanya memberiku kacang panjang tetapi juga lombok dan kelapa. Lengkap untuk menjadi sebuah masakan.
Ketulusannya sungguh mengharukan dan mengajariku untuk berbuat baik tak harus menunggu punya harta berlebih.
Kemarin, ada seorang teman, jauh lebih muda dariku, menawariku daun singkong. Sayuran kesukaanku. "Remen godong telo(daun singkong) mboten mbak"?.
Maka siang tadi sudah diantar ke rumah 1 ikat besar daun singkong dan juga 2 buah kelapa sudah dikupas, putih bersih. Padahal rumahnya tidaklah dekat.
Ya Allah, Segala Puji bagiMu, kejadian berulang meski dengan pelaku yang berbeda. Beda usia, beda daerah, tetapi kebaikan yang mereka berikan bisa sama.
Ya Allah...hindarkanlah kami dari sifat bakhil dan jadikan kami orang yang bisa bersyukur kepadaMu dan kepada orang yang berbuat baik kepada kami.

KESETIAAN

Seorang ibu sudah cukup tua setiap hari berjalan tertatih-tatih lewat di depan apotek. Dengan langkah sedikit timpang dia menempuh hampir 4 km perjalanan, pulang pergi setiap harinya. Mak'e begitu biasa dipanggil adalah pembantu dari salah seorang tetanggaku. Setiap hari dia pulang pergi menempuh jarak sejauh itu dengan kontur jalan naik turun selama puluhan tahun. Sebuah ketekunan, kesungguhan dan kesetiaan yang luar biasa.
Sore itu ditengah hujan deras yang mengguyur, kulihat dia berjalan dengan langkah tertatih-tatihnya mengenakkan jas hujan tipis. Berjalan pelan-pelan menembus hujan, tak tahu jam berapa dia akan sampai rumah.
Aku tersadarkan melihat pemandangan itu, betapa kesetiaannya, ketekunannya menetapi pekerjaannya telah mengundang kekuatan yang luar biasa yang membuat dia mampu untuk menjalaninya selama bertahun-tahun. Kesetiaannya pada majikan dan keluarganya membuat dia mampu untuk mondar mandir sejauh itu.
Bolehjadi dia memang tidak punya banyak pilihan karena keterbatasn kemampuannya. Tetapi bukankah banyak orang yang sebenarnya Allah beri banyak kelebihan menjadi terlihat lemah karena tidak sabar menjalani proses? Sehingga mudah beralih perhatian hanya karena melihat seolah pilihan yang lain lebih menjanjikan? Terlihat lemah karena pada akhirnya orang sperti itu tidak menghasilkan apa-apa selain keluhan saja. Banyak orang tidak sabar menjalani proses, tidak tekun sampai mendapatkan hasil yang diharapkan.
Kesetiaan dan ketekunan akan mengundang kekuatan yang tak terbayangkan, meski tertatih-tatih, Allah akan mampukan kita. Insya Allah.

Rabu, 18 Maret 2015

IRONI

Kukenal dia sejak ia masih SMA. Saat awal aku mulai tinggal di Kulon Progo. Di antara saudaranya ia memang tak secantik dan sepintar adik-adiknya. Tetapi ia rajin bekerja dan sangat ramah.
Selang beberapa tahun kemudian, dia mengabari kalau sudah menikah dan kerja di batam.
Ketika Apotekku mulai buka, dia datang menemuiku dan bercerita kalau sudah tidak kerja di batam. Kembali ke daerah asal suaminya dan merawat ibu mertuanya yang sudah sakit-sakitan. Dia bersama suaminya membuka usaha jualan rujak es krim.
"Dijual kemana?",tanyaku.
"Bojoku kula mubeng mbak, terus kula dodol teng omah, sering angsal pesenan ngge manten-manten. Alhamdulillah mbak", ceritanya padaku.
Sepertinya rezekinya memang bagus, melihat ceritanya bagaimana dia merawat ibu mertuanya, membawanya berobat kesana kemari. Jelas itu butuh biaya banyak. Atau mungkin bakti mereka pada ibunya yang meluaskan rezqinya. Sepertinya begitu.
Sayangnya saat ibu mertuanya meninggal, dia tidak memberi kabar.
Sore itu dia kembali datang ke apotek, cerita ke sana kemari. Sampai akhirnya dia cerita mau ke rumah ibunya, mengirim uang untuk membantu adiknya.
"Adikmu isih kuliah, adikmu sing endi?".
"Sing ragil mbak, pun lulus kuliah(dia menyebut sebuah universitas swasta ternama di yogyakarta) sakniki kerja teng kantor lingkungan hidup".
"Adikmu wis sarjana tur kerjo kok isih mbok ewangi?".
"Dheke niku kan sarjanane sanes lingkungan hidup, ajeng ndherek pelatihan teng UGM mbayar 5 jt".
Kutatap sinar ketulusan di dalam matanya. Ya Allah moga Kau luaskan rizqinya.
Malam hari, aku cerita ke suamiku.
"Kok aneh yo pakde, mosok adine sarjana njaluk tulung karo mbakyune sing dodolan rujak eskrim?".
"Yo ngono kui budhe masyarakate dewe, neng kantor ki ana PNS nyilih duit karo pegawai honorer"
Memprihatinkan bukan.? Ketika kemandirian dan menjaga ifaf(kehormatan diri)  untuk tidak meminta tolong/merepotkan orang lain tidak dipunyai oleh orang-orang yang seharusnya lebih berkewajiban untuk menolong orang lain. Bukankah dia sudah diberi lebih oleh Allah?