Rabu, 23 Desember 2015

MENGHILANGKAN KESEDIHAN

Saat melewati sebuah tempat yang menjadi bagian masa laluku, tiba-tiba hatiku sesak dan mataku mulai berkabut.

Ah…tiba-tiba saja kesedihan melanda, terbayang kembali masa-masa yang berat di kehidupanku, saat-saat ketika air mata ini banyak tertumpah.

Sebagiannya kulewati di tempat itu.

Beruntungnya aku segera tersadar dan tidak meneruskan lamunan kesedihanku itu.
Bukankah itu semua sudah terlewati?
Bukankah saat masa itu kulewati juga aku masih bisa tersenyum dan tetap merasakan kebahagiaan meski begitu banyak persoalan yang harus kuhadapi?
Astaghfirullahal adzim.

Setiap orang pasti pernah melewati masa-masa yang berat dalam hidupnya.
Sebagai proses pendewasaan dirinya agar kita menjadi manusia yang semakin baik dari hari ke harinya. Sebagai ujian dari Allah Subhana wa Ta’alaa untuk melihat seberapa besar keyakinan kita akan pertolonganNya.

Maka ujian-ujian itu sesungguhnya adalah jalan bagi kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dan asbab berlimpahnya rahmat dan kasih sayangNya saat kita sabar dan menerima semua yang terjadi pada kita.

Mengeluh dan bersedih berlebihan selain hanya akan memperpanjang penderitaan juga menghilangkan hikmah dan pahala yang Allah sediakan.

Jangan bebani diri sendiri dengan kesedihan masa lalu.

 اللهم إني أعوذبك من الهم والحزن

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa susah dan duka

DARI MBAH KEBO HINGGA MBAH CEMPLUNG

Hari libur pilkada serentak kemarin, kami berkesempatan untuk sarapan di warung makan mbah Cemplung,Kasihan Bantul, warung makan yang menyediakan ayam goreng kampung ini sudah terkenal seantero jagad. Paling tidak di jagad fesbuk, saking seringnya lihat foto orang makan di Mbah Cemplung.

Sudah berasa orang kaya saja ni, sarapan saja menyempatkan diri pergi ke tempat makan terkenal. Hi hi hi

Sebenarnya sih, awal gak ada niat ke sana. Pagi hari itu kami, aku dan suamiku dan ponakan-ponakanku, ibu dan adik iparku, rombongan pokoke, cuman berniat ke pantai Baru yang hanya berjarak 45 menit perjalanan. Mumpung libur, menghirup udara segar dan bisa pesan makanan ikan goreng/bakar kemudian makan di pinggir pantai dengan harga murah meriah. Teapi rupanya pilkada serentak memepengaruhi situasi di sana, pantai yang bisanya di pagi hari sudah rame orang yang jualan makanan, mendadak sepii…tidak ada warung yang buka. Kebetulan saja Kulon Progo tidak menyelenggarakan pilkada tahun ini, jadi kami tidak punya tanggungan untuk memilih.

Akhirnya kami memutuskan untuk ke mbah Cemplung itu saja. Meski orang yogya tapi terus terang belum pernah ke sana, dan tidak tahu tempatnya. Dibantu google maps sampailah kami di sana. Meski agak ndhelik tetapi terlihat kalo tempat ini rame dikunjungi. Ayam kampung goreng dengan bumbu, cita rasa dan suasana tradisional memang jadi daya tarik sendiri.
Mungkin Mbah Cemplung tidak akan pernah menyangka usaha ayam gorengnya bisa melegenda seperti sekarang ini, tren berburu tempat kuliner sebagai gaya hidup kekinian didukung media sosial yang sangat masif menjadi berkah tersendiri bagi usaha kuliner tertentu.

Di Kulon Progo juga ada warung makan yang mulai melegenda walau warung makannya masih sangat sederhana, adalah warung makan Mbah Kebo. Menunya juga sederhana, ayam goreng, entah ayam goreng kampung atau ayam petelur yang sudah tua yang biasanya sudah mirip ayam kampung juga, dan sayur tholo dengan Lombok ijo. Warung itu selalu rame( baru beberapa kali ke sana sih, kabarnya begitu). Selain para bikers, banyak juga pasangan muda yang menyempatkan diri ke sana. Konon dulu makan di mbah kebo itu murah sekali, tetapi semenjak rame, harganya jadi lebih mahal.
Bedanya di mbah Kebo yang jual masih simbahnya sendiri, warungnyapun belum ditata. Jika saja anak cucunya Mbah Kebo sedikit lebih peka, maka warung itu bisa dikembangkan dan menjadi legenda kuliner yang banyak dicari oleh para penikmat kuliner, mumpung jamannya masih mendukung.

Dari warung mbah Cemplung hingga warung mbah Kebo sesungguhnya memperlihatkan bahwa rezqi itu benar-benar Allah yang atur. Apakah Mbah Kebo itu pasang status di fesbuk ? Jelas tidak, tapi warungnya terkenal tanpa dia berusaha untuk memperkenalkannya, demikian juga mbah Cemplung. Dia dapat promosi gratis dari kesukaan orang-orang untuk narsis di tempat-tempat yang dikunjunginya. Dan itulah rizqi yang Allah berikan buat mereka.

Maka berusaha memang tidak hanya butuh kerja keras, tetapi juga ketekunan dan keyakinan bahwa Allah-lah yang mengatur rizqi kita. JIka Allah berkehendak maka sangat mudah bagiNya untuk membuka pintu-pintu rizqi buat kita.
Dan saat-saat pintu rizqi itu sudah terbuka, mestinya kita paham dari siapakah rizqi ini datangnya dan apakah kewajiban kita terhadap Allah, Yang Maha Pemberi Rizqi.

Senin, 10 Agustus 2015

SEDERHANA ITU BERKAH

Sebuah pelajaran yang mengesankan tentang gaya hidup kutemui pagi tadi saat kami mengunjungi salah seorang teman haji suamiku.
Teman yang kami kunjungi tadi tinggal di pagerharjo, kecamatan samigaluh, kabupaten Kulon Progo. Samigaluh adalah kecamatan di kulonprogo yang terletak di perbukitan menoreh dengan ketinggian lebih dari 500 dpl. Berbatasan dengan kabupaten magelang dan purworejo.
Hampir 1 jam lamanya waktu yang kami butuhkan untuk sampai ke sana. Melewati jalan-jalan sempit yang menanjak tajam, berkelok-kelok dengan kiri kanan jalan lembah yang dalam selalu membuatku bersyukur Allah takdirkan diriku sejak kecil hingga saat ini di daerah yang mudah terjangkau. Sebuah rumah berlantai 2 menyambut kami.
 

Mungkin ada yang mengira teman suamiku tadi adalah petani sukses, orang yang berkecukupan tetapi milih tinggal di desa, pelosok gunung. Di sinilah yang menarik, karena teman tadi bekerja di perusahaan pertambangan asing. Setiap bulannya bertugas di berbagai negara berganti-ganti. Dia punya rumah di jakarta dan di kalimantan, asal istrinya. Tetapi dia memilih tinggal di samigaluh, kulon progo. Bersama istri dan anak-anaknya menemani ibunya dan mereka masih muda, selisih 2 tahunan dari kami.
"Saya gak betah tinggal di jakarta mas, enak tinggal di sini. Kalau pas pulang ke rumah, sesekali pergi ke kebun juga, ngge tombo kangen".
"Kalo pas bapak pergi, saya di rumah saja, tidak ke mana-mana. Baru kalo bapak pulang, mengajak pergi baru saya pergi"tambah istrinya.
 

Pembawaannya yang rendah hati dan ramah sangat mengesankan. Betapa harta yang berlimpah tak merubah sifat mereka. Kesempatan untuk bersinggungan dengan pusat-pusat kemewahan dunia tak menyilaukan mereka.
Betapa tenang dan tenteram orang-orang yang Allah beri dengan sifat qanaah, merasa cukup dan menyederhanakan hidup mereka. Kekayaan mereka tidak terlihat dari apa yang nampak pada diri mereka tetapi apa yang terpancar dari hati mereka.
Semoga Allah melimpahkan rahmat dan barakahNya pada keluarga mereka dan menjadikan anak-anak mereka, menjadi anak-anak yang sholeh

LUGUNYA AKU

Lebaran kali ini aku berkesempatan untuk mengunjungi beberapa teman.
Saat bertemu dan mengobrol, ibu dari temanku itu berkata"jenengan ki kok lugu men to mbak?"
"Lugu pripun bu?"
"Nggih lugu....sederhana banget ngono lho jenengan ki"

Aku cuman ketawa mendengar komentar ibu temanku itu. Aku yakin ibu itu tidak berniat mengejekku dan aku pun tidak tersinggung dengan penilaiannya. Dibandingkan anaknya yang berpenampilan perfek dan fashionable, diriku yang tampil tanpa polesan make up dan perhiasan satupun mungkin memang terlihat begitu sederhana, atau bahkan seadanya.
Sebenarnya komentar seperti ini bukan pertama kuterima tetapi baru kali ini begitu to the point. Kasihan deh gue...he he he
 

Dalam hal penampilan, aku punya prinsip bahwa baju bagus itu tergantung pada kapstoknya. Artinya sebagus apapun penampilan yang akan menentukan keindahannya tetaplah kepribadian orang itu. Baju bagus tetapi wajah judes, susah senyum tetap tidak akan terlihat indah.
Tetapi rupanya aku kepedean, he he he
Kadang pernah tergoda juga untuk tampil sedikit bling-bling, biar terlihat sedikit gemerlap. Tetapi dihati gak nyaman, kikuk, dan seperti tidak menjadi diri sendiri. It is not me.
 

Pada akhirnya, aku memilih jujur pada diri sendiri. Selagi itu tidak menghilangkan nikmat Allah yang diberikan kepadaku, aku memilih untuk tampil sebagaimana adanya diriku selama ini.
Kadang kita memang harus mencoba untuk mengerti orang lain tetapi jika itu berkaitan dengan prinsip dan kepribadian kita maka tidak mengapa jika orang lain tidak mengerti dengan pilihan kita.

MENJAGA IFAF

Satu hal yang kuanggap penting untuk sering kupesankan pada anak-anak panti adalah agar mereka bersikap mandiri dan menjaga ifaf, menjaga kehormatan diri dengan tidak mudah meminta-minta pada orang lain.
Menerima pemberian terus menerus dari orang lain akan berpotensi terjatuh pada 2 keadaan, yang pertama menjadi tergantung pada pemberian orang lain, yang kedua menjadi rendah diri.
Dua keadaan yang tidak baik untuk perkembangan kepribadian mereka.

Seringkali kukatakan,"Menerima pemberian orang lain bukan hal yang memalukan, ditolong oleh orang lain juga bukan aib, tetapi selalu berharap akan pertolongan orang lain jelas bukan hal yang diajarkan oleh Rasulullah. Meminta-minta kepada manusia tidak akan mengantarkan pada kemuliaan. Rasulullah mengajarkan umatnya dalam kondisi apapun untuk menolong orang lain, meringankan beban orang lain. Sedang kesusahan kita berharaplah hanya kepada Allah.
Maka bersyukurlah kepada Allah saat kalian menerima kebaikan dan berterimakasih kepada orang yang berbuat baik pada kalian. Dan berharaplah suatu saat Allah mampukan kalian untuk menolong orang lain sebagaimana orang lain saat ini menolong kalian.
Banyak orang tak beranjak dari kehidupannya karena dia tak pernah punya cita-cita ingin menolong orang lain. Maunya orang lain menolongnya terus.
 

Di bulan Romadhon, saat begitu banyak orang memperhatikan mereka dan mengulurkan tangan mengasihi mereka, berharap pemberian itu melembutkan hati mereka. Menjadikan mereka bersyukur kepada Allah dan yakin Allah mengasihi mereka dibalik keterbatasan yang mereka punyai saat ini dan bukan sebaliknya.

BERBAGI KISAH HIDUP

Bertemu teman atau sahabat lama adalah sebuah kebahagian. Sekian tahun tak bertemu tak menjadikannya sebuah jarak yang membuat canggung. Langsung nyambung.

Beberapa dari mereka berbagi kisah hidup yang mereka alami. Persoalan hidup yang mereka alami hingga bagaimana mereka menyelesaikannya.Apa yang mereka ceritakan hampir semua membuat mulutku menganga. Masya Allah, sungguh kutaktahu bagaimana jadinya jika aku yang mengalaminya. Setiap orang memang punya jalan hidup masing-masing, dan setiap manusia akan diuji sesuai kadar kemampuannya.
 

Berbagi kisah hidup dan mengambil hikmah darinya akan sampai pada kesimpulan bahwa tidaklah pantas mengirikan hidup orang lain. Apa yang Allah berikan adalah yang terbaik, Allah sudah mengukur kekuatan kita. Maka bersyukurlah dan berbahagialah dengan yang Allah beri. Bersyukur ketika kita berhasil melewati ujianNya. Seberat apapun masalah tidak lagi membebani ketika masalah itu sudah ada di belakang kita, yang tersisa adalah rasa syukur atas besarnya nikmat dan pertolongan Allah sesudahnya.
 

Tanpa harus membuka kembali buku harianku, masih kuingat saat lembaran-lembaran itu penuh air mata. Yang seandainya kuceritakan bisa jadi juga membuat mulut menganga orang yang mendengarkannya. Dan begitu mudahnya Allah menghapus semua itu.

MENGELOLA MASALAH

Beberapa waktu yang lalu, aku menjelaskan bagaimana mengelola masalah ke anak-anak Panti. Cepat atau lambat mereka akan mulai menemui masalah dalam kehidupan mereka, seiring dengan bertambahnya usia dan tanggungjawab mereka. Adanya remaja yang kabur dari rumah atau bahkan bunuh diri hanya karena putus cinta adalah contoh nyata dari ketidakmampuan remaja dalam mengelola masalah mereka. Maka kurasa penting untuk membekali mereka bagaimana menghadapi masalah,sebagai sebuah ketrampilan untuk hidup. Karena orang yang bahagia itu bukannya orang yang tidak pernah punya masalah, tetapi orang yang bisa mengatasi masalah mereka, dan bisa mengambil hikmah dari masalah itu menjadi sesuatu yang membawa kebaikan buat mereka.
 

Pada waktu itu kukatakan pada mereka,”Masalah itu bagai matahari. Dia akan ada selama kehidupan ini ada. Kemanapun kalian akan menghindar, bersembunyi, matahari itu tetap ada di sana. Akan tetapi kalian bisa memanfaatkan matahari itu kebaikan kalian, dan kalian juga bisa melakukan usaha-usaha agar panasnya matahari tidak merugikan kita. Maka hadapi masalah yang kalian hadapi, jangan menghindar. Jika kalian lari atau menghindar, maka masalah itu akan tetap ada”.
 

Malam harinya, kupikir-pikir benar tidak ya perumpamaanku tadi? Sepertinya kok rada-rada tidak nyambung ?