Jumat, 14 Maret 2014

ITUKAH KITA ?



Sholat tak sepenuhnya tertegakkan
Doapun terucap dalam ketergesaan
Dzikir hanya menempel di lesan saja
Akan terus seperti itukah kita?
Berlomba mengejar karuniaNya
Sembari berharap Allah mengerti kesibukan kita
Memaafkan sesukanya kita menghamba
Benar karuniaNya mendahului murkaNya
Tapi....
Akan terus seperti itukah kita?

QANAAH

"Apapun yang anda inginkan, mungkinkan"demikian Mario Teguh dalam acara Golden ways. Sangat mengesankan gaya pak Mario Teguh saat mengucapkan kalimat tersebut.
Tapi betulkah tidak ada yang tidak mungkin? Bagi kita, jelas amat banyak yang tidak mungkin.
Mungkinkah yang kita inginkan dan tercapai ternyata tidak baik untuk kita? Sangat mungkin juga.

Lalu?
Boleh saja kita punya keinginan, berusaha keras untuk mewujudkannya tetapi iringi dengan doa sesudahnya.
“Ya Allah, jadikanlah aku merasa qana’ah (merasa cukup, puas, rela) terhadap apa yang telah engkau rezeqikan kepadaku, dan berikanlah barakah kepadaku di dalamnya, dan jadikanlah bagiku semua yang hilang dariku dengan yang lebih baik.” (HR. Al-Hakim).

Karena kebahagian bukan pada seberapa banyak keinginan kita yang terpenuhi tetapi bagaimana sikap kita menerima apa yang sampai pada kita.

Selasa, 18 Februari 2014

HIDAYAH

Beberapa hari yang lalu banyak orang mengeluh karena curah hujan di yogyakarta begitu deras.
Hanya dalam hitungan hari Allah mengganti hujan air dengan hujan abu.
Maka orang baru menyadari betapa besar dan nikmatnya hujan itu.

Demikian pulalah dengan hidayah yang Allah berikan di dada manusia.
Hidayah Allah bisa menghilangkan kesumpekan dari abu-abu yang mengotori hati manusia.
Tetapi sebagaimana hujan, banyak orang yang juga tidak menyadari dan menyia-nyiakan hidayah Allah tersebut.

Moga kita terhindar dari menyesali telah menyia-nyiakan hidayah Allah di hari saat semua orang menyadari betapa berharganya hidayah Allah itu

IKATAN BATIN IBU DAN ANAK



Wanita muda itu kudapati tengah duduk termenung di kursi kayu depan rumahnya.
Wajahnya murung, dan matanya berduka, tapi dia diam saja.
Wanita itu memang tak pandai mengekspresikan perasaannya, bicaranya kacau kebalik-kebalik subyek predikatnya, perlu waktu cukup lama untuk memahami kata-katanya.

Saat kutanya,"kamu kenapa?"
"Simbahku meninggal budhe, yang merawatku dulu sejak kecil".

Aku paham kesedihannya, suaminya yang kerja serabutan tentu saja tak cukup punya uang untuk mengantar istrinya pulang di suatu kabupaten di jawa barat sana, meski untuk melayat nenek yang merawat istrinya waktu kecil.

Yang menakjubkan adalah anak perempuannya yang masih berusia 3 tahun, yang juga belum fasih bicara, duduk di sampingnya, ikut termenung diam saja. Diajak main tidak mau, diberi makanan juga tidak mau.
Seakan mengerti kesedihan ibunya, dia duduk diam menemani ibunya, tak bergerak.
Entah sampai berapa lama ibu dan anak itu dalam posisi seperti itu.

Terenyuh aku melihatnya, betapa kedekatan ibu dan anak dalam bentuk yang sangat murni tampak di keduanya. Suatu fitrah yang Allah berikan, ikatan batin ibu dan anak yang hadir tanpa rekayasa.

Kejadian itu sudah cukup lama, tetapi masih kuingat dengan jelas ekspresinya.
Hubungan batin ibu-anak memang sangat menakjubkan, sayang banyak orang tak menyadarinya meski berkesempatan merasakan

Kamis, 23 Januari 2014

SAAT SEMANGAT SURUT

Bagaimanalah diri merasa hebat jika gerimis saja tak berani menembus.
Bagaimanalah merasa tangguh jika hawa dingin saja membuat tekad menjadi surut.
Jika diri ini terlihat hebat sesungguhnya hanya kesempatan yang Allah berikan untuk lebih banyak beramal sholih.
Jika diri ini masih nampak terpuji, karena Allah inginkan kita untuk banyak bertobat dengan menutupi aib-aib kita
Maka sadarilah kelemahan diri
Manfaatkan kesempatan yang Allah luaskan
Jika waktu yang diberi tak menjadikan kita makin dekat dan taat kepada Allah Pemilik Waktu
Di mana rasa syukur itu?

DOA

Saat sakit dalam jangka waktu cukup lama, ketika tak tahu kapan kesembuhan itu datang. Doa senantasa kupanjatkan siang dan malam memohon kesembuhan, hingga kadang sampai tertidur.
Allahummasyfi'li,
Ya....Alah sembuhkanlah aku.
Kuulang-ulang doa itu entah keberapa ribu kali dengan satu keyakinan Allah mendengar doaku.
Hingga kesembuhan itu datang, dan aku tidak ingat kapan doa itu berhenti kuucapkan .
Satu pelajaran penting akan pentingnya doa, kekuatan doa dan keyakinan akan doa itu menjadikan Allah ringankan ujian yang diterima.
Allah maha Kuasa untuk mengabulkan doa kita dalam hitungan detik sekalipun, akan tetapi karena keadilan dan Kasih sayangNya-lah doa itu dikabulkan pada waktu yang ditentukanNya.
Maka teruslah berdoa untuk kebahagiaan kita di dunia dan akhirat, teruslah berdoa untuk kebaikan yang kita harapkan.
Jangan lelah berdoa dan jangan putus asa.
Tak akan menyesal meminta pada Allah..
Tak akan menyesal bersandar kepada Allah...

Senin, 20 Januari 2014

KENANGAN HAJI 2

Ketika kami menjalankan ibadah haji tahun 2008, pondokan kami berada di Syauqiyyah, sebuah pemukiman penduduk di pinggiran kota mekah. Jarak ke masjidil Haram "hanya" 14 km saja.
Jarak yang jauh dan transportasi yang sulit dan tidak memadai membuat jamaah terutama yang sepuh-sepuh tidak bisa mandiri untuk pergi ke Masjidil Haram. Bapak/ibu yang sepuh menunggu ada jamaah yang berusia muda baru kemudian ikut berangkat ke masjidil Haram.Suamiku termasuk favorit untuk diikuti, jadinya kami selalu pergi berombongan dan tak pernah bisa pergi berdua saja.
Suatu saat kami merencanakan pergi berdua saja. Jam 2 malam, suamiku membangunkanku, karena jamaah putri dan putra di kamar terpisah. Dalam gelap dan diam-diam aku bersiap-siap dan meninggalkan kamar dengan berpamitan pada satu jamaah yang kebetulan terbangun.
Pelarian kami sukses dan kami berhasil pergi berdua. Dalam. perjalanan kami berpandangan, dan perasaan kami sama, rasanya seperti pacaran diam-diam  Rasa senang, campur perasaan bersalah, fan malu juga karena mementingkan diri sendiri . Padahal wajar saja bukan jika kami pengin berdua? Perjalanan ke tanah suci adalah perjalanan istimewa dan kami ingin punya momen khusus.
Tapi situasi dan kondisi memang memberikan yang lain buat kami dan itu tidak sebagaimana yang kami bayangkan.
Selesai sholat subuh, kami jalan-jalan sampai ke Ma'la, di sana kami beli kurma segar yang kebetulan kami temui umtuk menebus perasaan bersalah kami, bene lho rumangsa salah meninggalkan orang-orang tua yang tidak bisa bepergian sendiri.
Sesampainya kembali ke pondokan, sambil malu-malu kami minta maaf telah pergi tidak ajak-ajak. Ada yang menyesalkan sebagian besar maklum. Namanya juga masih muda.
Setelah itu kami dengan sukatela pergi bersama dengan bapak/ibu berapapun jumlahnya meski untuk itu harus rela menungguin atau berjalan lambat agar tidak ada yang terpisah.
Satu pelajaran penting dari pelarian kami adalah ternyata tidak enak msmentngkan keinginan sendiri dengan mengabaikan kepentingan orang-orang tua yang membutuhkan keberdamsan kita.
Dan rupanya itu berlaku juga setelah kembali ke tanah air, dalam kehidupan sehari-sehari kita.