Tampilkan postingan dengan label Sekitar kali progo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekitar kali progo. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 April 2016

TIADA TEMPAT KEMBALI

Sore itu suasana sepi, masih ada sisa-sisa air hujan yang nampak di halaman dan jalan. Masuk ke apotek seorang laki-laki muda dengan baju, maaf kumal, beberapa nampak tambalan di celana dan bajunya. Meski nampak terlihat seperti gelandangan, kucoba untuk bersikap biasa dan tidak berprasangka buruk padanya.

Kusapa dia,"Perlu apa mas?

Pemuda itu, dari wajahnya seperti berasal dari indonesia timur menjawab dengan bahasa indonesia dengan suara yang sangat pelan.

"Ada Albothyl bu?"


Agak sangsi kuambilkan albothyl, bagaimanapun tetap saja sangsi apa tidak kemahalan buat dia.
Sambil mengangsurkan obat itu padanya, kutanyakan padanya," Memangnya kenapa mas?".

"Telinga saya sakit sekali, sampai sini-sini, "jawabnya sambil menunjuk daerah sekitar telinga.

"Oo...kalau itu bukan albothyl obatnya".

Kuambilkan obat tetes telinga dari dalam apotek, kemudian diberikan padanya.
"Pakai ini mas, diteteskan 3 tetes 3x sehari ke telinga yang sakit".
"Diteteskan di telinga?" tanyanya sangsi.
Kemudian dia membuka obat itu dan meneteskan di telinganya.
Setelah itu dia masih mengeluhkan sakit telinganya dengan suara pelan dan tak jelas. Lama--lama takut juga aku.

"Kalo masih sakit, ke puskesmas saja?"saranku
"Di sini bukan puskesmas?",tanyanya.
"Ya bukanlah, ini apotek".

Dia masih duduk beberapa saat, menggelengkan telinganya beberapa kali. Kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah keluar
.
Waduuh...bener-bener tidak bayar nih. Terus kulihat obat tetes telinga yang dipakainya tadi. Tanggung amat. Segera kuambil obat itu, dan kubuka pintu dan kupanggil pemuda tadi.
Saat dia mendekat, kuserahkan obat itu kembali.
"Pakai saja".
Pemuda itu menerima kembali obat itu dan pergi tanpa mengucapkan terima kasih.

Sambil melihatnya pergi, berharap obat itu mengurangi sakitnya. Bagaimanapun dia tidak berbuat jahat dan hanya meminta sebatas yang dia butuhkan.

Masih termangu, ada berapa orang seperti dia?

Terkadang yang menyedihkan bukan hanya melihat kepapaan seseorang tetapi bagaimana melihat seseorang hidup tanpa orientasi yang jelas, tanpa tujuan dan tanpa rumah yang menjadi tempat kembali.

Senin, 10 Agustus 2015

KAYA ITU DI SINI

Setiap kali jalan-jalan pagi menyusuri jalan desa sering bertemu dengan beberapa orang ibu-ibu, 3-5 orang, yang berjalan kaki dengan membawa bekal seadanya. Mereka adalah ibu-ibu buruh tani. Mereka berjalan kaki dari rumahnya menuju sawah yang akan mereka garap.
Setiap kali bertemu, kami gantian saling menyapa lebih dulu.

" Tindak bu?, jalan-jalan bu"?, begitu mereka biasa menyapaku.
Senyum mereka tulus, ikhlas. Meski kondisi yang mereka temui sangat berlawanan dengan yang mereka jalani sehari-hari.
 

Tanpa harus menampakkan yang kupunya, bersandal jepit sekalipun, nampak jelas aku lebih beruntung dari ibu-ibu itu, di pagi yang sama, sama-sama jalan kaki, tetapi mereka pergi untuk bekerja, memikul beban berat kehidupan mereka. Sedang aku? Jalan-jalan santai, bergandengan tangan, senyum sana senyum sini.
 

Ah...betapa mudahnya untuk merasa 'kaya', ketika kita menyadari begitu banyak kemudahan yang Allah beri, ketika kita bisa merasakan apa yang kita punya adalah nikmat dari Allah yang Maha Pemberi Rizqi.
Saat kita bisa melihat senyum tulus dari mereka yang Allah takdirkan 'kurang'dari kita, masih bisakah kita merasa bahwa kita lebih mulia dari mereka hanya karena kita lebih berharta?
Sesungguhnya Allah hanya melihat apa-apa yang ada di hati kita.
Wallahu'alam.

Senin, 18 Agustus 2014

KEBERSAMAAN YANG MAHAL



Salah satu murid pengajian remaja yang kuasuh pamit untuk meneruskan SMP di jakarta. "Disuruh ibu budhe," begitu dia bercerita.
Sejak kecil dia diasuh simbahnya, sedang ibu dan bapaknya kerja di jakarta. Bekerja sebagai buruh di ibukota bisa jadi tidak memungkinkan orangtuanya untuk mencari pengasuh anak untuk merawat anaknya ketika mereka bekerja, maka solusi paling mudah adalah menitipkan anaknya pada neneknya untuk diasuh.
Sangat wajar ketika si ibu berkeinginan untuk bisa bersama dengan anaknya ketika anaknya mulai besar.
Simbah muridku tadi rupanya tetap tidak sampai hati untuk melepas cucunya, bisa jadi dia khawatir keadaan cucunya karena toh bapak dan ibunya tetap bekerja dari pagi sampai sore, siapa yang mengawasi cucunya? Maka diapun ikut pindah ke jakarta.
 
Cerita menjadi mengharukan dan absurd bagiku ketika kutahu muridku itu punya adik yang sekarang baru masuk SD. Rupanya kakak beradik itu dititipkan pada simbahnya bersama buliknya. Dan sekarang adiknya itu tetap ditinggal untuk bersekolah di sini bersama buliknya.
 
Ya... Allah, betapa sulitnya mereka mencari uang, hingga penghasilan mereka takcukup untuk membeli kebersamaan dengan anak-anaknya.
 
Potret kehidupan buruh urban yang kurasa tidak cuman keluarga ini saja.
Berharap Allah menolong keluarga-keluarga senasib dengan mereka dengan memberi hidup dan kehidupan yang baik dan menjadikan anak -anak mereka menjadi anak yang sholih/sholihah,yang mandiri dan bertanggungjawab terhadap diri dan keluarganya.
Semoga Allah melindungi dan menjagamu, .

Senin, 19 Mei 2014

AYO BELAJAR 2



Beberapa hari yang lalu aku ngobrol dengan anak SMK yang baru selesai UN. Kala itu dia baru pulang training di sebuah pabrik. Kudengar kabar sebenarnya pengin kuliah tapi tidak didukung kedua orangtuanya.
Insting motivatorku menyala, he he he sedikit lebay rapopo to?

Ketika kuajak bicara tentang keinginannya kuliah dan hal-hal yang menjadi permasalahan buat dia, mendadak sedih aku jadinya.
Bukan karena kondisinya yang papa, keluarganya tidak miskin-miskin amat. Tetapi karena meski dia pengin kuliah, dia sama sekali tidak tahu jurusan apa saja yang bisa dipilihnya( di SMK jurusannya komputer jaringan)atau jurusan apa yang dia inginkan. Universitas mana yang bisa dituju bahkan SMPTN pun dia tidak tahu
Aduuh...duh...sedihnya melihat anak sekolah lulus pendidikan menengah tidak punya wawasan sama sekali untuk peningkatan kemampuan dirinya.
Saking sedihnya sampai tidak tega untuk menulis percakapanku dengannya.

Dia bukan anak yang bandel, kegiatannya cuman sekolah dan sekolahnya SMK negeri meski di kabupaten tetapi tidak pelosok juga.  Bagaimana dia bisa tidak tahu segala sesuatunya tentang perguruan tinggi. Padahal pengin kuliah, tetapi tak punya gambaran sama sekali.
Ketika kutanya,"Apa ora tahu dijelaske karo gurumu?"
"Mboten tahu budhe, kanca2 kula mboten enten sing pengin kuliah kabeh pengin kerja".
Jika SMK memang untuk menyiapkan mereka untuk punya ketrampilan sehingga langsung bisa masuk dunia kerja, tak pentingkah mengingatkan bahwa mereka harus tetap punya semangat menuntut ilmu?
Motivasi  untuk menambah ilmu alangkah baiknya disisipkan disela-sela semangat mereka untuk bekerja.  Tidak salah mereka bekerja di waktu muda, tetapi adalah salah jika merasa tak perlu  belajar ketika sudah bekerja.
Dalam kondisi apapun orang yang berilmu selalu lebih beruntung.

Selasa, 18 Februari 2014

IKATAN BATIN IBU DAN ANAK



Wanita muda itu kudapati tengah duduk termenung di kursi kayu depan rumahnya.
Wajahnya murung, dan matanya berduka, tapi dia diam saja.
Wanita itu memang tak pandai mengekspresikan perasaannya, bicaranya kacau kebalik-kebalik subyek predikatnya, perlu waktu cukup lama untuk memahami kata-katanya.

Saat kutanya,"kamu kenapa?"
"Simbahku meninggal budhe, yang merawatku dulu sejak kecil".

Aku paham kesedihannya, suaminya yang kerja serabutan tentu saja tak cukup punya uang untuk mengantar istrinya pulang di suatu kabupaten di jawa barat sana, meski untuk melayat nenek yang merawat istrinya waktu kecil.

Yang menakjubkan adalah anak perempuannya yang masih berusia 3 tahun, yang juga belum fasih bicara, duduk di sampingnya, ikut termenung diam saja. Diajak main tidak mau, diberi makanan juga tidak mau.
Seakan mengerti kesedihan ibunya, dia duduk diam menemani ibunya, tak bergerak.
Entah sampai berapa lama ibu dan anak itu dalam posisi seperti itu.

Terenyuh aku melihatnya, betapa kedekatan ibu dan anak dalam bentuk yang sangat murni tampak di keduanya. Suatu fitrah yang Allah berikan, ikatan batin ibu dan anak yang hadir tanpa rekayasa.

Kejadian itu sudah cukup lama, tetapi masih kuingat dengan jelas ekspresinya.
Hubungan batin ibu-anak memang sangat menakjubkan, sayang banyak orang tak menyadarinya meski berkesempatan merasakan

Jumat, 25 Oktober 2013

AYO BELAJAR ...

Suatu siang, setelah sholat dhuhur saya berbincang-bincang dengan seorang anak lulusan SMK tahun kemarin, dia sudah bekerja. Sebut saja namanya putri (tanpa bunda)
"Ora neruske kuliah Put", kata saya setelah sedikit bicara ngalor ngidul.
"Sakjane nggih pengin budhe, riyin mboten angsal kalih mamak, ragade ngge adik, nggih pun kula manut",jawabnya.
"Golek duit dewe, sebagian uang gaji ditabung nggo kuliah, mengko kuliah disambi kerjo, insya Allah bisa", kucoba menyemangatinya.
"Nggih budhe, ning artane kangge mawon , ajeng ngge golek SIM men dereng sida2, disuwun mamak ngge nyumbang kalih ngge betah sanes-sanese",jawab putri.dewe
"Gak pa pa, insya Allah diganti Allah sukbene, sing penting niat disik muga -muga diparingi jalan", hiburku, terenyuh mendengar ceritanya.
"Nggih budhe, dongakke nggih, muga-muga mawon saged nglumpuk artane ngge kuliah", jawab putri.
"Insya Allah, ilmu kui penting, meski rezeqi tidak tergantung kuliah atau tidak ning nek duwe ilmu dirimu akan lebih punya banyak pilihan, kuliah juga akan menambah wawadan dan membentuk cara berpikir yang lebih baik", kataku mengakhiri percakapan siang itu.
Pembicaraan seperti itu sudah beberapa kali kulakukan dengan beberapa anak SMK yang berbeda, kadang-kadang aku juga berpikir apa aku tidak memberi semangat palsu ya mengingat dunia kuliah apalagi sekarang ini tidak bisa terlalu huznudhan sebagaimana jaman dulu saat kuliahku dulu.
Niatku hanya ingin membangkitkan semangat belajar mereka, agar energi mereka hanya bermuara di tempat kerja seperti sekarang ini. Bekerja di usia yang masih belasan memang sangat bagus untuk mendidik kemandirian mereka. Tetapi tanpa tambahan ilmu hanya akan membuat mereka tak beranjak jauh dari yang sekarang ini mereka dapat. Sayang energi yang mereka punya. Selain itu pengin menyemangati anak-anak muda itu untuk tidak menyerah pada keadaan. Gelar bukan tujuan tetapi semangat belajar dan menggapai harapan harus tetap ditumbuhkan.
Mudah-mudahan saya tidak terlalu naif dalam hal ini.

Selasa, 25 Juni 2013

IKHLAS

Anak muda itu bekerja dalam diam, tak pernah mengeluh, tak mengenal rasa lelah dan setiap di sapa selalu senyum meski nyaris semua pekerjaan di masjd itu dia yang membereskan tanpa di suruh. Setiap pagi dia membersihkan dalam dan luar masjid, membersihkan kamar mandi dan seminggu sekali dia menyucikan rukuh-rukuh masjid yang dipakai jamaah yang mampir untuk sholat. Ketika di masjid sore harinya ada acara maka dia dengan sigap membuatkan minum, menyajikannya dan kemudian membersihkannya, ada atau tidak yang membantu.
Untuk semua yang dia kerjakan dia tidak mengharapkan imbalan/upah, diberi pun dia tidak mau terima. Bahkan karena dia tidak mau menerima pemberian dari masjid maka kemudian pihak takmir berinisiatif untuk membukakan rekening atas nama dia sebagai tabungan buat dia jika sewaktu-waktu dia membutuhkannya, belum pernah juga diambilnya.
Dia punya pekerjaan, selepas selesai membersihkan masjid dia bekerja sampai sore kemudian kembali ke masjid hingga masjid sepi dari aktivitas.
Ketulusan dan keikhlasannya mengherankan banyak orang, dia tidak membutuhkan pujian karena pendengarannya sedikit kurang yang membuat orang lain susah berkomunikasi dengannya.
Penampilannya sangat sederhana kalau tidak boleh disebut lusuh bukan karena tidak ada yang memperhatikannya, banyak hadiah baju koko hanya ditumpuknya saja.
Di balik semua itu, aku rasa Allah mencukupinya, memberinya rasa bahagia yang tidak dimengerti atau bahkan dimiliki oleh orang lain. Kebahagiaan yang Allah janjikan untuk hamba-hambaNya yang ikhlas memakmurkan masjidNya meski tak nampak hebat di hadapan manusia.
Keiklhlasannya mengajarkan padaku untuk tidak sakit hati jika kebaikan yang kita kerjakan tidak diakui atau bahkan disalahpahami.
Ikhlas memang tidak mudah karena setan memang selalu berusaha membelokkan niat kita agar amalan kita menjadi tak berharga. Kepada Allah jugalah kita memohon pertolongan.

Sabtu, 16 Maret 2013

RIZQI DARI BUTIRAN PASIR



Jutaan meter kubik pasir mengalir ke sungai Progo sejak erupsi merapi 2010 silam. Limpahan material dari dalam perut gunung Merapi menggerakkan ekonomi begitu banyak orang. Penambangan pasir baru dibuka hampir tak terhitung. Yang semula hanya manual sekarang menggunakan tenaga diesel untuk menyedotnya dari dalam sungai. Truk-truk mengangkut pasir bergerak dari dan ke tepi sungai Progo hampir tak kenal waktu. Konon kabarnya  pasir dari gunung merapi merupakan pasir berkualitas tinggi sebagai bahan bangunan.
 Butiran pasir yang tidak indah itu menjadi bukti kemahakuasa-an Allah yang memperjalankan sekian banyak manusia untuk mencari karuniaNya, Mereka yang hanya bermodalkan tenaga sebagai buruh pengangkut pasir, sopir-sopir truk, pemilik toko bahan bangunan, buruh bangunannya itu sendiri,sampai pemodal-pemodal yang mendadak tertarik untuk menjadi juragan pasir. Sekaligus bukti Maha Pemberi rizpi-Nya karena lewat pasir itu Allah memberi rizqi bagi mereka yg tidak berpendidikan dan ketrampilan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya dengan halal.
 Subhanallah, tidak ada sesuatupun benda di muka bumi ini atau satu kejadian yang terjadi yang sia-sia.
Masih pantaskah manusia merasa sempit hatinya hanya karena rizqi yang diterimanya taksebanyak yang diinginkannya?
Belum cukupkah bukti bahwa Allah Maha Pemberi Rizqi?

Jumat, 01 Maret 2013

IBU DAN ANAKNYA



Wanita muda itu sepertinya tidak memperoleh pendidikan dan pengasuhan yang selayaknya sewaktu kecil. Cara bicaranya susah dipahami, Kemampuan membaca dan menulisnya tak lebih dari kemampuan anak kelas 1 SD, kemampuannya berhitung sebesar uang yang dimilikinya, dan dia hampir tidak pernah bepergian kecuali sejauh jangkauan kakinya.
 
Dan dia seorang ibu.
Seorang ibu yang tidak bisa bersenandung untuk menidurkan anaknya, tidak bisa mengajari anaknya menyanyi apalagi mengaji. Kekasarannya memperlakukan anaknya bisa jadi menggambarkan bagaimana dia diperlakukan ketika kecil. Ekspresi kasih sayangnya pada anaknya kadang terlihat begitu absurd.
Tetapi tetap saja dia seorang ibu, seabsurd apapun dia memperlakukan anaknya tetap saja kasih saying seorang ibu tertangkap dalam hati anaknya, hingga bagaimanapun dia memperlakukan anaknya, sang anak tetap mencari ibunya sepulang sekolah, mencari ibunya ketika sang anak merasakan ketidaknyamanan pada dirinya. Meskipun dia tidak mendapatkan kelembutan dari ibunya.
 
Hingga suatu hari kulihat suatu gambaran yang sangat menakjubkan dari bentuk ikatan ibu dan anak. Saat sang anak tengah bermain, saat itu si anak masih TK, tiba-tiba turun hujan, segera saja dia berlari kencang ke arah rumahnya sambil berteriak” Bu..bu..udan..udan bu.. memehane(jemurane) dientasi bu” Demikian dia teriak-teriak untuk memberitahu ibunya, agar jemuran ibunya tidak kembali basah karena hujan. Masya Allah…meski si anak tidak diasuh sebagaimana anak-anak pada umumnya tetap saja ada kepedulian si anak kepada ibunya untuk hal yang paling kecil sekalipun seperti halnya masalah jemuran tadi.
 
Begitulah istimewanya ikatan ibu dan anak. Tak tergantikan. Mungkin perasaan semacam itulah yang begitu dirindukan hingga terjadi kasus jual beli anak. Tetapi bagaimana mungkin ikatan yang merupakan settingan Allah azza wa jalla bisa dihadirkan dengan cara yang dzalim seperti itu?
 
Kerinduan akan hadirnya anak memang bisa dipahami sangat besar, tetapi ada hak Allah yang jauh lebih besar untuk dipenuhi yaitu bersyukur dengan segala pemberianNya dan ridha dengan ketentuanNya. Wallahu a’lam.