Sabtu, 16 Maret 2013

RIZQI DARI BUTIRAN PASIR



Jutaan meter kubik pasir mengalir ke sungai Progo sejak erupsi merapi 2010 silam. Limpahan material dari dalam perut gunung Merapi menggerakkan ekonomi begitu banyak orang. Penambangan pasir baru dibuka hampir tak terhitung. Yang semula hanya manual sekarang menggunakan tenaga diesel untuk menyedotnya dari dalam sungai. Truk-truk mengangkut pasir bergerak dari dan ke tepi sungai Progo hampir tak kenal waktu. Konon kabarnya  pasir dari gunung merapi merupakan pasir berkualitas tinggi sebagai bahan bangunan.
 Butiran pasir yang tidak indah itu menjadi bukti kemahakuasa-an Allah yang memperjalankan sekian banyak manusia untuk mencari karuniaNya, Mereka yang hanya bermodalkan tenaga sebagai buruh pengangkut pasir, sopir-sopir truk, pemilik toko bahan bangunan, buruh bangunannya itu sendiri,sampai pemodal-pemodal yang mendadak tertarik untuk menjadi juragan pasir. Sekaligus bukti Maha Pemberi rizpi-Nya karena lewat pasir itu Allah memberi rizqi bagi mereka yg tidak berpendidikan dan ketrampilan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya dengan halal.
 Subhanallah, tidak ada sesuatupun benda di muka bumi ini atau satu kejadian yang terjadi yang sia-sia.
Masih pantaskah manusia merasa sempit hatinya hanya karena rizqi yang diterimanya taksebanyak yang diinginkannya?
Belum cukupkah bukti bahwa Allah Maha Pemberi Rizqi?

KEBAIKAN ITU DIAJARKAN



Suatu ketika, keponakanku, Iyul, saat itu masih TK bertanya kepada kakakku.
Iyul  : " Budhe, kalau budhe pulang ke yogya kok suka beliin aku sama aida sama mbak Ifah baju-baju, budhe tidak takut uangnya budhe habis ?
Budhe  : "Yul, kalau kita suka menyenangkan orang lain, Allah juga sayang sama kita, nanti Allah akan ganti dengan rejeki yang lebih banyak".
Iyul : ' Oo..gitu to budhe, tapi…..ibuku itu tau gak??
Budhe :' Ya tahu to, ibumu juga suka memberi ke orang lain, iyul saja yang tidak tahu".
He..he..kasihan adikku diragukan anaknya sendiri.
Kepolosan dan fitrah seorang anak bisa menjadi cermin dan semangat untuk berbuat baik bagi orang tuanya.
Kebaikan memang perlu diajarkan sejak kecil dengan kata-kata dan perbuatan, agar fitrah senang berbuat baik itu bisa berkembang menjadi sifat, bahkan karakternya.

Sabtu, 09 Maret 2013

BEKERJA DENGAN HATI



Beberapa waktu yang lalu seorang petugas pencatat pemakaian listrik datang menemuiku di rumah. Bapak ini meski kutahu orangnya tetapi aku tidak tahu siapa namanya, hanya sering ketemu pas bapak itu ke apotek atau pas ke rumah mencatat pemakaian listrik rumahku.
 
Bapak itu bertanya,” Bu, nopo pemakaian listrik’e jenengan tambah?”
“Pripun to? Nopo tambah kathah?’ jawabku.
“Nggih bu, mboten kaya biasane, nganti kula baleni ping kalih,”jawab bapak itu.
“Mungkin mawon pak, sasi wingi mbak kula cen liburan teng mriki, pinten pak kelebihane?” tanyaku.
“ Sekitar 30 ribuan bu,”jawab bapak itu. “ Nggih pun nek cen pemakaiane tambah, kula wedi nek salah nulis”.
“Matur nuwun pak”, jawabku.
 
Terus terang aku cukup surprise, belum pernah aku mengalami kejadian seperti ini. Apikan men bapaknya, padahal perbedaan jumlah nominal rekening listrik yang kemungkinan harus kubayar tidaklah besar.
 
Ketika sore harinya aku ke apotek, bapak itu mencariku lagi.
“Bu, mboten tambah kok rekening listrike jenengan, wau kula tiliki teng kantor malih ternyata mboten tambah kok, sami kalih biasane”,jelas bapak itu setelah kutemui.
 
Masya Allah, kali ini aku benar-benar takjub dengan bapak ini. Selain rasa terima kasih atas perhatiannya, aku juga kagum dengan kepedulian terhadap tugasnya. Dia rela bersusah susah seperti itu hanya untuk memastikan seseorang tidak dirugikan dengan kerjanya.
Bayangkan jika seandainya semakin banyak orang yang pekerjaannya berhubungan dengan kepentingan publik kemudian punya kepedulian yang sama seperti bapak itu. Memastikan bahwa orang lain mendapatkan pelayanan yang semestinya dan
memastikan orang lain tidak dirugikan.
 
Sepertinya aku harus banyak belajar dari kejadian ini.

Jumat, 01 Maret 2013

KEJADIAN TAK TERDUGA



  Seorang bapak menyerahkan resep untuk anak balitanya, resep dari dokter mata rumah sakit khusus mata. Setelah memberi penjelasan secukupnya tentang obat yang kuserahkan, "Putrane kenging nopo pak",tanyaku.
"Keculek mbak, keculek rokok kula", jawab bapak itu penuh penyesalan.
Mendengar jawaban penuh penyesalan itu tak tega rasanya menanyakan bagaimana kejadian itu bisa terjadi.
Jelas, tak akan ada orangtua yang dengan sengaja berniat mencelakakan anaknya,kecuali orangtua yang sudah kehilangan fitrahnya. Tetapi kadang tanpa sengaja terjadi kejadian yang tidak terduga seperti kejadian bapak tadi.
Jika kejadian itu hanya berakibat buruk di dunia, ada waktu untuk memperbaiki sebagai bentuk penyesalan. Tetapi bagaimana jika tanpa disadari orangtua melakukan sesuatu yang berakibat buruk untuk anaknya di akhirat nanti, adakah waktu untuk menyesalinya?
"

IBU DAN ANAKNYA



Wanita muda itu sepertinya tidak memperoleh pendidikan dan pengasuhan yang selayaknya sewaktu kecil. Cara bicaranya susah dipahami, Kemampuan membaca dan menulisnya tak lebih dari kemampuan anak kelas 1 SD, kemampuannya berhitung sebesar uang yang dimilikinya, dan dia hampir tidak pernah bepergian kecuali sejauh jangkauan kakinya.
 
Dan dia seorang ibu.
Seorang ibu yang tidak bisa bersenandung untuk menidurkan anaknya, tidak bisa mengajari anaknya menyanyi apalagi mengaji. Kekasarannya memperlakukan anaknya bisa jadi menggambarkan bagaimana dia diperlakukan ketika kecil. Ekspresi kasih sayangnya pada anaknya kadang terlihat begitu absurd.
Tetapi tetap saja dia seorang ibu, seabsurd apapun dia memperlakukan anaknya tetap saja kasih saying seorang ibu tertangkap dalam hati anaknya, hingga bagaimanapun dia memperlakukan anaknya, sang anak tetap mencari ibunya sepulang sekolah, mencari ibunya ketika sang anak merasakan ketidaknyamanan pada dirinya. Meskipun dia tidak mendapatkan kelembutan dari ibunya.
 
Hingga suatu hari kulihat suatu gambaran yang sangat menakjubkan dari bentuk ikatan ibu dan anak. Saat sang anak tengah bermain, saat itu si anak masih TK, tiba-tiba turun hujan, segera saja dia berlari kencang ke arah rumahnya sambil berteriak” Bu..bu..udan..udan bu.. memehane(jemurane) dientasi bu” Demikian dia teriak-teriak untuk memberitahu ibunya, agar jemuran ibunya tidak kembali basah karena hujan. Masya Allah…meski si anak tidak diasuh sebagaimana anak-anak pada umumnya tetap saja ada kepedulian si anak kepada ibunya untuk hal yang paling kecil sekalipun seperti halnya masalah jemuran tadi.
 
Begitulah istimewanya ikatan ibu dan anak. Tak tergantikan. Mungkin perasaan semacam itulah yang begitu dirindukan hingga terjadi kasus jual beli anak. Tetapi bagaimana mungkin ikatan yang merupakan settingan Allah azza wa jalla bisa dihadirkan dengan cara yang dzalim seperti itu?
 
Kerinduan akan hadirnya anak memang bisa dipahami sangat besar, tetapi ada hak Allah yang jauh lebih besar untuk dipenuhi yaitu bersyukur dengan segala pemberianNya dan ridha dengan ketentuanNya. Wallahu a’lam.