Kamis, 20 Maret 2014

JANGAN MERASA LELAH



Wajarlah jika mengharapkan sesuatu yang ideal
Wajar pula jika menginginkan hasil dari langkah-langkah yang diambil
Tetapi harus diingat manusia punya hati dan jiwa
Hati kita sendiri pun tak bisa kita kuasai ....
Maka bersandarlah pada Sang Penguasa Hati ...
Apa yang sudah dikerjakan hanyalah potongan kecil dari penghambaan kita kepada Allah Azza wajalla
Yang tak pernah meninggalkan hambaNya yang mendekat
Yang tak pernah lupa untuk mencatat kebaikan yang kita buat
Tak perlulah merasa seakan berjalan di padang luas tak berteman
Atau di pinggir tebing yang hanya bisa memantulkan kembali suara kita
Tak akan ada yang hilang
Tak akan ada yang terhapus
Selagi hanya ridhaNya-lah yang kita cari

Selasa, 18 Maret 2014

MEMBANGUN KEPERCAYAAN



Suatu saat aku dan suami bepergian naik motor. Tatkala hendak menyalip sebuah truk gandengan dari arah kanan, tepat sampai di posisi tengah truk, kurasakan ban belakang motor bocor. Deg, sesaat motor goyang, aku diam saja, tidak bergerak dan tidak bicara, hanya doa dalam hati semoga kami selamat.Detk berikutnya motor kembali tenang dan terus melaju hingga truk tersalip dan motor berhenti dengan selamat di tepi jalan. Ban belakang motor kempes sempurna.

Kuhembuskan napas lega.
"Alhamdulillah, untung kowe meneng wae Di ", kata suamiku.

Lama kejadian itu berlalu, tetapi masih terus kuingat. Bukan hanya mengingat nikmat Allah yang telah menyelamatkan kami dari kejadian yang tak terduga, tetapi kejadian itu memberi pelajaran padaku. Dalam situasi genting seperti saat itu ternyata kepercayaan seorang istri kepada suaminya menyebabkan seorang istri bisa bersikap tenang, dan ketenangan istri inilah yang menolong suami mengatasi situasi kritis yang terjadi.

Bukankah hidup ini juga sebagaimana halnya kita melakukan perjalanan? Ada saat -saat genting, ada kejadian tak terduga, ada saatnya perjalanan tenang dan nyaman.

Tentu saja hal ini tak bisa dipahami jika kepercayaan suami istri tak dibangun sejak awal. Maka saat terjadi krisis, konflik akan terbuka, alih-alih masalah terselesaikan malah tambah masalah karena kecurigaan dan prasangka buruk.

Jumat, 14 Maret 2014

MASAKAN IBU



Salah satu yang kukenang dari mendiang ibu adalah usaha ibu untuk menghadirkan masakan yang enak dan bergizi meski dengan uang belanja yang sangat terbatas. Ibu pinter sekali mengakali keterbatasan ekonomi keluarga kami saat itu sehingga meski dengan bahan-bahan yang sederhana, masakan yang dihasilkannya selalu istimewa dan bergizi tinggi.
Salah satu menu andalan ibu adalah pepes daun singkong,  daun singkong yang direbus, dirajang-rajang, dibumbui dan ditambah kelapa muda, kemudian diberi "gereh kranjangan" di dalamnya.
Enak sekali.
Saat bercerita dengan suamiku, sebenarnya ekspresiku biasa saja meski saat itu memang masa susah keluarga kami.
 
Suatu saat ketika melihat tanaman singkong di belakang rumah tampak hijau subur, kuutarakan niatku untuk masak pepes daun singkong seperti saatku kecil dulu.
Tak kusangka suamiku melarangnya.
"Aja Di, aja masak kui. Ndak ngelingke jaman susahmu mbiyen".

Aku menatap suamiku, terharu.

ITUKAH KITA ?



Sholat tak sepenuhnya tertegakkan
Doapun terucap dalam ketergesaan
Dzikir hanya menempel di lesan saja
Akan terus seperti itukah kita?
Berlomba mengejar karuniaNya
Sembari berharap Allah mengerti kesibukan kita
Memaafkan sesukanya kita menghamba
Benar karuniaNya mendahului murkaNya
Tapi....
Akan terus seperti itukah kita?

QANAAH

"Apapun yang anda inginkan, mungkinkan"demikian Mario Teguh dalam acara Golden ways. Sangat mengesankan gaya pak Mario Teguh saat mengucapkan kalimat tersebut.
Tapi betulkah tidak ada yang tidak mungkin? Bagi kita, jelas amat banyak yang tidak mungkin.
Mungkinkah yang kita inginkan dan tercapai ternyata tidak baik untuk kita? Sangat mungkin juga.

Lalu?
Boleh saja kita punya keinginan, berusaha keras untuk mewujudkannya tetapi iringi dengan doa sesudahnya.
“Ya Allah, jadikanlah aku merasa qana’ah (merasa cukup, puas, rela) terhadap apa yang telah engkau rezeqikan kepadaku, dan berikanlah barakah kepadaku di dalamnya, dan jadikanlah bagiku semua yang hilang dariku dengan yang lebih baik.” (HR. Al-Hakim).

Karena kebahagian bukan pada seberapa banyak keinginan kita yang terpenuhi tetapi bagaimana sikap kita menerima apa yang sampai pada kita.

Selasa, 18 Februari 2014

HIDAYAH

Beberapa hari yang lalu banyak orang mengeluh karena curah hujan di yogyakarta begitu deras.
Hanya dalam hitungan hari Allah mengganti hujan air dengan hujan abu.
Maka orang baru menyadari betapa besar dan nikmatnya hujan itu.

Demikian pulalah dengan hidayah yang Allah berikan di dada manusia.
Hidayah Allah bisa menghilangkan kesumpekan dari abu-abu yang mengotori hati manusia.
Tetapi sebagaimana hujan, banyak orang yang juga tidak menyadari dan menyia-nyiakan hidayah Allah tersebut.

Moga kita terhindar dari menyesali telah menyia-nyiakan hidayah Allah di hari saat semua orang menyadari betapa berharganya hidayah Allah itu

IKATAN BATIN IBU DAN ANAK



Wanita muda itu kudapati tengah duduk termenung di kursi kayu depan rumahnya.
Wajahnya murung, dan matanya berduka, tapi dia diam saja.
Wanita itu memang tak pandai mengekspresikan perasaannya, bicaranya kacau kebalik-kebalik subyek predikatnya, perlu waktu cukup lama untuk memahami kata-katanya.

Saat kutanya,"kamu kenapa?"
"Simbahku meninggal budhe, yang merawatku dulu sejak kecil".

Aku paham kesedihannya, suaminya yang kerja serabutan tentu saja tak cukup punya uang untuk mengantar istrinya pulang di suatu kabupaten di jawa barat sana, meski untuk melayat nenek yang merawat istrinya waktu kecil.

Yang menakjubkan adalah anak perempuannya yang masih berusia 3 tahun, yang juga belum fasih bicara, duduk di sampingnya, ikut termenung diam saja. Diajak main tidak mau, diberi makanan juga tidak mau.
Seakan mengerti kesedihan ibunya, dia duduk diam menemani ibunya, tak bergerak.
Entah sampai berapa lama ibu dan anak itu dalam posisi seperti itu.

Terenyuh aku melihatnya, betapa kedekatan ibu dan anak dalam bentuk yang sangat murni tampak di keduanya. Suatu fitrah yang Allah berikan, ikatan batin ibu dan anak yang hadir tanpa rekayasa.

Kejadian itu sudah cukup lama, tetapi masih kuingat dengan jelas ekspresinya.
Hubungan batin ibu-anak memang sangat menakjubkan, sayang banyak orang tak menyadarinya meski berkesempatan merasakan