Rabu, 21 Mei 2014

HIKMAH HUJAN ABU GUNUNG KELUD



Hujan abu yang melanda Yogyakarta akibat erupsi gunung Kelud sudah seminggu lebih berlalu, hujan yang telah turun beberapa kali dengan cepat membersihkan debu-debu yang menempel di genteng-genteng rumah dan dedaunan. Kesumpekkan akibat debu berlalu,  orang-orang dengan cepatpun mulai lupa dan membiarkan peristiwa itu tanpa mengambil pelajaran darinya. Padahal tidaklah Allah menjadikan satu peristiwa dengan sia-sia.
Ada beberapa hikmah yang bisa kita renungkan dari hujan abu yang baru saja terjadi,
1.Sebagian besar masyarakat yogyakarta tidak mengira bahwa dampak erupsi gunung Kelud yang berjarak sekitar 235 km dari yogyakarta ini akan begitu tebal, dengan ketebalan hampir 5 cm, jauh lebih tebal dibanding saat erupsi Merapi dulu. Hal ini menunjukkan musibah bisa terjadi kapan saja dan dari arah yang tak diduga-duga. Malam masih bersih, paginya semua permukaan berdebu begitu tebal dan mendadak semua menjadi abu-abu. Maka semua orangpun disibukkan dengan satu acara yaitu membersihkan abu vulkanik.
Maka alangkah baiknya kita ingat lembali nasehat Rasulullah shalallahu alaihi wassalam,
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: [1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, [2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, [3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, [4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, [5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim)
Jangan menunda-nunda untuk beramal sebelum datang musibah atau hal-hal lain yang akan menyibukkan kita.

2.Semakin besar rumah dan semakin luas halaman kita saat hujan abu vulkanik seperti kemarin akan semakin repot dan susah kita untuk membersihkannya. Maka bayangkanlah rumah itu adalah harta kita dan debu-debu itu adalah segala hal yang mengotori harta kita yang harus kita bersihkan dengan banyak sodaqoh dan berinfaq agar kita tidak kerepotan dalam mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah kelak.  Semakin banyak harta maka akan semakin repot kita mempertanggungjawabkannya kelak jika kita tidak rajin membersihkan harta kita dengan banyak infaq dan shodaqoh.

3.Ketika hujan abu begitu lebat diluar, udara begitu sumpek dan hujan yang ditunggu tak segera turun, rasanya ingin berlari dari kesumpekkan ini. Tetapi kemana hendak lari? Seluruh kota semua terliputi debu tebal, jalan-jalanpun sulit ditempuh karena jarak pandang terbatas. Jika musibah yang meliputi hampir satu propinsi saja membuat kita susah untuk lari lalu bagaimana jika yang mengepung adalah api yang menyala-nyala? Sebagaimana Allah Azza wa Jalla berfirman :
“…Sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi orang-orang zhalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka… (QS. Al-Kahfi: 29)

4.Allah dengan Kuasanya dalam waktu hanya beberapa jam saja, sekian ribu rumah, sekian juta orang dalam kisaran daerah begitu luas mengalami nasib yang sama, semuanya menjadi abu-abu. Bukankah itu artinya jika ada seseorang yang lebih dari orang lainnya itu adalah karunia yang Allah berikan kepadanya? Bukan karena kehebatannya, lalu mengapa masih ada orang yang menyombongkan dirinya?

Demikianlah sedikit dari pelajaran yang bisa kita renungkan, semoga apapun yang Allah tetapkan untuk kita akan lebih mendekatkan diri kita kepada Allah Azza wa Jalla dan menyempurnakan keimananan kita. Wallahu A’lam bisshawab.




SEPATUKU OH...



Dulu ketika sekolah dari SD - SMA tidak pernah beli sepatu yang bermerk. Selalu sepatu yang masa pakainya berkisar 6 bulan- 1 tahun, itupun sudah dibantu dengan dijahitkan di sol sepatu. Dan cuman punya satu.
Padahal berkesempatan sekolah di sekolah-sekolah favorit di kota Solo sudah barang tentu banyak dari teman-temanku adalah anak orang kaya, dimana segala peralatan sekolah mereka terutama sepatu bermerk seperti Nike yang paling top kala itu.
Bersyukur jaman itu tidak ada budaya bully membully sehingga diriku bisa sekolah dengan tenang dan tentram meski dengan modal terbatas.

Memasuki masa kuliah tetap dengan 1 sepatu dan kualitas yang sama hingga memasuki senester 2 saya punya uang lebih dikit dan kebetulan di Matahari Solo ada discount sepatu hingga 20 % kalo tidak salah. Maka punyalah diriku untuk 1 kalinya punya sepatu pantofel bermerk, entah merknya apa yang jelas lebih bagus dari sepatuku yang biasa. Ternyata enak pake sepatu (agak)mahal, empuk dan dipakai jalan nyamanyaa ....

Baru beberapa hari sepatu itu kupakai, ada acara daurah PAI di masjid Syuhada menginap. Saya datang menjelang maghrib bersama seorang teman. Tanpa pradangka dan was was, saya letakkan sepatu di tangga bersebelahan dengan sepatu teman saya.
Selesai sholat maghrib, saya dapati sepatu mahal saya yang pertama telah hilang. Sedang sepatu temannya saya masih ada dengan manisnya. Aduuh kasihan deh gue...kok ya tahu ya sepatu baru?

Berhubung sepatu saya cuman satu terpaksa saya harus beli sepatu lagi. Setelah merasakan enaknya pake sepatu (agak)mahal jadi berat banget kembali ke selera asal. Habis sepatu yang hilang itu empuuk banget. Akhirnya saya beli lagi sepatu bermerk yang lebih mahal dari yang hilang. Lupa saya, pakai uang apa dulu itu mengingat harga sepatu lebih dari separo jatah bulanan saya .

Baru tahu selera memang susah untuk turun.
Bagaikan pajak, akan selalu naik, naik dan terus naik. Menuntut pemuasan keinginan yang semakin lama akan semakin bertambah.
Kesadaran untuk mengendalikan keinginan tak hanya karena pertimbangan uang  semata tetapi lebih karena sifat Qanaah itu susah ada ketika keinginan selalu diperturutkan.

Senin, 19 Mei 2014

AYO BELAJAR 2



Beberapa hari yang lalu aku ngobrol dengan anak SMK yang baru selesai UN. Kala itu dia baru pulang training di sebuah pabrik. Kudengar kabar sebenarnya pengin kuliah tapi tidak didukung kedua orangtuanya.
Insting motivatorku menyala, he he he sedikit lebay rapopo to?

Ketika kuajak bicara tentang keinginannya kuliah dan hal-hal yang menjadi permasalahan buat dia, mendadak sedih aku jadinya.
Bukan karena kondisinya yang papa, keluarganya tidak miskin-miskin amat. Tetapi karena meski dia pengin kuliah, dia sama sekali tidak tahu jurusan apa saja yang bisa dipilihnya( di SMK jurusannya komputer jaringan)atau jurusan apa yang dia inginkan. Universitas mana yang bisa dituju bahkan SMPTN pun dia tidak tahu
Aduuh...duh...sedihnya melihat anak sekolah lulus pendidikan menengah tidak punya wawasan sama sekali untuk peningkatan kemampuan dirinya.
Saking sedihnya sampai tidak tega untuk menulis percakapanku dengannya.

Dia bukan anak yang bandel, kegiatannya cuman sekolah dan sekolahnya SMK negeri meski di kabupaten tetapi tidak pelosok juga.  Bagaimana dia bisa tidak tahu segala sesuatunya tentang perguruan tinggi. Padahal pengin kuliah, tetapi tak punya gambaran sama sekali.
Ketika kutanya,"Apa ora tahu dijelaske karo gurumu?"
"Mboten tahu budhe, kanca2 kula mboten enten sing pengin kuliah kabeh pengin kerja".
Jika SMK memang untuk menyiapkan mereka untuk punya ketrampilan sehingga langsung bisa masuk dunia kerja, tak pentingkah mengingatkan bahwa mereka harus tetap punya semangat menuntut ilmu?
Motivasi  untuk menambah ilmu alangkah baiknya disisipkan disela-sela semangat mereka untuk bekerja.  Tidak salah mereka bekerja di waktu muda, tetapi adalah salah jika merasa tak perlu  belajar ketika sudah bekerja.
Dalam kondisi apapun orang yang berilmu selalu lebih beruntung.

MENGHARAP HIDAYAH ALLAH




Bermula ketika mendapati salah seorang anak yang dekat denganku terjebak "dunia kapur"(http://nggirprogo.blogspot.com/2013/09/dunia-kapur.html). Dunia yang mengaburkan pandangannya, yang membuat dia tenggelam dalam mimpi menyesatkan yang membuat dia sanggup melakukan apa saja. Tak cukup airmata ibunya untuk menghapuskan goresan kapur yang sudah demikan kuat tergambar di hatinya.

Yang membuatku lebih terpukul lagi adalah di saat begitu terpuruk, si ibu bercerita padaku," aku tahu semuanya harus kukembalikan kepada Allah, hanya Allah yang bisa menolongku tapi aku tak bisa berdoa, aku tak tahu bagaimana aku harus berdoa".
Ya..Allah bagaimana mungkin seorang hamba tak bsa berdoa kepadaMu ,padahal dia setiap hari selalu menegakkan sholat? Kalau bukan karena saking kalutnya ataupun kurang ilmunya tidaklah mungkin ibu itu akan berkata begitu.

Berhari-hari kerisauan dan kesedihan ibu yang kehilangan anak itu ikut melingkupiku. Fisiknya dipeluknya, tapi jiwanya entah kemana.
 
Pada akhirnya kegalauan ini harus diakhiri, harus diupayakan agar Allah mengirimkan pertolonganNya dan membuka kembali sesuatu yang menutpi hati anak itu.
Kuberanikan untuk bicara, kucoba untuk menulis untuk bisa membuka dan memberi kesadaran para orangtua bahwa mereka butuh mengetahui tentang agama agar meteka bisa menjaga anak-anak mereka agar tragedi seperti diatas tak kutemui lagi.
Agama tak hanya untuk orang-orangtua yang sudah pensiun. seolah agama itu untuk mereka yang tidak punya pekerjaan, turah wektu.
Kadang ajakanku bersambut kadang juga seperti melangkah sendiri.

Disaat kelelahan diri melanda, kusadari hanya Engkaulah pemilik Hdayah itu, Ya..Allah.
Tidaklah mungkin kata-kataku yang terbata-bata ini, ilmuku yang tak seerapa ini bisa menggerakkan hati mereka tanpa taufiq dan hidayahMu.
Sejatinya apa yang kuupayakan adalah untukku sendiri, untuk kebaikan dan kemudahan urusanku sendiri. Mestinya rasa lelah itu memang tak seharusnya ada...