Ketika mau berangkat haji rasanya bahagiaa banget. Saking bahagianya
terkadang sampai lupa untuk istirahat dan itu bisa berakibat buruk,
paling tidak itu yang terjadi padaku.
Jam 2 malam sebelum
penerbangan, aku sudah terbangun. Banyak ibu-ibu yang lain juga sudah
terbangun. Salah satu mengusulkan untuk mandi besar sekalian saja karena
kami masuk gelombang 2 yang berarti miqot di pesawat ketika pesawat
melewati yalamlam. Maka mandi besar sebagai sunnah bagi yang hendak
ihrom dilakukan sejak di donohudan. Aku mengiyakan, karena semangat itu
tadi, ingin persiapan beres sejak awal. Padahal jadwal penerbangan jam 1
siang, cukup waktu untuk persiapan tanpa harus mandi besar di waktu
dini hari. Setelah mandi langsung ke masjid untuk tahajud hingga sholat
subuh.
Setelah sarapan, ada sisa waktu untuk istirahat. Tetapi
berhubung lagi bahagia, aku ya hilir mudik saja, Apalagi sebagai jamaah
termuda dipanggil sana sini untuk membantu kerepotan ibu -ibu yang sudah
sepuh untuk berbagai kerepotan mereka. Sampai di sini semua sepertinya
baik-baik saja.
Saat penerbangan menempuh 7 jam perjalanan, kepalaku
mulai berat dan pusing, napaskupun mulai sesak. Aku mencoba untuk minum
jamu t***k angin untuk menghilangkan pusing dan mencari minyak angin.
Tapi upaya itu tak berhasil. Saat kepalaku makin pusing, aku bilang sama
suamiku," Mas, aku pusing banget".
Suamiku pun pergi mencari dokter
kloter, saat kembali dia melihat wajahku semakin pucat dan mataku
terpejam meski aku masih bisa berbicara. Suamiku segera bergegas kembali
untuk memanggil dokter. Saat itu aku sudah pasrah, mungkinkah aku
menjadi jamaah yang meninggal di atas pesawat? Sebegitu katroknyakah
diriku hingga terbang sedikit lama saja mau pingsan?
Ketika suamiku datang bersama dokter, aku sudah terkulai dan wajahku pucat pasi. Aku pingsan di atas pesawat.
Masih terdengar suara perawat yang membantu dokter kloter, "waduh, piye
carane le nurokke iki?". Sesaat kehebohan terjadi. Ditangan kananku
masih memegang minyak angin, didekatkannya minyak angin itu ke hidungku
kemudian dipijit-pijitnya pelipisku. Beberapa menit kemudian wajahku
mulai memerah dan aku pun sadar. Dokter yang memeriksaku bilang," Tidak
apa-apa bu, ibu paling kecapekan dan tali jilbabnya terlalu kencang jadi
darah tidak lancar ke kepala apalagi udara mulai tipis di ketinggian".
Baru teringat, aku memang tidak biasa pakai jilbab yang bertali,
jilbabku pun biasanya longgar.
Sisa perjalanan kulewati dengan
memohon pada Allah agar memudahkan perjalananku, memberiku kekuatan dan
juga istighfar, bagaimanapun segala yang berlebihan itu tidak baik.
Teringat juga saat tes kesehatan hasil rekam jantungku pun tak terlalu
bagus, dokter yang memeriksaku pun menyarankan untuk konsultasi ke
dokter internis, tapi itu pun tak kulakukan. Khawatir terlalu banyak
yang kupikirkan. Padahal menyiapkan dan mengantisipasi setiap
kemungkinan jauh lebih baik dan membuat kita lebih siap untuk beribadah.
Apalagi untuk ibadah haji yang membutuhkan kekuatan fisik.
Alhamdulillah, selama menjalankan ibadah haji Allah memberi kesehatan dan kekuatan hingga pulang kembali ke tanah suci.
Mudah-mudahan bisa bermanfaat buat teman-teman yang hendak berangkat haji.