Jumat, 23 Agustus 2013

PERHATIAN

Ketika merawat bapak mertua, kala itu beliau sudah menderita kelumpuhan separo tubuhnya karena sakit kanker yang dideritanya. Setiap hari beliau minta di sediakan makanan kecil yang sudah pasti tidak dimakannya, keinginannya pun ganti-ganti bahkan makanan kecil yang jelas-jelas tidak disukainya.
Ketika kutanya ," Bapak mboten seneng panganan niki to, kok ngersakake ?".
"Ora papa, tukokna wae. Ora tak maem ra po po sing penting ana'.
Lama baru kupaham apa yang sebenarnya beliau ingiinkan, keberadaan sesuatu itu sangat penting buat bapak meski bukan substansi sesuatu itu yang dibutuhkan.Bisa jadi perhatiannya itu yang menyenangkan hati beliau/ mencari sualu alasan yang bisa membangitkan semangat hidupnya. Dalam kondisi seperti itu memang apa yang bisa membuat bahagia di akhir hidup beliau diuasahakan meski sering kali tidak rasional.
Hal yang sama juga terjadi manakala sudah lama tidak menengok orang tua kemudian ketika orangtua menelpon, maka ketika kita tanya," ada apa bu", terus jawabnya,"ora ana apa-apa meng pengin krungu suaramu wae".
Begitulah keberadaan kita, ada/tidaknya kita menjadi lebih penting daripada apa yang kita lakukan. Dalam kasus-kasus seperti ini tidak berlaku rumus kualitas pertemuan lebih penting dari kuantitas.

Sabtu, 17 Agustus 2013

MASA TUA

Ada seorang bapak-bapak, sudah lama pensiun, menjadi pasien langganan apotek. Sering beliau datang untuk menebus obat yang diresepkan dokternya atau bertanya untuk mengatasi berbagai keluhannya. "Mbak Apoteker", begitu biasanya bapak itu menyapaku.
Pernah suatu saat bapak itu datang ke apotek " Mbak, aku ki kesel banget, obate apa? Meng nyapu latar we kok kesel'.
"Latar'e ingkang disapu sepinten pak?", tanyaku.
" Yo... rong kebon kae, le nyapu kat mau esuk nganti jam sewelas iki mau rung rampung". Ha ha ha bagamana tidak capek coba, kalo aku sudah tepar menyapu seluas itu.
Hingga ketika sang bapak mulai sakit-sakitan dan tidak bisa berjalan, interaksi kami masih berlangsung, beliau menelepon apa yang dibutuhkannya, selang bebetapa lama datanglah utusannya, entah pembantunya, tetangga, atau keponakannya. Bapak ini tinggal seorang diri tanpa istri, tanpa anak.
Ketika bapak itu semakin lemah maka ada keponakannya, sepasang suami istri yang menjadi penyambung antara kami dengan bapak itu. Setiap hari suami istri tadi mondar mandir dari rumahnya ke rumah bapak tadi untuk mengurus keperluan bapak tadi. Jika ada yang diinginkannya, maka mereka berdua mampir ke apotek.
"Mbak, pakde nyuwun vitamin", itu salah satu contoh permintaannya, maka kami langsung tahu apa yang dimintanya. Segala terapi suportif yang dimintanya jika dibilang dari apotek, sang bapak tidak protes.
Di bulan romadhon kemarin, di bulan yang penuh berkah, Allah memanggilnya. Semoga bapak itu diberi khusnul khotimah, Allah menerima semua amal ibadahnya dan mengampuni semua dosanya.
Ketika aku takziah, dan bertemu dengan keponakan bapak tadi, ibu itu berkata," Maturnuwun nggih mbak, pun ndherek ngladosi pakdhe".
Tentu saja, aku merasa ibu itu terlalu berlebihan berterima kasih padaku, itu terucap karena kerendahan hati beliau saja.
Sampai beberapa lama ucapan itu masih terngiang di telinga. Bukan karena aku merasa pantas mendapat ucapan itu tetapi kondisi bapak itu tadi yang membuatku jadi merenung. Seorang diri di usia tuanya, toh Allah tidak meninggalkannya seorang diri. Ada yang Allah kirim padanya untuk merawat dia, dan sangat jadi kedekatan hubungan kami adalah bentuk kasih sayang Allah kepadanya, hanya Allah jadikan kami sebagai perantaranya.
Sebagaimana halnya bayi yang hadir tak berdaya ketika hadir di dunia, Allah hadirkan orang-orang dewasa di sekelilingnya untuk merawat dan menolongnya hingga bayi itu tumbuh dewasa, maka demikian pula Allah akan hadirkan orang-orang muda di sekeliling orangtua untuk merawat dan melayaninya. Semuanya itu mudah bagi Allah azza wa jalla.
Yang kita harus kita lakukan hanya tawakal, yakin pada pertolongan Allah dan menjaga ketaatan kita kepadaNya maka tak akan pernah ada bayang-bayang suram masa tua. Insya Allah.

Senin, 12 Agustus 2013

HIKMAH DI BALIK MUSIBAH

Ada sepasang suami istri yang menjadi teman lantaran seringnya bertemu di apotek.Merreka berdua belum dikaruniai momongan setelah waktu cukup lama usia pernikahan mereka. Sekian banyak usaha dijalaninya dengan sabar, tanpa pernah sedikitpun mengeluh. Terlihat tenang, tidak terlihat kemrungsung, dan melewati hari dengan aktivitas keseharian sebagaimana pasangan bahagia lainnya.
Hingga suatu saat kudengar kabar temanku ini hamil. Masya Allah, ikut bahagia rasanya merasakan nikmat yang Allah beri, apalagi mereka baru saja selesai membangun rumah. Sebuah kebahagiaan yang sempurna sepertinya.
Hingga tatkala kehamilan istrinya berusia 7 bulan , Allah memanggil suaminya setelah sakit bebetapa hari saja.
Termenung aku menyaksikan kejadian ini, apa hikmah dari musibah ini? Setelah sepertinya sempurna kebahagiaan yang Allah beri, Allah memberi ujian yang begitu berat, seakan-akan hendak menegaskan pada manusia tidak ada kebahagiaan sempurna di dunia ini.
Hanya orang yang beriman kepada takdir Allah yang bisa bersabar dan tetap husnudhan bahwa apa yang menimpanya adalah yang terbaik untuk dirinya. Tidaklah Allah mendzalimi hambaNya melainkan manusialah yang mendzalimi diri mereka sendiri.
Belakangan kuketahui, sang suami ternyata telah menderita sakit yang cukup lama bahkan dokter waktu itu sudah memperkirakan batas limit untuknya, tetapi Allah takdirkan dia menikah dan mendapatkan istri yang baik untuknya. Kemudian Allah beri kesempatan padanya untuk membangun rumah dan meninggalkan seorang anak yang akan menemani istrinya sepeninggal dia. Ketegaran istrinya menerima takdir Allah ini sungguh mengagumkan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan? (QS. Ar-rahman)
Sungguh ada hikmah yang besar di setiap ujian yang Allah beri dan ada pahala yang besar bagi mereka yang ridha dengan ketentuanNya.
Wallahu'alam bisshawab.

Selasa, 23 Juli 2013

SAHABAT

Ada 2 kejadian yang berbeda yang kualami dengan 2 sahabat yang berbeda.
Sahabat 1, kami bersahabat dekat, padanya kuceritakan apa yang tidak kuceritakan pada orang lain, demikian pula dia. Tetapi suatu ketika kami pernah berkonflik, tiba-tiba saja kami tidak bertegur sapa, entah apa sebabnya tiba-tiba ada sekat diantara kami. Meski kami tak saling sapa tetapi kami tak saling menyakiti. Hingga saatnya Allah hilangkan sekat itu dan kami kembali jadi sahabat, bagaikan saudara. Semoga Allah membarakahi persahabatan ini.
Sahabat 2, kami juga bersahabat dekat, padaku dia bercerita apa yang tidak diceritakannya pada orang lain. Kami bahkan tak pernah bertengkar apalagi berkonflik tetapi karena suatu hal, yang itupun bukan antara aku dan dia , sesuatu di luar kami, menyebabkan ada jarak diantara kami. Bahkan dia denganku sepetti orang lain saja. Segalanya menjadi tak berbekas.
Sampai saat ini pun, sungguh aku tak mengerti apa yang terjadi. Apa hikmah di balik ini semua. Allah yang membolak-balikkan hati, tidak ada yang dapat menyatukan hati kecuali atas idzinNya. Dua hubungan yang berawal sama dengan perjalanan berbeda berakhir dengan sebaliknya. Berpisah denganku jelas bukan merupakan satu kerugian, tetapi bagiku kehilangan seorang teman dekat tetap mendatangkan kesedihan meski peristiwa itu sudah berlalu cukup lama.
Hanya bisa berharap Allah memberikan yang terbaik untukku dan dia, dan menghindarkan aku dari mendzaliminya tanpa kusadari.
Terima kasih banyak yang masih bersedia menjadi sahabatku hingga saat ini, moga bisa jadi sahabat yang baik untuk kalian .
#Edisi mellow mengenang masa lalu, dengan catatan semua pelaku bergender sama.

Minggu, 21 Juli 2013

CERITA DARI PANTI 5

Di hari minggu pagi itu, seorang anak panti datang ke rumahku. Pagi hari tadi saat bertemu di pengajian ahad pagi, anak itu terlihat bete.
Sesudah kusapa dia, kukeluarkan minum dan makanan sekedarnya. Setelah terlihat tenang kutanya dia" kok sendirian, tidak bilang ya sama teman - teman kalo mau ke sini?"
"Nggak bu, sama ibu(ibu pengasuh) juga tidak" jawabnya.
"Kenapa?"
" Bete bu, abis ngaji masuk kamar, diam, tapi rasanya kok makin sumpek kayak mau pecah, trus ambil sepeda ke sini bu", ceritanya membuka percakapan kami pagi itu.
Menurut ceritanya dia bersepeda sambil emosi meluap ingin menumpahkan kesuntukan hatinya itu. Jarak yang ditempuh untuk sampai ke rumahku hampir 7 km jauhnya.
Seorang remaja dengan kegalauan yang besar mempunyai energi yang sangat tinggi untuk menuntaskan kegalauannya. Jika dalam emosi bisa bersepeda dengan kecepatan penuh sejauh 7 km, bayangkan saja, sampai di mana dia jika punya sepeda motor.
Maka dia akan pergi kemana yang dekat di hati/pikiran mereka, pada apa yang mereka nilai bisa menyelesaikan problem mereka. Problem mereka seringkali di pandang remeh sama orang dewasa tetapi apapun yang mereka rasakan tetap harus ditanggapi serius karena mereka memang baru belajar untuk menyelesaikan persoalan mereka. Kesalahan dalam mensikapi problem mereka bisa berdampak pada ketidakmampuan mereka menyelesaikan persoalan di masa depannya.
Setelah mendengar ceritanya, berdiskusi dan dia sudah terlihat tenang. Kukatakan padanya, " Sudah lega to ?". "Pulanglah, hadapi kenyataan, selesaikan persoalanmu dengan teman-temanmu"
"Kalo ibu marah gimana bu?
' Minta maaf dong, kamu memang salah lain kali jangan pergi tanpa pamit"
"Ya bu" Dia sudah bisa tersenyum. Senang melihatnya.
Ketika kuantar pulang, kulihat tas ransel besar di sepedanya.
"Bawa apa itu?"
"Rukuh bu tadi penginnya mau sampai sore di sini", jawabnya sambil tersenyum.
"Jangan suka melarikan diri lama-lama, tidak baik " pesanku dambil mengantar dia pulang.
Beberapa minggu kemudian bertemu dengannya.
Dia tersenyum manis sambil berkata," Selesai bu semuanya, tuntas".
Senang sekali dia sudah berhasil menyelesaikan persoalannya. Mudah-mudahan Allah selalu menjagamu dan menjadikan kalian semua anak-anak yang mandiri bertanggungjawab dan bertaqwa kepada Allah subhana wa taala

Selasa, 09 Juli 2013

KEDATANGAN SAUDARA

Belum lama ini saya kedatangan saudara sepupu, laki laki, yang sudah sangat lama tidak bertemu. Entah kapan terakhir kami bertemu, saya tidak bisa mengingatnya. Tetapi menurut penuturannya terakhir bertemu adalah ketika membantu kami pindahan rumah tahun 1984, itu berarti 31 tahun yang lalu. Waktu itu saya masih kecil, dia sudah dewasa. Dengan selisih usia yang cukup jauh, hampir 9 tahun, seingatku dulu juga tidak terlalu akrab.
Entah apa yang membawa dia tiba- tiba ingat padaku dan berniat untuk mengunjungiku. Ketika bertemu, wajahnya masih kuingat hanya terlihat tua dengan kondisi badan sedikit tidak terurus. Rupanya dia sekarang tinggal di yogya, sendiri, sudah beberapa tahun bercerai dengan isrrinya tanpa dikaruniai seorang anak. Dia mendengar aku tinggal di yogya kemudian mencari tahu alamatku dan menghubunginya.
Terenyuh aku mendengar ceritanya, saudara-saudaranya tak lagi peduli padanya, mungkin karena perangai buruknya dulu karena sering pergi dari rumah atau apa, aku tak ingin menegaskannya. Biarlah dia menumpahkan rasa rindunya untuk bercerita tentang saudaranya, tentang dirinya, yang selama ini mungkin tak diperolehnya.
Saat itu aku baru menyadari kenapa dia mencariku, setelah sebelumnya mencari kakakku di solo. Kerinduan akan saudara, kerinduan untuk diakui sebagai saudara.
Baru mengerti mengapa Allah dan RasulNya sangat menekankan untuk menjaga kekerabatan, bahkan shadaqah yang diberikan kepada saudaranya bernilai ganda, pahala shodaqah dan pahala menyambung tali shilaturahmi. Juga satu amalan berbakti pada orangtua setelah mereka betdua meninggal adalah menjaga hubungan dengan saudara-saudara dan sahabat mereka.
Inil adalah bagian kenikmatan dari Allah ta'alaa, sungguh tidak enak hidup sendirian tanpa ada saudara yang mengenali.
Sebuah renungan menjelang Ramadhan 2013.

PENGORBANAN SEORANG ANAK

Sore itu seorang ibu datang ke apotek bersama anak perempuannya.
Ibu itu bertanya bagaimana merawat luka anaknya di kaki agar cepat kering.
" Nek ngangge sepatu niku trus teles melih bu",begitu ibu itu menjelaskan keluhannya.
Permasalahan ibu itu bukan sesuatu hal yang besar tetapi percakapan antara ibu dan anaknya sesudah kujelaskan bagaimana merawat luka anaknya itu yang menarik.
Ibu itu berkata, " saged mboten nggeh anak kula nglakonine". Kemudian ibu itu menengok anaknya, " mudeng ora nok sing dijelaske ibu'e mau?" Anaknya menganggukkan kepalanya.
" Saben dinten anak kula niki kula tinggal bu, sakderenge tangi kula pun teng pasar", jelas ibu itu sebelum kutanya.
" Bapak'e teng pundi", tanyaku.
" Nggih kalih kula bu teng pasar, simbahe mboten dados setunggal nggih celak ning pun griya piyambak, dados bocah kula tangi trus adus piyambak, siap-siap sekolah piyambak nggih pun kula siapke sakderenge, jelas ibu itu selanjutnya.
"Kelas pinten bu putrane?"
"Kelas kalih bu"
Pembicaraan terhenti karena aku tak tega untuk bertanya lebih lanjut sejak usia berapa anak itu ditinggal.
Prihatin sekali mendengar cerita ibu itu, jelas dia tidak mungkin disalahkan karena hal itu dilakukan untuk menyambung hidupnya. Bagaimana seorang anak sudah dipaksa untuk memahami kondisi orangtuanya sejak usia dini.
Dalam kondisi ekonomi yang makin berat seperti sekarang ini bukankah makin banyak kemungkinannya anak-anak indonesia yang bernasib sama? Mereka bukan hanya tidak mendapatkan pendidikan yang baik bahkan hak terbesar mereka pun terenggut yaitu hak untuk tumbuh dalam penjagaan dan kebersamaan dengan ibunya.