Rabu, 20 November 2013

SESEKALI PERLU MUNDUR

Dulu semasa kuliah paling males kalau harus mengulang, berapapun nilai yang keluar yaitu hasil yang diterima, sepertinya membuang waktu untuk melakukan sesuatu hal yang sama 2 kali. Intinya tidak suka bolan-baleni sesuatu. Dalam hal lainpun begitu, sekali buat sesuatu harus jadi.
Ternyata saya berjodoh dengan seorang laki-laki dengan sifat yang sama yaitu tidak suka mengulang tapi beda tempat, yakni dia paling tidak suka kalau mengendarai motor/mobil itu mundur, jadi kalo mau beli sesuatu tokonya terlewati, pilih beli ke toko yang lain yang tidak pake acara mundur. Aneh bukan?
Mungkin ini adalah sebagian dari rahasia Ilahi, terkadang jodoh mempertemukan 2 orang dengan sifat yang sama tanpa disadari dan seringnya adalah sifat'negatif' agar dalam berjalannya waktu sepasang suami istri bisa saling memperbaiki.
Pada akhirnya saya harus mengakui mengulang itu bukan suatu kesia-siaan selama bertujuan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Dan mundur beberapa langkah juga bukan suatu kekalahan ataupun kerugian jika memang itu lebih mendekatkan pada tujuan yang ingin dicapai.
Hidup sendiri adalah kesempatan untuk memperbaiki diri, kesempatan untuk mengulangi suatu perbuatan jika kemarin sempat berbuat kekeliruan dan kesalahan dalam melakukannya.
Taubat adalah mundur dari kemaksiatan.
Semoga tak ada penyesalan di suatu saat nanti karena keinginan untuk mengulang hidup tak akan pernah terjadi.

Minggu, 17 November 2013

KEBAIKAN YANG BERULANG

Sejak SMA suamiku sudah 'nglajo' untuk sekolah di yogya. Dari rumanya di kulon progo dtempuh dengan 2 kali bus. Sekitar 25 km.
Suatu hari dia kelupaan bawa uang saku, berbekal kedekatan karena sering naik bis yogya-wates dia digratisi sama kenek bis sampai di wirobrajan, bagaimana perjalanan selanjutnya? Maka suamiku mendekati seorang calo bis yang biasa mangkal di wirobrajan. Pekerjaan calo bis ini selain mengarahkan pemumpang ke bis-bis tertentu, dia juga memberi informasi ke kondektur waktu keberangkatan bis kompetitor lainnya sehingga bis ini bisa mengatur jarak dengan bis di depannya.
Singkat cerita, suamiku pinjam uang ke calo ini untuk ongkos sekolah selanjutnya dan di kasih.
Kejadian itu sekian tahun telah lewat, hampir 25 tahun yang lalu.
Kemarin itu, karena beberapa hal, suamiku ke kantor naik bis. Tidak terduga berbarengan dengan mogoknya bis kota karena perluasan trayek bis trans yogya. Maka terdamparlah suamiku di wirobrajan menunggu kendaraan yang bisa mengantarkan ke kantornya. Pada saat menunggu itu ada yang menawarinya untuk mengantarkan sampai UGM. Tahukah siapa orang itu? Ya... calo yang meminjami suamiku uang saat SMA dulu. Dia masih jadi calo bis.
Ada yang membuat suamiku terharu, sekian tahun berjalan meski sepertinya garis nasibnya tak berubah dalam kehidupan yang keras di jalan, bapak itu memiliki kelembutan hati dalam menolong meski ada motif ekonominya juga. Dua kali ditolong oleh orang yang sama dalam interval waktu yang sangat lama menunjukkan sifat baik itu adalah miliknya.
Semoga Allah meluaskan rizqinya, dan memberinya hidup dan kehdupan yang barakah.

Kamis, 14 November 2013

BELAJARLAH MEMBERI

Seorang temanku mempunyai putri kembar, masih usia balita, cantik bagai bidadari. Tak pernah bosan rasanya menatap keduanya, apalagi karena keberadaan orangtuanya menjadikan mereka selalu serasi dengan baju yang kembar atau senada, nampak manis dan lucu. Hampir setiap perjumpaanku dengan ibu dan anak kembarnya ini tak pernah kudapati mereka berdua memakai baju yang sama.
Hingga suatu hari aku bertanya padanya, " Anakmu ki klambine sepiro akehe, perasaan gonta ganti wae, ora tahu podho"
" Sak lemari kebak kae budhe, wingi wae wis tak ringkesi ana 2 tas besar wis ra dinggo", jawab temanku.
"Terus mbok apakke?", tanyaku lagi.
"Tak simpen wae", jawabnya.
" Mbok dikekke tonggo-tonggomu kan akeh sing butuh lagian baju-bajunya masih bagus to?", saranku.
" Ra penak'e budhe, ndak darani ngenyek, wedi nek tersinggung",begitu alasan temanku.
Heran aku dengan jawaban seperti ini, yang sayangnya tidak cuman dia seorang yang mengatakannya.Jawaban seperti ini pernah juga diucapkan oleh beberapa orang yang berbeda ketika kuberi saran yang sama sebagai solusi memanfaatkan bajunya yang berjubel-jubel di lemarinya.
Sejak kapan memberi itu berarti menghina? Sehingga membuat orang takut untuk memberi karena khawatir yang diberi tersinggung?
Kalo meminta itu memang menghinakan diri tetapi memberi itu tidak berarti menghina yang diberi. Selagi yang diberikan adalah barang yang bagus/baik dan ketika memberi tidak dengan sikap yang merendahkan mestinya tidak perlu kekhawatiran seperti itu. Perkara kok yang diberi jadi tersinggung itu yang bermasalah adalah dia, dibaiki kok malah marah kan aneh namanya.
Sifat dermawan, suka memberi adalah sifat yang sangat di sukai Allah dan Rasulnya, bahkan sebagai salah satu tanda keimanan seseorang.
Rasulullah shalallahu a'laihi wassalam pernah bersabda, "Bersadaqahlah dan janganlah engkau terlalu memperhatikannya (memperhatikan kwantitasnya), sebab Allah tetap memberikan perhatian-Nya kepadamu.” (HR. Al-Bukhari dan Ibnu Hibban)
Dari hadis di atas hendaknya seseorang tidak merasa malu untuk bershodaqah dengan sesuatu yang sepele karena setiap shodaqah yang ikhlas akan tetap diperhatikan Allah tabarakta wa taa'la.
Sebagaimana amal baik lainnya, shodaqah, dermawan, itu perlu dilatih. Keenganan untuk memberi padahal dia tidak pelit semata mata karena tidak terbiasa saja.
Sayang bukan jika kesempatan untuk mendapatkan pahalanya Allah hilang hanya karena menuruti perasaan yang salah?
Ada baiknya kita renungkan firman Allah taa'la dalam surat Al-Lail: 17-21 :
"Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu
"yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya,
"Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus   dibalasnya
"tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi.
"Kelak dia akan benar-benar puas.
Wallahu A'lam
Diatri Ratih Rahayu,S.si,Apt

Rabu, 06 November 2013

PERHATIKANLAH TEMAN-TEMANNYA

Sebuah iklan obat cacing saat menghimbau konsumen untuk tidak lupa memberi obat cacing untuk anaknya, dengan sebuah nasehat:
“Anak anda mungkin bersih tetapi bagaimana dengan teman-temannya?”

Sepertinya bagus juga nasehat itu dibawa ke hal-hal lainnya agar orangtua lebih waspada.
“Anak anda rajin mengaji tetapi bagaimana dengan teman-temannya?”
“Anak anda rajin belajar tetapi bagaimana dengan teman-temannya?”
“Anak anda tidak berkata buruk tetapi bagaimana dengan teman-temannya?”
“Anak anda tidak merokok tetapi bagaimana dengan teman-temannya?”
“Anak anda tidak pernah melihat pornografi tetapi bagaimana dengan teman-temannya?”

Dan masih banyak deret pertanyaan yang bisa dibuat. Bukan untuk menyebarkan paranoid tetapi mengajak orangtua untuk waspada, karena banyak orangtua merasa aman-aman saja dengan pergaulan anak-anaknya tidak tahu apa yang tetjadi di balik punggungnya. Membatasi pergaulan anak, jelas bukan suatu langkah yang tepat karena bagaimanapun seorang anak membutuhkan teman untuk bersosialisasi dan mengembangkan kepribadiannya. Maka yang perlu dilakukan adalah memastikan anak mampu untuk memilih  dan mendapatkan teman-teman yang baik.

Rasulullah Shalallahu a’laihi wasallam memberi nasehat dalam memilih teman,

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Hadis diatas perlu dipahami oleh orangtua agar bisa mengajarkan pada anaknya bahwa parameter kebaikan dalam memilih teman adalah kebaikan agamanya,dalam bentuk yang lebih kongkret dilihat dari bagaimana sholatnya, akhlaqnya, sikapnya pada orangtua dsb. Seorang anak tidak akan bisa memilih teman yang shalih jika dia sendiri tidak terbiasa dan terdidik dalam keshalihan keluarga, tidak melihat contoh keseharian dari orangtuanya. Memilihkan anak sekolah yang baik hanya satu cara untuk menjaga pergaulan anak tetapi memberi bekal dan landasan yang kuat saat mereka bergaul dengan teman-temannya akan jauh lebih penting karena orangtua tidak bisa mengawasi anaknya 24 jam.

Sangat sedih melihat anak-anak belia tersangkut masalah-masalah besar baik sebagai pelaku ataupun sebagai korban, dan semua itu tidak terlepas dari teman-temannya.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita dan keluaraga kita dari pengaruh teman-teman yang buruk dan mengumpulkan kita bersama teman-teman yang baik.
Wallahul musta’an.

Jumat, 25 Oktober 2013

AYO BELAJAR ...

Suatu siang, setelah sholat dhuhur saya berbincang-bincang dengan seorang anak lulusan SMK tahun kemarin, dia sudah bekerja. Sebut saja namanya putri (tanpa bunda)
"Ora neruske kuliah Put", kata saya setelah sedikit bicara ngalor ngidul.
"Sakjane nggih pengin budhe, riyin mboten angsal kalih mamak, ragade ngge adik, nggih pun kula manut",jawabnya.
"Golek duit dewe, sebagian uang gaji ditabung nggo kuliah, mengko kuliah disambi kerjo, insya Allah bisa", kucoba menyemangatinya.
"Nggih budhe, ning artane kangge mawon , ajeng ngge golek SIM men dereng sida2, disuwun mamak ngge nyumbang kalih ngge betah sanes-sanese",jawab putri.dewe
"Gak pa pa, insya Allah diganti Allah sukbene, sing penting niat disik muga -muga diparingi jalan", hiburku, terenyuh mendengar ceritanya.
"Nggih budhe, dongakke nggih, muga-muga mawon saged nglumpuk artane ngge kuliah", jawab putri.
"Insya Allah, ilmu kui penting, meski rezeqi tidak tergantung kuliah atau tidak ning nek duwe ilmu dirimu akan lebih punya banyak pilihan, kuliah juga akan menambah wawadan dan membentuk cara berpikir yang lebih baik", kataku mengakhiri percakapan siang itu.
Pembicaraan seperti itu sudah beberapa kali kulakukan dengan beberapa anak SMK yang berbeda, kadang-kadang aku juga berpikir apa aku tidak memberi semangat palsu ya mengingat dunia kuliah apalagi sekarang ini tidak bisa terlalu huznudhan sebagaimana jaman dulu saat kuliahku dulu.
Niatku hanya ingin membangkitkan semangat belajar mereka, agar energi mereka hanya bermuara di tempat kerja seperti sekarang ini. Bekerja di usia yang masih belasan memang sangat bagus untuk mendidik kemandirian mereka. Tetapi tanpa tambahan ilmu hanya akan membuat mereka tak beranjak jauh dari yang sekarang ini mereka dapat. Sayang energi yang mereka punya. Selain itu pengin menyemangati anak-anak muda itu untuk tidak menyerah pada keadaan. Gelar bukan tujuan tetapi semangat belajar dan menggapai harapan harus tetap ditumbuhkan.
Mudah-mudahan saya tidak terlalu naif dalam hal ini.

Rabu, 16 Oktober 2013

HOBBY YANG TAK WAJAR

Seorang gadis cantik, imut, berusia belasan tahun datang ke apotek siang itu. Dia bertanya kepada salah satu pegawai apotek yang kebetulan sudah dikenalnya,"Mbak duwe co(kondom) merk iki sing rasa iki?(varian kondom merk tertentu)". Mendengar pertanyaan agak menggelitik dari seorang gadis yang tanpa sungkan bertanya tentang kondom, aku pun mendekat.'"Buat siapa mbak? "tanyaku padanya. Pertanyaan setengah menyindir yang bertujuan mengingatkan bahwa sebenarnya dia tak pantas beli seperti itu. Tapi jawabannya sungguh mencengangkan. "Buat saya bu, untuk koleksi"jawabnya dengan ringan. Masya Allah, tak bisa berkata apa-apa aku mendengar jawabannya. Tanpa perlu suudzan sekalipun padanya,  dan anggap saja dia berkata sebenarnya, jawaban itu sungguh menggiris hati. Memprihatinkan sekaligus menyedihkan.
Apa yang ada dalam pikiran seorang gadis jika hobinya adalah mengkoleksi berbagai varian kondom? Berbagai aroma? Meski kemasannya memang dibuat menarik dengan berbagai gambar buah-buahan, adakah orang yang terlalu naïf pikirannya berpikir dia mengkoleksi benda itu karena suka dengan bungkus-bungkusnya? Tidak ada bukan?

Informasi yang begitu luas dan tanpa batas, menyebabkan semua orang bisa mengakses informasi-informasi yang belum saatnya mereka terima, yang hanya menyibukkan pikiran mereka dengan hal-hal yang akan merugikan mereka. Sebagaimana melihat gambar-gambar porno maka mengakses artikel yang membahas sexsualitas secara vulgar juga bisa menimbulkan kecanduan. Hal ini akan berakibat sibuknya pikiran mereka dengan angan-angan yang buruk, yang akan terimplementasikan pada perbuatan nyata jika kesempatan itu ada. Paling tidak seperti halnya gadis itu dengan hobinya yang tak sewajarnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.”(Baa-ah menurut bahasa adalah jima’(berhubungan suami-istri)

Hadits diatas seharusnya menjadi pedoman bagi orangtua untuk mengarahkan putra/putrinya.Bahwa untuk menjaga anak-anak mereka dari nafsu syahwat yang belum saatnya, dari serbuan virus-virus cinta yang tiap hari menyerbu mereka, adalah dengan mengajak mereka berpuasa. Mengajak mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menyibukkan pikiran mereka dengan hal-hal yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat mereka.
Buka mata, buka hati, jangan sampai menyesal di kemudian hari.

Selasa, 15 Oktober 2013

CINTA



Cinta tidak hadir dalam satu kali tatapan.
 
Cinta jua belum hadir ketika janji diucapkan.
 
Mengapa perjalanan ini tertempuh juga?
 
Karena  yakin janji Allah tidak pernah berselisih meski seinchi sekalipun.
 
Keinginan untuk mendapatkan cintatNya menumbuhkan dan menyuburkan cinta di antara kita.
 
Sakinah itu datang seiring dengan kesanggupan kita mendahulukan yang harus daripada yang ingin
 
Sejauh perjalanan telah tertempuh kami dapati sesungguhnya nikmatMu sangat besar dan indah lebh dari yang kami kira.

 "Rabbi kekalkan kasih sayang diantara kami dan jadikan kami pasangan dunia akhirat".