Senin, 10 Agustus 2015

KAYA ITU DI SINI

Setiap kali jalan-jalan pagi menyusuri jalan desa sering bertemu dengan beberapa orang ibu-ibu, 3-5 orang, yang berjalan kaki dengan membawa bekal seadanya. Mereka adalah ibu-ibu buruh tani. Mereka berjalan kaki dari rumahnya menuju sawah yang akan mereka garap.
Setiap kali bertemu, kami gantian saling menyapa lebih dulu.

" Tindak bu?, jalan-jalan bu"?, begitu mereka biasa menyapaku.
Senyum mereka tulus, ikhlas. Meski kondisi yang mereka temui sangat berlawanan dengan yang mereka jalani sehari-hari.
 

Tanpa harus menampakkan yang kupunya, bersandal jepit sekalipun, nampak jelas aku lebih beruntung dari ibu-ibu itu, di pagi yang sama, sama-sama jalan kaki, tetapi mereka pergi untuk bekerja, memikul beban berat kehidupan mereka. Sedang aku? Jalan-jalan santai, bergandengan tangan, senyum sana senyum sini.
 

Ah...betapa mudahnya untuk merasa 'kaya', ketika kita menyadari begitu banyak kemudahan yang Allah beri, ketika kita bisa merasakan apa yang kita punya adalah nikmat dari Allah yang Maha Pemberi Rizqi.
Saat kita bisa melihat senyum tulus dari mereka yang Allah takdirkan 'kurang'dari kita, masih bisakah kita merasa bahwa kita lebih mulia dari mereka hanya karena kita lebih berharta?
Sesungguhnya Allah hanya melihat apa-apa yang ada di hati kita.
Wallahu'alam.

MEMASAK SENDIRI

Saat haji dulu, di madinah aku berjumpa dengan seorang ibu muda, berdarah melayu tinggal di Singapura. Neneknya orang minang, tetapi dia dan orangtuanya kewarganegaraan malaysia.
Kami bercakap-cakap dengan bahasa upin-ipin. Saat dia tahu kami masih berdua saja.
Dia bertanya,"Tiap hari jajan ja?"
Ketika kujawab,"Tidak, saya masak tiap hari"
"Cuman berdua ja masak?, tanyanya dengan nada suara kak Ros. He he he.
Bukan pertama kali ini aku ditanya seperti ini.
"Kami belasan tahun berdua dan entah sampai kapan masih berdua, jika selama itu jajan, alangkah membosankannya. Lagipula dengan memasak sendiri aku bisa menjaga kebersihan dan kehalalan makanan yang kami makan".
 

Begitulah, bagiku memasak sendiri bukan hanya sekedar menghadirkan makanan semata, tetapi itu adalah juga wujud cinta dan amal sholih . Dengan memasak sendiri lebih untuk bisa menjaga kehalalan bahan makanan yang kita makan. Selain itu jadi bisa berbagi juga.
Jadi meskipun, aku galak dan cerewet seperti mak lampir, setiap liburan ponakanku tetap saja hilir mudik masuk ke dapurku.
 

Dan setiap kali selesai makan, sering suamiku berkata,"Alhamdulillah, enak budhe. Matur nuwun ya.
Itu bonus untukku.

KETERBATASAN YANG MENDEKATKAN

Adalah Septa, seorang pemuda difabel yang kukenal lewat cerita suamiku. Dia mempunyai satu kaki yang tidak berfungsi optimal. Saat remaja dia disekolahkan oleh salah satu yayasan sosial. Sesekali dia hadir di majelis taklim yang diadakan di lingkungan kampus UII.

Beberapa kali menghadiri majelis taklim, sampailah dia pada satu kesadaran bahwa jika dia tidak beribadah kepada Allah, tidak mengisi hidupnya dengan ketaatan pada Allah, maka rugilah hidupnya. Di dunia dia sudah sengsara, di akhirat dia juga akan sengsara. Maka semenjak itu dia lebih giat untuk belajar agama.
 

Begitulah seorang difabel yang Allah takdirkan mempunyai keterbatasan, tidak menjadikannya menggugat takdir Allah. Dia bisa menjadikan keterbatasannya untuk memahami apa kehendak Allah atas dirinya.
Dan hari ini dia merintis pengajian untuk para difabel, agar teman-teman senasib dengan dirinya menemukan kesadaran seperti dirinya.
Semoga Allah melimpahkan barakahNya, memudahkan usahanya dan menerima semua amal ibadahnya.

CINTA ITU MENYAMAKAN

Suatu pagi saat jalan-jalan, kami mampir ke sebuah warung nasi langganan para bikers. Warung itu sederhana saja, berdinding kayu, dengan beberapa kursi kayu dan ada juga amben kayu. Tidak banyak menu makanan yang ditawarkan, hanya ‘jangan tholo’dengan irisan lombok ijo dan ayam goreng bacem, sepertinya ayam kampung tapi bisa juga ayam petelur yang sudah tidak produktif, jadi seperti ayam kampung rasanya. Penjual warung itu sepasang suami istri yang sudah tua. Meski sederhana tetapi warung itu sangat ramai, banyak para bikers yang mampir setelah selesai menempuh rute-rute favorit mereka.
Seiring dengan kian banyak peminat olahraga bersepeda, daerah kulon progo terutama daerah di perbukitan menoreh menjadi lokasi favorit untuk bersepeda.
 

Di warung itu kami menjumpai sepasang suami istri yang tengah beristirahat setelah bersepeda. Usianya sekitar 40 tahunan. Bapak itu bercerita kalo mereka baru saja bersepeda ke embung kleco, ngesong, girimulyo.
“Mandeg ping pinten pak?’tanyaku, karena kutahu daerah itu tanjakannya cukup tajam.
“Nggih ping kalih, ning seneng kula nek nyepeda teng daerah girimulyo mriki. Yen teng sermo pun bosen, mboten enten tantangane”jawab bapak itu.
 

Aku takjub sama istri bapak itu, kuat ya padahal daerah yang disebut bapak itu cukup tinggi. Bandingke sama diriku nyepeda ke pasar saja wis mengkis-mengkis. hi hi hi.
“Pun biasa bu, bojo kula riyin nggih mboten kuat ning kula ajak terus, sakniki nek prei mesti ngejak nggowes. Sakderenge nyepeda, sering sambat pegel-pegel. Bareng nyepeda awakke dadi seger, mboten tahu sambat malih”.
“Pendhak sabtu minggu nyepeda pak?”
“Nggih, pokoke pendhak prei mesti nggowes, prei tanggal abang 3 dinten nggih nggowes 3 dinten.
 

Wuiiih…contoh pasangan yang menemukan kesenangan bersama dalam hidup mereka, dan kesenangan inilah yang mendominasi hidup mereka sehari-hari. Aku tidak cukup kepo untuk menanyakan bagaimana anak-anak mereka.
 

Samanya kesenangan sepasang suami istri memang menjadikan hubungan suami istri itu makin dekat dan juga menjadikan kesenangan itu sendiri bisa terus dilakukan. Bisa dibayangkan jika salah satu pasangan itu tidak suka bersepeda bukan?
Maka bisa dimengerti bahwa cinta itu memang menyatukan, cinta itu menyamakan, cinta itu membuat seseorang berubah, cinta itu saling mempengaruhi.
Apakah cinta itu selalu membahagiakan?
Tergantung….atas dasar apa kita mencintai.

TIGA TAHUN BERJALAN

Sore itu saat ke panti kudapati 3 orang muridku sudah pulang setelah mereka menyelesaikan ujian SMK-nya. Mereka adalah murid-muridku yang pertama ketika aku mulai mengajar di panti ini. Awalnya panti asuhan muhammadiyah Tuksono ini hanya mendidik santri-santri laki-laki baru 3 tahun yang lalu mulai menerima santri perempuan.

Berarti sudah hampir 3 tahun aku mengajar, ikut mengasuh di sini. Waktu cepat sekali berlalu. Teringat saat awal keterlibatanku di sini. Waktu itu saya dan suami baru berangan-angan untuk bisa ikut terlibat dalam pengasuhan di panti ini, yang hanya berjarak 7 km dari rumahku. Tidak lama berselang suamiku ditemui oleh bapak pimpinan panti untuk meminta ibu mertuaku mengajar santri putri yang mulai diterima tahun ini. Ibu mertuaku pensiunan guru agama. Tetapi berhubung ibu sudah tidak bersedia, suamiku mengajukan driku. Maka jadilah aku mulai mengajar di sana.
 

Sebuah kebetulan yang jelas bukan kebetulan semata. Allah yang mengatur ini semua.
Terkadang apa yang kita inginkan,bahkan yang baru terbersit Allah bukakan jalan untuk itu. Maka penting untuk selalu menjaga niat dan usaha kita untuk selalu dalam koridor kebaikan agar tatkala Allah kabulkan menjadi berkah buat kita dan bukan sebaliknya.

MASA TUA YANG BAHAGIA

Dalam aktifitasku sehari-hari banyak berhubungan dengan ibu-ibu yang sudah sepuh. Di apotek, di rumah, saat nganter ibu, atau pas pengajian di masjid.
Asyik juga mengobrol dengan ibu-ibu sepuh ini, mengajaknya bicara, mendengar keluhannya meski berulang-ulang sekalipun, dan juga mendengar ceritanya.

Dari pembicaraan itu, aku belajar boso kromo lagi, belajar untuk bisa mendengarkan, mengatur volume dan kecepatan bicara dan mencoba untuk bisa memahami apa yang mereka sukai.
Meski bahan pembicaraan mereka tidak update, tetapi macam-macam juga topiknya, banyak yang bisa diambil pelajaran.
 

Waktu terus berjalan. Musim akan berganti. Suatu saat jika Allah izinkan, aku kan tua juga seperti mereka. Sungguh suatu nikmat jika bisa menikmati masa tua dengan bahagia, tenang dan tetap bisa beribadah.
"Allahumma matti'naa biasmaa'inaa wa absharina wa quwwatina ma ahyaitanaa waj'alhul waaritsa minna"
Ya Allah, anugerahkanlah kenikmatan kepada kami melalui pendengaran kami, penglihatan kami, dan dalam kekuatan kami selama kami masih hidup dan jadikan ia warisan dari kami.

SEHAT ITU NIKMAT

Malam itu, ada panggilan telpon masuk di apotek. Terdengar suara yang lemah di ujung telpon:
"Mbak, gadhah obat penghilang nyeri sing warnane oranye mboten?
"Obate jenenge nopo mbak?"
"Niku obat penghilang nyeri sing ngga loro kanker koyo kula, nek ngombe obat niku langsung mari mbak?"
"Wonten resepe mboten?"
"Mboten enten, enten mboten mbak? Nek wonten mbok tulung diterke riki.."
 

Dan pembicaraan pun berulang-ulang, tanpa ada nama obat yang dia sebutkan.
Dia ingin aku mengerti apa obat yang dia maksud, untuk bisa mengurangi rasa sakit yang dideritanya.
Aku tercenung, bisa memahami apa yang dia rasa sampai terlihat bingung seperti itu.
 

Tak lama berselang, datang suaminya. Membawa resep yang difotokopi.
Membaca resep yang dia bawa, langsung mahfum dengan kebingungan dan kekalutan penelfonku tadi. Sebuah resep analgetik golongan morphin , untuk pasien kanker terminal.
"Pak, obat niki mboten saged ditumbas tanpa resep dokter, jenengan kedah nyuwun resep kalih dokter ingkang ngrawat garwane", kula caosi penghilang nyeri sanese kangge sementara purun?"
"Wonten kok bu teng griyo".
 

Sepulang suaminya, aku masih termenung.
Mendadak aku merasakan tubuhku begitu ringan, jika kelelahan dan segala keluhan yang dirasa masih bisa hilang dengan tidur, tidaklah pantas untuk dikeluhkan sepertinya ya.
Sehat memang nikmat yang banyak orang tak menyadarinya.