Senin, 10 Agustus 2015

SEDERHANA ITU BERKAH

Sebuah pelajaran yang mengesankan tentang gaya hidup kutemui pagi tadi saat kami mengunjungi salah seorang teman haji suamiku.
Teman yang kami kunjungi tadi tinggal di pagerharjo, kecamatan samigaluh, kabupaten Kulon Progo. Samigaluh adalah kecamatan di kulonprogo yang terletak di perbukitan menoreh dengan ketinggian lebih dari 500 dpl. Berbatasan dengan kabupaten magelang dan purworejo.
Hampir 1 jam lamanya waktu yang kami butuhkan untuk sampai ke sana. Melewati jalan-jalan sempit yang menanjak tajam, berkelok-kelok dengan kiri kanan jalan lembah yang dalam selalu membuatku bersyukur Allah takdirkan diriku sejak kecil hingga saat ini di daerah yang mudah terjangkau. Sebuah rumah berlantai 2 menyambut kami.
 

Mungkin ada yang mengira teman suamiku tadi adalah petani sukses, orang yang berkecukupan tetapi milih tinggal di desa, pelosok gunung. Di sinilah yang menarik, karena teman tadi bekerja di perusahaan pertambangan asing. Setiap bulannya bertugas di berbagai negara berganti-ganti. Dia punya rumah di jakarta dan di kalimantan, asal istrinya. Tetapi dia memilih tinggal di samigaluh, kulon progo. Bersama istri dan anak-anaknya menemani ibunya dan mereka masih muda, selisih 2 tahunan dari kami.
"Saya gak betah tinggal di jakarta mas, enak tinggal di sini. Kalau pas pulang ke rumah, sesekali pergi ke kebun juga, ngge tombo kangen".
"Kalo pas bapak pergi, saya di rumah saja, tidak ke mana-mana. Baru kalo bapak pulang, mengajak pergi baru saya pergi"tambah istrinya.
 

Pembawaannya yang rendah hati dan ramah sangat mengesankan. Betapa harta yang berlimpah tak merubah sifat mereka. Kesempatan untuk bersinggungan dengan pusat-pusat kemewahan dunia tak menyilaukan mereka.
Betapa tenang dan tenteram orang-orang yang Allah beri dengan sifat qanaah, merasa cukup dan menyederhanakan hidup mereka. Kekayaan mereka tidak terlihat dari apa yang nampak pada diri mereka tetapi apa yang terpancar dari hati mereka.
Semoga Allah melimpahkan rahmat dan barakahNya pada keluarga mereka dan menjadikan anak-anak mereka, menjadi anak-anak yang sholeh

LUGUNYA AKU

Lebaran kali ini aku berkesempatan untuk mengunjungi beberapa teman.
Saat bertemu dan mengobrol, ibu dari temanku itu berkata"jenengan ki kok lugu men to mbak?"
"Lugu pripun bu?"
"Nggih lugu....sederhana banget ngono lho jenengan ki"

Aku cuman ketawa mendengar komentar ibu temanku itu. Aku yakin ibu itu tidak berniat mengejekku dan aku pun tidak tersinggung dengan penilaiannya. Dibandingkan anaknya yang berpenampilan perfek dan fashionable, diriku yang tampil tanpa polesan make up dan perhiasan satupun mungkin memang terlihat begitu sederhana, atau bahkan seadanya.
Sebenarnya komentar seperti ini bukan pertama kuterima tetapi baru kali ini begitu to the point. Kasihan deh gue...he he he
 

Dalam hal penampilan, aku punya prinsip bahwa baju bagus itu tergantung pada kapstoknya. Artinya sebagus apapun penampilan yang akan menentukan keindahannya tetaplah kepribadian orang itu. Baju bagus tetapi wajah judes, susah senyum tetap tidak akan terlihat indah.
Tetapi rupanya aku kepedean, he he he
Kadang pernah tergoda juga untuk tampil sedikit bling-bling, biar terlihat sedikit gemerlap. Tetapi dihati gak nyaman, kikuk, dan seperti tidak menjadi diri sendiri. It is not me.
 

Pada akhirnya, aku memilih jujur pada diri sendiri. Selagi itu tidak menghilangkan nikmat Allah yang diberikan kepadaku, aku memilih untuk tampil sebagaimana adanya diriku selama ini.
Kadang kita memang harus mencoba untuk mengerti orang lain tetapi jika itu berkaitan dengan prinsip dan kepribadian kita maka tidak mengapa jika orang lain tidak mengerti dengan pilihan kita.

MENJAGA IFAF

Satu hal yang kuanggap penting untuk sering kupesankan pada anak-anak panti adalah agar mereka bersikap mandiri dan menjaga ifaf, menjaga kehormatan diri dengan tidak mudah meminta-minta pada orang lain.
Menerima pemberian terus menerus dari orang lain akan berpotensi terjatuh pada 2 keadaan, yang pertama menjadi tergantung pada pemberian orang lain, yang kedua menjadi rendah diri.
Dua keadaan yang tidak baik untuk perkembangan kepribadian mereka.

Seringkali kukatakan,"Menerima pemberian orang lain bukan hal yang memalukan, ditolong oleh orang lain juga bukan aib, tetapi selalu berharap akan pertolongan orang lain jelas bukan hal yang diajarkan oleh Rasulullah. Meminta-minta kepada manusia tidak akan mengantarkan pada kemuliaan. Rasulullah mengajarkan umatnya dalam kondisi apapun untuk menolong orang lain, meringankan beban orang lain. Sedang kesusahan kita berharaplah hanya kepada Allah.
Maka bersyukurlah kepada Allah saat kalian menerima kebaikan dan berterimakasih kepada orang yang berbuat baik pada kalian. Dan berharaplah suatu saat Allah mampukan kalian untuk menolong orang lain sebagaimana orang lain saat ini menolong kalian.
Banyak orang tak beranjak dari kehidupannya karena dia tak pernah punya cita-cita ingin menolong orang lain. Maunya orang lain menolongnya terus.
 

Di bulan Romadhon, saat begitu banyak orang memperhatikan mereka dan mengulurkan tangan mengasihi mereka, berharap pemberian itu melembutkan hati mereka. Menjadikan mereka bersyukur kepada Allah dan yakin Allah mengasihi mereka dibalik keterbatasan yang mereka punyai saat ini dan bukan sebaliknya.

BERBAGI KISAH HIDUP

Bertemu teman atau sahabat lama adalah sebuah kebahagian. Sekian tahun tak bertemu tak menjadikannya sebuah jarak yang membuat canggung. Langsung nyambung.

Beberapa dari mereka berbagi kisah hidup yang mereka alami. Persoalan hidup yang mereka alami hingga bagaimana mereka menyelesaikannya.Apa yang mereka ceritakan hampir semua membuat mulutku menganga. Masya Allah, sungguh kutaktahu bagaimana jadinya jika aku yang mengalaminya. Setiap orang memang punya jalan hidup masing-masing, dan setiap manusia akan diuji sesuai kadar kemampuannya.
 

Berbagi kisah hidup dan mengambil hikmah darinya akan sampai pada kesimpulan bahwa tidaklah pantas mengirikan hidup orang lain. Apa yang Allah berikan adalah yang terbaik, Allah sudah mengukur kekuatan kita. Maka bersyukurlah dan berbahagialah dengan yang Allah beri. Bersyukur ketika kita berhasil melewati ujianNya. Seberat apapun masalah tidak lagi membebani ketika masalah itu sudah ada di belakang kita, yang tersisa adalah rasa syukur atas besarnya nikmat dan pertolongan Allah sesudahnya.
 

Tanpa harus membuka kembali buku harianku, masih kuingat saat lembaran-lembaran itu penuh air mata. Yang seandainya kuceritakan bisa jadi juga membuat mulut menganga orang yang mendengarkannya. Dan begitu mudahnya Allah menghapus semua itu.

MENGELOLA MASALAH

Beberapa waktu yang lalu, aku menjelaskan bagaimana mengelola masalah ke anak-anak Panti. Cepat atau lambat mereka akan mulai menemui masalah dalam kehidupan mereka, seiring dengan bertambahnya usia dan tanggungjawab mereka. Adanya remaja yang kabur dari rumah atau bahkan bunuh diri hanya karena putus cinta adalah contoh nyata dari ketidakmampuan remaja dalam mengelola masalah mereka. Maka kurasa penting untuk membekali mereka bagaimana menghadapi masalah,sebagai sebuah ketrampilan untuk hidup. Karena orang yang bahagia itu bukannya orang yang tidak pernah punya masalah, tetapi orang yang bisa mengatasi masalah mereka, dan bisa mengambil hikmah dari masalah itu menjadi sesuatu yang membawa kebaikan buat mereka.
 

Pada waktu itu kukatakan pada mereka,”Masalah itu bagai matahari. Dia akan ada selama kehidupan ini ada. Kemanapun kalian akan menghindar, bersembunyi, matahari itu tetap ada di sana. Akan tetapi kalian bisa memanfaatkan matahari itu kebaikan kalian, dan kalian juga bisa melakukan usaha-usaha agar panasnya matahari tidak merugikan kita. Maka hadapi masalah yang kalian hadapi, jangan menghindar. Jika kalian lari atau menghindar, maka masalah itu akan tetap ada”.
 

Malam harinya, kupikir-pikir benar tidak ya perumpamaanku tadi? Sepertinya kok rada-rada tidak nyambung ?

KAYA ITU DI SINI

Setiap kali jalan-jalan pagi menyusuri jalan desa sering bertemu dengan beberapa orang ibu-ibu, 3-5 orang, yang berjalan kaki dengan membawa bekal seadanya. Mereka adalah ibu-ibu buruh tani. Mereka berjalan kaki dari rumahnya menuju sawah yang akan mereka garap.
Setiap kali bertemu, kami gantian saling menyapa lebih dulu.

" Tindak bu?, jalan-jalan bu"?, begitu mereka biasa menyapaku.
Senyum mereka tulus, ikhlas. Meski kondisi yang mereka temui sangat berlawanan dengan yang mereka jalani sehari-hari.
 

Tanpa harus menampakkan yang kupunya, bersandal jepit sekalipun, nampak jelas aku lebih beruntung dari ibu-ibu itu, di pagi yang sama, sama-sama jalan kaki, tetapi mereka pergi untuk bekerja, memikul beban berat kehidupan mereka. Sedang aku? Jalan-jalan santai, bergandengan tangan, senyum sana senyum sini.
 

Ah...betapa mudahnya untuk merasa 'kaya', ketika kita menyadari begitu banyak kemudahan yang Allah beri, ketika kita bisa merasakan apa yang kita punya adalah nikmat dari Allah yang Maha Pemberi Rizqi.
Saat kita bisa melihat senyum tulus dari mereka yang Allah takdirkan 'kurang'dari kita, masih bisakah kita merasa bahwa kita lebih mulia dari mereka hanya karena kita lebih berharta?
Sesungguhnya Allah hanya melihat apa-apa yang ada di hati kita.
Wallahu'alam.

MEMASAK SENDIRI

Saat haji dulu, di madinah aku berjumpa dengan seorang ibu muda, berdarah melayu tinggal di Singapura. Neneknya orang minang, tetapi dia dan orangtuanya kewarganegaraan malaysia.
Kami bercakap-cakap dengan bahasa upin-ipin. Saat dia tahu kami masih berdua saja.
Dia bertanya,"Tiap hari jajan ja?"
Ketika kujawab,"Tidak, saya masak tiap hari"
"Cuman berdua ja masak?, tanyanya dengan nada suara kak Ros. He he he.
Bukan pertama kali ini aku ditanya seperti ini.
"Kami belasan tahun berdua dan entah sampai kapan masih berdua, jika selama itu jajan, alangkah membosankannya. Lagipula dengan memasak sendiri aku bisa menjaga kebersihan dan kehalalan makanan yang kami makan".
 

Begitulah, bagiku memasak sendiri bukan hanya sekedar menghadirkan makanan semata, tetapi itu adalah juga wujud cinta dan amal sholih . Dengan memasak sendiri lebih untuk bisa menjaga kehalalan bahan makanan yang kita makan. Selain itu jadi bisa berbagi juga.
Jadi meskipun, aku galak dan cerewet seperti mak lampir, setiap liburan ponakanku tetap saja hilir mudik masuk ke dapurku.
 

Dan setiap kali selesai makan, sering suamiku berkata,"Alhamdulillah, enak budhe. Matur nuwun ya.
Itu bonus untukku.