Kamis, 18 September 2014

MAKNA TULISAN

Tulisan bisa memberi dampak begitu besar baik untuk dirinya ataupun untuk pembacanya. Kasus yang baru saja terjadi adalah satu contoh bahwa deretan huruf ttu bisa menggambarkan emosi penulisnya dan dipahami dengan emosi yang pasti tak diduga penulisnya.
Meski sering tak disadari, gerak hati seseorang terlihat pada tuilisannya.
Sewaktu kuliah saya bersama 3 teman lainnya pernah mengontrak sebuah rumah. Suatu saat salah seorang teman marah pada saya karena salah paham. Saya menulis surat minta maaf sambil menjelaskan duduk persoalannya. Surat itu saya selipkan di bawah tape di meja belajarnya. Kemudian saya pulang ke rumah. Ketika kembali ke kost, saya lihat ada balasan surat untuk saya di bawah tape yang sama. Kami baikan lagi tanpa suara, tulisan itu bisa menjembatani perasaan saya dan diterima dengan perasaan yang sama. Kami berselisih dan berdamai tanpa diketahui 2 orang teman yang lain yang tinggal serumah.
Sepertinya lucu, tapi saya belajar banyak dari kejadian itu dan mulai mengerti bahwa tulisan bisa menjadi sesuatu yang sangat bermakna ketika tepat menggunakannya.
Ketika masih terhitung pengantin baru, suami saya pernah berkaca-kaca membaca tulisan saya dan bertambahlah cintanya(ehm...ehm) tentu saja karena saya menulisnya pun dengan cinta.
Saya menulis apa yang saya rasa, saya dengar dan ingin saya ceritakan. Kadang sebenarnya nasehat untuk saya sendri. Berharap bisa memberi manfaat buat yang membaca, bukan sekedar meramaikan meski kadang suka iseng juga.
Saya baru belajar, seperti halnya hal-hal lainnya banyak yang saya mulai ketika usia tak lagi belia.

CERITA DARI PANTI 5

Sebuah sms masuk dari salah seorang anak penghuni panti asuhan yang biasa kukujungi.
"Ibu saya ingin keluar dari panti".
"Ada apa, apa yang terjadi?"
"Tidak tahu ni bu, sudah tidak kerasan saja".
Sampai di sini sms tidak kubalas, jika dia menceritakan duduk persoalannya maka kuusahakan untuk bisa menemaninya, tapi ketika jawabannya menunjukkan kegalauan saja maka biar dia bisa berpikir dulu, biar belajar untuk memahami persoalan dirinya sendiri. Untuk masalah penting seperti itu mestinya bukan berdasarkan kegalauan. Itu yang hendak kusampaikan dengan tidak kujawab smsnya.
Panti Asuhan di mana aku sering kesana bukanlah panti asuhan sebagaimana yang dikesankan di cerita-cerita, mereka semua masih punya orangtua meski tidak lengkap, pagi mereka sekolah biasa, selebihnya mereka dididik dengan pendidikan agama. Ada ustadz pengasuhnya.
Sedang yang bertanya padaku pun sudah lulus SMA yang sedianya mau melanjutkan kuliah atas biaya panti. Jadi bukannya aku kejam tho dicurhati kok tidak dibales, wajar bukan ketika aku berharap dia bersikap dewasa?.
Meski mereka anak panti asuhan, meski mereka selama ini " hidup" dari santunan, aku berharap mereka mempunyai kemandirian sikap, bisa menentukan sikap untuk kebaikan mereka sendiri, dan bukannya menjadi lemah jiwanya. Kemandiran sikap dibangun dengan mengenali apa yang jadi persoalannya, baru bisa memutuskan jalan keluar dari persoalan tersebut.
Seseorang memang cenderung bersimpati ketika mendengar kesusahan orang lain tetapi akan menjadi tidak baik ketika menjadikan sesorang berpikir orang lain harus menolongnya ketika dia merasa susah. Apalagi jika bantuan itupun harus sesuai keinginannya.

SAAT SENDIRI


Saya jarang ditinggal suami pergi dalam jangka waktu lama. Rekor terlama ditinggal cuman 10 hari, itupun setiap hari bisa bertemu, lha wong cuman ditinggal ittikaf.
Maka ketika baru- baru ini ditinggal suami diklat sebulan, saya merasakan perasaan yang bagi sebagian orang norak habis. Ya, saya merasakan rindu berat. He
Tetapi bukan itu yang mau saya ceritakan di sini. Saya baru sadar betapa kesendirian memang menyebabkan hidup sangat tidak berimbang. Awalnya saya mengira bisa berbuat banyak dengan sisa waktu yang saya punya karena tidak melayani suami ternyata juga tidak membuahkan hasil yang nyata. Karena apa? Karena ternyata kesendirian menyerap energi yang besar, energi untuk mempertahankan stabilisasi hati untuk tidak galau karena sendiri. Sendiri lebih produktif, paling tidak untuk saya sendiri tidak terbukti.
Mohon maaf, bukan maksud saya untuk semakin memojokkan bagi teman-teman yang sampai saat ini Allah mentakdirkan masih sendiri. Saya hanya ingin berbagi semangat bahwa ketika Allah menjanjikan banyak pahala yang besar dari sebuah pernikahan, bahkan Rasulullah shalallu a'laihi wassalam bersabda," menikah adalah sunnahku". Itu karena memang ada hikmah dan manfaat yang besar untuk manusia itu sendiri.
Untuk itu meski jodoh adalah rahasia Allah, maka usaha harus terus dicanangkan dan usaha terbesar adalah berdoa. Jangan pernah putus asa dalam berdoa, mengharapkan sebuah kebaikan dalam hidup tidak boleh berhenti hanya karena usia. Jika itu yang dikerjakan maka setiap detik penantian memjadi tabungan amal dan lamanya waktu untuk menunggu menjadi tidak terasa karena begitu istimewanya yang ditunggu.
Maafkan jika saya sok tahu...atau malah baru tahu?

Senin, 08 September 2014

KENANGAN HAJI 6

Ketika mau berangkat haji rasanya bahagiaa banget. Saking bahagianya terkadang sampai lupa untuk istirahat dan itu bisa berakibat buruk, paling tidak itu yang terjadi padaku.
Jam 2 malam sebelum penerbangan, aku sudah terbangun. Banyak ibu-ibu yang lain juga sudah terbangun. Salah satu mengusulkan untuk mandi besar sekalian saja karena kami masuk gelombang 2 yang berarti miqot di pesawat ketika pesawat melewati yalamlam. Maka mandi besar sebagai sunnah bagi yang hendak ihrom dilakukan sejak di donohudan. Aku mengiyakan, karena semangat itu tadi, ingin persiapan beres sejak awal. Padahal jadwal penerbangan jam 1 siang, cukup waktu untuk persiapan tanpa harus mandi besar di waktu dini hari. Setelah mandi langsung ke masjid untuk tahajud hingga sholat subuh.
Setelah sarapan, ada sisa waktu untuk istirahat. Tetapi berhubung lagi bahagia, aku ya hilir mudik saja, Apalagi sebagai jamaah termuda dipanggil sana sini untuk membantu kerepotan ibu -ibu yang sudah sepuh untuk berbagai kerepotan mereka. Sampai di sini semua sepertinya baik-baik saja.
Saat penerbangan menempuh 7 jam perjalanan, kepalaku mulai berat dan pusing, napaskupun mulai sesak. Aku mencoba untuk minum jamu t***k angin untuk menghilangkan pusing dan mencari minyak angin. Tapi upaya itu tak berhasil. Saat kepalaku makin pusing, aku bilang sama suamiku," Mas, aku pusing banget".
Suamiku pun pergi mencari dokter kloter, saat kembali dia melihat wajahku semakin pucat dan mataku terpejam meski aku masih bisa berbicara. Suamiku segera bergegas kembali untuk memanggil dokter. Saat itu aku sudah pasrah, mungkinkah aku menjadi jamaah yang meninggal di atas pesawat? Sebegitu katroknyakah diriku hingga terbang sedikit lama saja mau pingsan?
Ketika suamiku datang bersama dokter, aku sudah terkulai dan wajahku pucat pasi. Aku pingsan di atas pesawat.
Masih terdengar suara perawat yang membantu dokter kloter, "waduh, piye carane le nurokke iki?". Sesaat kehebohan terjadi. Ditangan kananku masih memegang minyak angin, didekatkannya minyak angin itu ke hidungku kemudian dipijit-pijitnya pelipisku. Beberapa menit kemudian wajahku mulai memerah dan aku pun sadar. Dokter yang memeriksaku bilang," Tidak apa-apa bu, ibu paling kecapekan dan tali jilbabnya terlalu kencang jadi darah tidak lancar ke kepala apalagi udara mulai tipis di ketinggian". Baru teringat, aku memang tidak biasa pakai jilbab yang bertali, jilbabku pun biasanya longgar.
Sisa perjalanan kulewati dengan memohon pada Allah agar memudahkan perjalananku, memberiku kekuatan dan juga istighfar, bagaimanapun segala yang berlebihan itu tidak baik.
Teringat juga saat tes kesehatan hasil rekam jantungku pun tak terlalu bagus, dokter yang memeriksaku pun menyarankan untuk konsultasi ke dokter internis, tapi itu pun tak kulakukan. Khawatir terlalu banyak yang kupikirkan. Padahal menyiapkan dan mengantisipasi setiap kemungkinan jauh lebih baik dan membuat kita lebih siap untuk beribadah. Apalagi untuk ibadah haji yang membutuhkan kekuatan fisik.
Alhamdulillah, selama menjalankan ibadah haji Allah memberi kesehatan dan kekuatan hingga pulang kembali ke tanah suci.
Mudah-mudahan bisa bermanfaat buat teman-teman yang hendak berangkat haji.

Senin, 18 Agustus 2014

STATUS FB ROMADHON



Malam bergerak menggeser hari
Udara dingin membekukan bumi
Hati tersentak malam keberapakah ini?
Betapa diri ini lalai membiarkan hari berganti
Sedang amalan tak kunjung berarti
Udara dingin yang menggenggam malam
menggugah jiwa
Mengingatkan jiwa-jiwa yang mulai lemah
Ada malam yang Allah janjikan lebih mulia dari seribu bulan

Saatnya berhenti sejenak untuk menghitung langkah
Melihat ke belakang
Merekam jejak
Mengukur yang sudah terlewat
Tak harus sampai ke ujung untuk meperkirakan hasil
Tak perlu menunggu menyesal untuk melihat kesalahan diri
Tinggal beberapa hari lagi
Masih ada kesempatan untuk berbenah diri..

Ya Allah...
Saat kami mampu menahan lapar tapi hati tak kunjung bisa sabar
Saat kami membaca ayat-ayatMu tapi tak kurang lama juga kami habiskan waktu untuk membaca perdebatan tak bermutu
Saat sholat pandangan mata kami tertunduk bukan karena khusyuk tapi karena ngantuk
Maka ampuni kami Ya Allah...
Dan terimalah amal ibadah kami..
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

KEBERSAMAAN YANG MAHAL



Salah satu murid pengajian remaja yang kuasuh pamit untuk meneruskan SMP di jakarta. "Disuruh ibu budhe," begitu dia bercerita.
Sejak kecil dia diasuh simbahnya, sedang ibu dan bapaknya kerja di jakarta. Bekerja sebagai buruh di ibukota bisa jadi tidak memungkinkan orangtuanya untuk mencari pengasuh anak untuk merawat anaknya ketika mereka bekerja, maka solusi paling mudah adalah menitipkan anaknya pada neneknya untuk diasuh.
Sangat wajar ketika si ibu berkeinginan untuk bisa bersama dengan anaknya ketika anaknya mulai besar.
Simbah muridku tadi rupanya tetap tidak sampai hati untuk melepas cucunya, bisa jadi dia khawatir keadaan cucunya karena toh bapak dan ibunya tetap bekerja dari pagi sampai sore, siapa yang mengawasi cucunya? Maka diapun ikut pindah ke jakarta.
 
Cerita menjadi mengharukan dan absurd bagiku ketika kutahu muridku itu punya adik yang sekarang baru masuk SD. Rupanya kakak beradik itu dititipkan pada simbahnya bersama buliknya. Dan sekarang adiknya itu tetap ditinggal untuk bersekolah di sini bersama buliknya.
 
Ya... Allah, betapa sulitnya mereka mencari uang, hingga penghasilan mereka takcukup untuk membeli kebersamaan dengan anak-anaknya.
 
Potret kehidupan buruh urban yang kurasa tidak cuman keluarga ini saja.
Berharap Allah menolong keluarga-keluarga senasib dengan mereka dengan memberi hidup dan kehidupan yang baik dan menjadikan anak -anak mereka menjadi anak yang sholih/sholihah,yang mandiri dan bertanggungjawab terhadap diri dan keluarganya.
Semoga Allah melindungi dan menjagamu, .

JALAN-JALAN PAGI

Salah satu segmen kehidupanku yang kusukai adalah saat jalan-jalan pagi berdua. Meski terkadang aku harus dipaksa dulu untuk mau jalan-jalan. Lumayan membuat badan segar dan banyak kejadian yang menarik yang kutemui di acara jalan-jalan itu.
Salah satunya adalah banyak rejeki yang datang menghampiri. Benar-benar menghamipiri.
Pernah saat kami berjalan mau pulang lewat rumah tetangga yang sedang memindah lele dari kolamnya karena kekurangan air maka lele-lele itu saling menggiggit, melihat kami jalan, si ibu melambaikan tangan memanggil kami,"Mbak purun masak lele?". Maka pulanglah kami dengan 3 ekor lele sebesar lengan orang dewasa.
 

Kemudian, ada lagi saat kami berjalan di depan rumah seorang teman, mereka melambaikan tangan menyuruh mampir dan membagi panenan bawalnya.
Entah apa kami seperti pengembara kekurangan bekal atau nampak suka makan, yang jelas kami tak pernah menolak rezqi, apapun itu kami terima dengan senang hati. Badan sehat kadang masih bawa rambutan, pisang ataupun pepaya. Pernah juga ada yang kasih buku.
 

Rizqi dari Allah memang bisa dari arah mana saja, kadang tanpa disadari kita bergerak menjemput rizqi kita. Meski usaha dan apa yang diperoleh tidak nyambung sekalipun.
Maka jika seseorang merasa sempit rezqinya, bisa jadi karena dia tidak mengenali rizqi yang diterima hanya karena tak sesuai dengan apa yang diinginkannya.
 

Maka memahami rezqi yang kita terima adalah langkah awal dari bersyukur kepada Allah Azza wa jalla, artinya langkah awal untuk bahagia.