Selasa, 12 April 2016

JALAN KELUAR ITU DEKAT

Dulu ada seorang sales alat kesehatan, perempuan, setiap kali kunjungan ke apotekku selalu curhat. Tanpa kutanya lebih dulu, sebelum dia menanyakan ada orderan tidak, dia langsung saja bercerita panjang lebar. Segala hal dikeluhkannya. Mulai dari beratnya beban sejak ditinggal suaminya meninggal beberapa tahun lalu, keinginannya untuk menikah lagi, anak-anaknya yang tidak mengerti kesulitannya sampai target yang sulit tercapai.

Meskipun aku orangnya suka denger cerita, mendengar begitu banyak keluh kesahnya dan masalah pribadi yang begitu gampang diceritakan pada orang yang relatif baru dikenalnya, lana-lama jengah juga. Pengalaman orang seperti ini tidak bisa dipercaya. Aku tidak tahu apakah dia begitu juga di setiap Apotek sebagai salah satu trik dia untuk menarik simpati sehingga dapat orderan atau memang hobinya senang mengeluh saja.

Suatu ketika, dia datang dengan wajah begitu kusutnya. Tanpa basa basi langsung dikeluarkannya semua yang ingin diceritakannya. Seakan semua persoalanya mengumpul jadi satu hari itu.
Setelah dia puas cerita, kutanyakan padanya, "Nek masalahmu ruwet mbundhet koyo ngono kui mbak piye caramu le mengatasi? Ben atimu cepet padhang?

Dia menjawab tanpa ragu-ragu, "Aku lunga neng mall bu, lha piye? Arep neng pantai dewekan mengko malah piye? Nek bar saka mall mengko njuk enteng".

Terus terang jawabannya yang spontan mengagetkanku, menunjukkan memang dia biasa melakukannya.
"Bukannya kalo ke mall tambah pusing? Dadi pengin reno-reno? Kok ora dinggo sholat wae, diakehi le donga?"
"Aku yo wis donga bu, ya wis sholat barang ".

Tanpa bermaksud merendahkan mbak sales tadi, mbak sales itu tadi hanya contoh bahwa banyak dari kita mungkin termasuk juga diriku ini yang melarikan masalah dan menyandarkan kesulitan hidup pada sesuatu yang sama sekali tidak membantu kita . Kesenangan jalan-jalan di mall tidak akan membantu kita menyelesaikan persoalan kecuali hanya mengalihkannya sesaat saja.

Janji Allah Ta'alaa dalam Al-Quran bahwa Allah akan mengabulkan hambaNya yang memohon kepadaNya, kemudian di ayat yang lain Allah berfirman Hanya dengan mengingatKu hati menjadi tentram. Hanya dipahami tanpa berusaha menyakininya hingga ke dalam hati.

Sesorang dalam hidup ini butuh sandaran. Ketika duduk saja, orang mesti memilih tempat duduk yang punya sandaran kokoh, yang memberi rasa nyaman. Bagaimana mungkin sesorang bisa hidup tenang, tentram tanpa sandaran hidup yang kokoh?
Maka jalan keluar dari segala keruwetan hidup kita sebenarnya mudah dan dekat saja. Di mana ada tempat sujud, di situlah kita bisa mengadukan seluruh persoalan hidup kita.

TIADA TEMPAT KEMBALI

Sore itu suasana sepi, masih ada sisa-sisa air hujan yang nampak di halaman dan jalan. Masuk ke apotek seorang laki-laki muda dengan baju, maaf kumal, beberapa nampak tambalan di celana dan bajunya. Meski nampak terlihat seperti gelandangan, kucoba untuk bersikap biasa dan tidak berprasangka buruk padanya.

Kusapa dia,"Perlu apa mas?

Pemuda itu, dari wajahnya seperti berasal dari indonesia timur menjawab dengan bahasa indonesia dengan suara yang sangat pelan.

"Ada Albothyl bu?"


Agak sangsi kuambilkan albothyl, bagaimanapun tetap saja sangsi apa tidak kemahalan buat dia.
Sambil mengangsurkan obat itu padanya, kutanyakan padanya," Memangnya kenapa mas?".

"Telinga saya sakit sekali, sampai sini-sini, "jawabnya sambil menunjuk daerah sekitar telinga.

"Oo...kalau itu bukan albothyl obatnya".

Kuambilkan obat tetes telinga dari dalam apotek, kemudian diberikan padanya.
"Pakai ini mas, diteteskan 3 tetes 3x sehari ke telinga yang sakit".
"Diteteskan di telinga?" tanyanya sangsi.
Kemudian dia membuka obat itu dan meneteskan di telinganya.
Setelah itu dia masih mengeluhkan sakit telinganya dengan suara pelan dan tak jelas. Lama--lama takut juga aku.

"Kalo masih sakit, ke puskesmas saja?"saranku
"Di sini bukan puskesmas?",tanyanya.
"Ya bukanlah, ini apotek".

Dia masih duduk beberapa saat, menggelengkan telinganya beberapa kali. Kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah keluar
.
Waduuh...bener-bener tidak bayar nih. Terus kulihat obat tetes telinga yang dipakainya tadi. Tanggung amat. Segera kuambil obat itu, dan kubuka pintu dan kupanggil pemuda tadi.
Saat dia mendekat, kuserahkan obat itu kembali.
"Pakai saja".
Pemuda itu menerima kembali obat itu dan pergi tanpa mengucapkan terima kasih.

Sambil melihatnya pergi, berharap obat itu mengurangi sakitnya. Bagaimanapun dia tidak berbuat jahat dan hanya meminta sebatas yang dia butuhkan.

Masih termangu, ada berapa orang seperti dia?

Terkadang yang menyedihkan bukan hanya melihat kepapaan seseorang tetapi bagaimana melihat seseorang hidup tanpa orientasi yang jelas, tanpa tujuan dan tanpa rumah yang menjadi tempat kembali.

TAK SEMUA HARUS BERUBAH

Pulang dari mengajar di panti sore itu, waktu sudah jam 17.30. Berarti suamiku sudah pulang. Benar saja, saat diriku masuk rumah kudapati beliaunya sudah tiduran.
“Sampun dhahar Pakde”, sapaku sambil berjalan mendekati meja makan.
“Sudah, Alhamdulillah enak”,jawabnya seperti biasa setiap kali dia selesai makan
.
Hari itu aku masak Cap Jay kuah, menu andalan. Tinggal potong-potong sayuran terus cemplung-cemplung, selesai. Enak, cepat dan sehat.

Saat kubuka tudung saji, kulihat sebuah sendok teh panjang yang biasa untuk minum es duduk manis di mangkok Sayur. Rupanya aku lupa menaruh sendok sayur dan suamiku menggunakan sendok es itu untuk mengambil sayur.

“Masya allah pakde mosok yo ambil sayur pakai sendok es?’

“Ora po po Budhe. Aku cuman ingin menujukkan bahwa aku tidak melakukan diskriminasi terhadap sendok-sendok itu sehingga yang berhak mengambil sayur hanya sendok sayur, biar sendok es juga punya kesempatan sama untuk mengambil sayur”
.
He he he bisa saja Suamiku ngelesnya. Sakjane ya tidak gantekan saja untuk hal hal kecil seperti ini.
Begitulah sodara-sodara, kadang setelah belasan tahun menikah ada saja hal-hal kecil atau sifat dari suami yang tidak berubah. Meskipun itu kita tak suka dan sudah protes, eh…tepatnya ngomel berulang kali.

Persis iklan Tanggo….berapa kali? Ratusaan….

Jika itu bukan suatu hal yang mempengaruhi hajat hidup keluarga dan prinsip hidup yang efeknya akan sampai akhirat nanti, maka berlonggar hati adalah cara paling mudah untuk hidup aman dan sejahtera. Hidup berumah tangga tidak harus semua jadi sama akan selalu ada sisi-sisi dari pasangan maupun kita yang akan tetap sama, tidak berubah. Soal selera misalnya.

Memahami atau mengerti atau membiarkan mana sifat yang memang harus berubah atau tidak perlu dipersoalkan akan semakin mudah seiring dengan semakin kenalnya kita dengan sifat suami kita. Begitupun sebaliknya.

Tentu saja itu butuh waktu.

SALING PENGERTIAN

Sore itu suamiku pulang kerja dengan wajah terlihat sedang berpikir.
Saat kutemani dia makan, suamiku berkata,”Budhe aja anyel disik yo saiki, aku lagi anyel je neng kantor ki”

Maka kujawab, “ Ya, aku ora anyel wis saiki”. Hi hi hi

Aneh ya...mosok anyel kok giliran? Emosi kok dijadwal?

Tapi begitulah yang kami biasakan, memberikan kesempatan bagi salah satu dari kami untuk “menikmati” suasana hati yang lagi tidak baik agar emosi itu mereda tanpa memberi dampak bagi salah satu dari kami. Mau cerita atau tidak cerita itu pilihan yang lagi emosi.Dengan begini biasanya juga tidak akan lama.

Berbeda dengan memuaskan, sikap seperti ini lebih sebagai permintaan agar mengambil jarak atau memaklumi sehingga tidak akan timbul percikan yang merugikan, karena biasanya emosi seperti ini disebabkan oleh persoalan diluar kami berdua. Hal ini juga akan menghindarkan diri dari kesalahpahaman yang mungkin terjadi.

Saling pengertian adalah hujan yang menyuburkan bagi tanaman kasih sayang dalam rumah tangga. Yang selalu dibutuhkan sepanjang kehidupan rumah tangga itu berjalan. Tak akan bisa dilakukan oleh salah satu pihak saja. Maka mengusahakannya dengan berbagai cara adalah sebuah keharusan bagi kebahagiaan rumah tangga kita.

Wis mirip konsultan pernikahan belum? Hee....

BAGAI MENGARUNGI SAMUDERA

Seorang ponakan ketemu gede (ketemunya sudah gede dan dia langsung manggilku Budhe, hee) menghubungiku beberapa hari yang lalu. Dia menikah Beberapa bulan yang lalu, dan sekarang mengikuti suaminya pindah keluar pulau jawa.

Setelah saling bertukar kabar, kutanya,
"Wa-ne aktif to? Dadi isa luwih penak ngobrol..."
"Ora'e budhe, wa ro fb off kabeh"
"Kenopo? Ora ana sinyal?
"Ora ana sing nggo maketke budhe, dadi tak offke kabeh".


Sampai di sini, tidak kuteruskan pertanyaanku. Dia berkata sesungguhnya atau tidak, kuhormati perasaannya untuk tidak bertanya lebih jauh. Setelah kudoakan agar rumah tangganya dibarakahi Allah, sms pun berhenti.

Terkadang, seseorang harus mengawali kehidupan rumah tangganya dalam situasi yang berat. Bukan karena tak ada cinta, atau karena mereka mengawali dengan banyak masalah. Akan tetapi pernikahan memang bukan puncak kebahagiaan, ia adalah awal dari kehidupan. Kehidupan berdua tentu saja.

Orang bilang menikah seperti mengarungi samudera, sekokoh apapun kapal yang kita punya, seganteng apapun nahkodanya, tidak bisa menghindari ombak yang akan datang. Masalah akan selalu ada, karena itu fitrah kehidupan dan itulah yang menjadikan menikah menjadi sesuatu hal yang besar di hadapan Allah subhana wa ta'alaa.

Maka doa yang diajarkan Rasulullah bagi pengantin baru adalah barakallahu laka, wa baraka 'alaika wa jama'a baina Kumma fi khair. Karena barakah Allah yang berlimpah kepada kita itulah yang akan menjadikan segala situasi yang ditemui membawa kebaikan buat kita. Kondisi lapang maupun sempit.

Allahul musta'an

SEGALANYA TAK LAGI SAMA

“Segalanya tak lagi sama”, begitu nasehatku tatkala mengetahui kegalauan adikku ketemu gede yang juga baru beberapa bulan menikah.

Berapa sih adikku ketemu gede? He he he… banyak, setiap kali berteman yang usianya terpaut jauh kuanggap adik, nek terpautnya jauuh sekali, ya…kuanggap ponakanku. Lumayankan ada yang bisa kunasehati ? Namanya juga loro omong, hee….

Kembali ke adikku yang lagi galau menghadapi situasi yang berbeda yang ditemui setelah menikah.
Setelah ijab kabul segalanya menjadi tidak sama, ada yang banyak berubah terkait dengan hak dan kewajiban sebagai konsekuensi dari perubahan status. Hal ini yang sering tidak begitu disadari oleh mereka yang baru menikah. Apalagi jika presepsi kehidupan menikah itu bak dongeng-dongeng. Setelah menikah bahagia selamanya .

Kemudian ketika tidak sesuai dengan bayangan, membandingkan keadaan saat masih bersama orangtua dengan setelah menikah.

” Penak tasih kalih bapak-ibu mbak”

Bagaimana bisa?

Keadaan saat masih bersama orangtua tidak bisa dibandingkan dengan setelah menikah, karena itu dua hal yang berbeda. Membandingkan keduanya akan menyebabkan seseorang mengambil sikap yang salah ,karena kehidupan setelah menikah adalah kelanjutan dari kehidupan bersama orangtua sebelum menikah. Untuk itulah dibutuhkan kedewasaan sikap untuk bisa beradaptasi , baik dengan suami ataupun situasi yang berbeda.

Kehidupan awal pernikahan memang membutuhkan banyak energi. Ada banyak yang harus disesuaikan dan diupayakan untuk bisa terbentuk keluarga yang sakinah, mawadah dan penuh rahmat dari Allah Subhana wa Ta,alaa. Segala apa yang Allah syariatkan dalam pernikahan baik yang berkaitan dengan istri ataupun suami sejatinya adalah untuk memudahkan pasangan suami istri itu untuk mencapai tujuan tersebut. Maka menunaikan apa yang menjadi kewajibannya harus lebih didahulukan dari menuntut apa yang menjadi haknya.

Hidup berumah tangga memang butuh ilmu dan kesabaran untuk menjalani proses. Tetapi percayalah kebahagiaan itu tidak terletak di ujung proses tetapi ada di setiap langkah saat menjalani proses tersebut.

Tetaplah bersyukur dan berprasangka baik pada Allah.

Rabu, 23 Desember 2015

ROMEO ALIAS KECIMPRING

Kerupuk ini terbuat dari singkong yang diparut kemudian dibumbui dengan garam, bawang dan daun bawang, di cetak di atas tutup panci kemudian diuapkan di atas panci berisi air mendidih baru dijemur. Di solo dulu, kami menyebutnya romeo, entah kemana si yulietnya. He he he.

Di sinetron preman pensiun, disebutnya kecimpring.

Lamaa...saya tidak mau makan kerupuk ini. Bukan karena tidak doyan atau tidak suka. Lebih karena kerupuk ini mengingatkan saya pada ibu saya. Dulu semasa masih kecil, ibu membuat kerupuk ini untuk mendapatkan uang belanja tambahan karena penghasilan bapak sebagai pegawai negeri rendahan tidak cukup untuk menghidupi 6 anaknya. Setiap kali lihat kerupuk ini selalu teringat betapa ibu saya harus kerja keras untuk membuat kerupuk-kerupuk seperti ini. Hal itu yang membuat saya tidak tega makan si romeo ini.

Tetapi, ternyata si kecimpring ini malah sering hadir di kehidupan saya. Lewat kakak ipar saya yang tinggal di daerah jawa barat. Dia sering hadir menjadi oleh-oleh ketika mudik karena banyak tetangga-tetangganya memberi kakak saya si kecimpring ini untuk oleh-oleh saat pulang ke yogya. Maka kecimpring ini hadir dengan wajah yang berbeda , dia hadir membawa cinta. Buah dari kebaikan tetangga dan keinginan membahagiakan saudara. Maka sungguh tak pantas jika sesuatu yang hadir karena cinta saya terima dengan kesedihan.

Rasanya pun sakjane memang enak.

Maka saya mencoba untuk memaknainya berbeda, agar bisa berdamai dengan masa lalu dan tidak menjadikan kesusahan masa lalu sebagai prasasti yang dikenang dengan penuh air mata. Hayyah lebay.
Mencoba untuk memaknai bahwa kerja keras bukan sebuah kesedihan, bentuk cinta seorang ibu kepada anaknya dan contoh nyata bahwa kesulitan hidup bukan untuk ditangisi tetapi diatasi untuk kebahagiaan di masa depan. Kerja keras yang menumbuhkan cinta, kebanggaan dan kehormatan diri. Kebaikan yang tak bisa dibalas dengan emas sepenuh bumi.
Semoga kerupuk-kerupuk itu akan menjadi saksi dihadapan Allah Subhana wa Ta'alaa dan menjadi asbab berlimpahnya rahmat dan kasih sayang Allah kepada ibu kelak. Amiin..‪#‎ngusap‬ airmata.

Pagi ini, kerupuk itu hadir di meja makanku juga dengan penuh cinta.

JADI BUDHE SAJA

Dulu, satu perkataan yang kurasa paling menyakitkan berkenaan dengan anak adalah ucapan, "Jenengan durung tahu ngrasakke punya anak".
Wuiih...itu sakitnya bukan hanya nusuk dada bahkan tembus ke punggung. Ha ha lebay poll.
Perkataan itu diucapkan kepadaku barangkali karena tidak tahan dengan kenyinyiranku yang sebenarnya ingin memberi nasehat atas sikapnya terhadap anaknya. Meski niatku baik tetapi mungkin dirasa tidak enak diterimanya.

Dan ucapan itu sangat ampuh untuk membuat saya diam.

Tetapi sekarang, setelah beberapa waktu berinteraksi dengan banyak anak yang beranjak besar ataupun yang sudah besar. Berusaha mendekati mereka, mengambil hati dan kalo bisa mempengaruhi mereka. Mencoba untuk memperhatikan dan menyayangi mereka seumpama anak sendiri.
Saya baru sadar ucapan mereka, "jenengan durung tahu ngrasakke punya anak"itu memang benar adanya. Ada banyak yang saya tidak tahu dan tidak bisa saya lakukan karena saya belum pernah jadi ibu.

Mendidik anak, mendampingi mereka, mengarahkan mereka ternyata lebih susah dari yang saya bayangkan. Ada sisi dari hati mereka, bagian dari sifat mereka yang hanya bisa tersentuh oleh ibu mereka. Seseorang yang dekat dengan mereka, yang kedekatannya tak akan pernah tergantikan oleh wanita lain betapapun baiknya wanita itu pada mereka.
Ikatan ibu dan anak adalah ikatan hati yang sangat spesial. Tak tergantikan.

Oleh karena itulah ibu-ibu sayang, jika anak-anak kalian sedang bermasalah maka yakinlah ibu-ibulah yang bisa menasehati mereka, merengkuh mereka kembali, menyentuh mereka dengan kedekatan hati yang hanya kalian yang punya.

Kesadaran itu juga membuat saya lebih ringan, tidak berpikir rumit-rumit dan tidak memaksa diri untuk segera melihat hasil. Padunya gak bisa ding...😉
Memang pas kalo saya berperan jadi budhe saja 😀.
Ayo...ayo...mari sini, siapa mau dekat sama budhe nyinyir tapi baik hati, nanti kita belajar bikin puisi sambil masak mi atau makaroni...

MENGHARGAI USAHA SENDIRI

Kemarin ada seorang medrep sebuah produsen obat generik datang ke apotek. Dulu saat awal dia mulai kerja sering datang ke apotek, menawarkan obat generik yang dia bawa sembari bercerita tentang kesulitan dia mengejar target penjualan yang di bebankan padanya.

Beberapa bulan kemudian dia tidak muncul di apotek.

Baru kemarin dia datang lagi membawa sebuah produk susu kedelai.
"Saya sudah tidak di **labs lagi bu, saya sudah keluar", katanya mengawali ceritanya siang itu.
"Sekarang saya bawa ini, dan merintis usaha bisnis kuliner bersama istri saya".

"Oh, sudah jadi menikah? Selamat ya ..Moga barakah, jadi keluarga sakinah,"kataku. Seingatku dia pernah cerita sedang mempersiapkan pernikahannya.
"Saya buat nasi kuning Banjarmasin sesuai daerah asal istri saya, dibungkus pakai mika itu bu. Malam itu saya racik-racik sampai jam 9. Jam 2 saya mulai masak nasinya, jam 4 saya sudah keluar nitipkan nasi kuning itu. Alhamdulillah nitip 20 habis.
Sebelumnya saya buat nasi kuning yang biasa itu bu, tapi tidak begitu laku. Yang kembali banyak, nitip 10 kembali 6. Jadi gak semangat, setelah ganti resep. Alhamdulillah habis terus. Kemarin dapat pesanan 40 bungkus", ceritanya penuh semangat.
"Sekarang habis berapa bungkus perhari?"
"Target kami 50 bungkus/perhari, tapi sampai sekarang belum tercapai. Tidak apa-apa bu, insya Allah nanti tercapai", mengakhiri ceritanya.

Selang kemudian dia pun pamit.

Senang sekali melihat semangat dan ketangguhannya. Seorang anak muda, penampilannya keren juga, seorang pengantin baru. Mau bekerja keras untuk memulai usaha dengan suatu usaha yang terlihat kecil, berapalah laba dari 20 bungkus nasi kuning? Tapi tetap optimis dan gembira meski hasil yang di dapat belum besar.

Jarang melihat seorang muda yang bisa memandang besar usahanya sendiri meski hasil itu masih kecil, mudah-mudahan kelak Allah akan menjadikan usaha kecilnya itu menjadi besar dan mencukupinya.

MENOLONG YANG LEMAH

Seorang laki-laki muda, dengan penampilan seadanya mendaftarkan putrinya di sebuah RS milik pemerintah. Dokter yang memeriksa putrinya menyarankan agar sang anak menjalani operasi . Maka sore itu dia datang bersama istri dan anaknya untuk mulai menjalani rawat inap, karena jadwal operasi telah ditetapkan keesokan harinya.

Tanpa banyak kata, diselesaikan satu-satu persyaratan administrasi yang diperlukan. Sementara istrinya dengan kemurungan yang sama duduk menanti bersama anak perempuannya dengan kediaman yang tidak berbeda. Tak ada niat untuk mencari tahu apa saja berkas yang harus diisi dan ditanda tangani suaminya, juga tak ada pertanyaan kamarnya nanti di mana, klas berapa dan kerepotan lainnya yang acap kali dipertanyakan bagi mereka yang punya banyak pilihan.

Tak berapa lama, suaminya menoleh dan berkata, “ Bu, tanda tangan”.
Pelan saja suara suaminya dengan nada yang tak yakin apakah istrinya bisa tanda tangan.
Istrinya ragu-ragu mendekat. Selesailah sudah urusan, tinggal menunggu perintah untuk masuk ke bangsal rawat inap yang disediakan.

Tersentuh aku melihat fragmen itu, ekspresi dari jiwa-jiwa sederhana yang tak punya banyak pilihan dan juga kesempatan memilih. Apa yang akan mereka terima, mereka pasrahkan sepenuhnya pada takdir yang telah ditetapkan untuk mereka. Tanpa prasangka, semua diterima apa adanya.

Mungkin mereka sendiri, mungkin mereka tak punya daya, tak banyak orang yang akan memperhatikan dan merisaukan keadaan mereka tapi sesungguhnya rahmat dan kasih sayang Allah hadir pada penderitaan mereka melalui perintah-perintahNya kepada umatnya untuk menyayangi dan menolong orang yang lemah di antara kita.

Sesungguhnya nikmat itu tidak hanya berupa berlimpahnya harta, tetapi juga ringannya hati untuk menolong dan menyayangi mereka yang lemah dan membutuhkan karena dari situlah kedekatan kepada Allah Subhana Wa Ta'alaa dapat kita raih. Tentu jika semuanya hanya ikhlash karenaNya.

MENGHILANGKAN KESEDIHAN

Saat melewati sebuah tempat yang menjadi bagian masa laluku, tiba-tiba hatiku sesak dan mataku mulai berkabut.

Ah…tiba-tiba saja kesedihan melanda, terbayang kembali masa-masa yang berat di kehidupanku, saat-saat ketika air mata ini banyak tertumpah.

Sebagiannya kulewati di tempat itu.

Beruntungnya aku segera tersadar dan tidak meneruskan lamunan kesedihanku itu.
Bukankah itu semua sudah terlewati?
Bukankah saat masa itu kulewati juga aku masih bisa tersenyum dan tetap merasakan kebahagiaan meski begitu banyak persoalan yang harus kuhadapi?
Astaghfirullahal adzim.

Setiap orang pasti pernah melewati masa-masa yang berat dalam hidupnya.
Sebagai proses pendewasaan dirinya agar kita menjadi manusia yang semakin baik dari hari ke harinya. Sebagai ujian dari Allah Subhana wa Ta’alaa untuk melihat seberapa besar keyakinan kita akan pertolonganNya.

Maka ujian-ujian itu sesungguhnya adalah jalan bagi kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dan asbab berlimpahnya rahmat dan kasih sayangNya saat kita sabar dan menerima semua yang terjadi pada kita.

Mengeluh dan bersedih berlebihan selain hanya akan memperpanjang penderitaan juga menghilangkan hikmah dan pahala yang Allah sediakan.

Jangan bebani diri sendiri dengan kesedihan masa lalu.

 Ø§Ù„لهم إني أعوذبك من الهم والحزن

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa susah dan duka

DARI MBAH KEBO HINGGA MBAH CEMPLUNG

Hari libur pilkada serentak kemarin, kami berkesempatan untuk sarapan di warung makan mbah Cemplung,Kasihan Bantul, warung makan yang menyediakan ayam goreng kampung ini sudah terkenal seantero jagad. Paling tidak di jagad fesbuk, saking seringnya lihat foto orang makan di Mbah Cemplung.

Sudah berasa orang kaya saja ni, sarapan saja menyempatkan diri pergi ke tempat makan terkenal. Hi hi hi

Sebenarnya sih, awal gak ada niat ke sana. Pagi hari itu kami, aku dan suamiku dan ponakan-ponakanku, ibu dan adik iparku, rombongan pokoke, cuman berniat ke pantai Baru yang hanya berjarak 45 menit perjalanan. Mumpung libur, menghirup udara segar dan bisa pesan makanan ikan goreng/bakar kemudian makan di pinggir pantai dengan harga murah meriah. Teapi rupanya pilkada serentak memepengaruhi situasi di sana, pantai yang bisanya di pagi hari sudah rame orang yang jualan makanan, mendadak sepii…tidak ada warung yang buka. Kebetulan saja Kulon Progo tidak menyelenggarakan pilkada tahun ini, jadi kami tidak punya tanggungan untuk memilih.

Akhirnya kami memutuskan untuk ke mbah Cemplung itu saja. Meski orang yogya tapi terus terang belum pernah ke sana, dan tidak tahu tempatnya. Dibantu google maps sampailah kami di sana. Meski agak ndhelik tetapi terlihat kalo tempat ini rame dikunjungi. Ayam kampung goreng dengan bumbu, cita rasa dan suasana tradisional memang jadi daya tarik sendiri.
Mungkin Mbah Cemplung tidak akan pernah menyangka usaha ayam gorengnya bisa melegenda seperti sekarang ini, tren berburu tempat kuliner sebagai gaya hidup kekinian didukung media sosial yang sangat masif menjadi berkah tersendiri bagi usaha kuliner tertentu.

Di Kulon Progo juga ada warung makan yang mulai melegenda walau warung makannya masih sangat sederhana, adalah warung makan Mbah Kebo. Menunya juga sederhana, ayam goreng, entah ayam goreng kampung atau ayam petelur yang sudah tua yang biasanya sudah mirip ayam kampung juga, dan sayur tholo dengan Lombok ijo. Warung itu selalu rame( baru beberapa kali ke sana sih, kabarnya begitu). Selain para bikers, banyak juga pasangan muda yang menyempatkan diri ke sana. Konon dulu makan di mbah kebo itu murah sekali, tetapi semenjak rame, harganya jadi lebih mahal.
Bedanya di mbah Kebo yang jual masih simbahnya sendiri, warungnyapun belum ditata. Jika saja anak cucunya Mbah Kebo sedikit lebih peka, maka warung itu bisa dikembangkan dan menjadi legenda kuliner yang banyak dicari oleh para penikmat kuliner, mumpung jamannya masih mendukung.

Dari warung mbah Cemplung hingga warung mbah Kebo sesungguhnya memperlihatkan bahwa rezqi itu benar-benar Allah yang atur. Apakah Mbah Kebo itu pasang status di fesbuk ? Jelas tidak, tapi warungnya terkenal tanpa dia berusaha untuk memperkenalkannya, demikian juga mbah Cemplung. Dia dapat promosi gratis dari kesukaan orang-orang untuk narsis di tempat-tempat yang dikunjunginya. Dan itulah rizqi yang Allah berikan buat mereka.

Maka berusaha memang tidak hanya butuh kerja keras, tetapi juga ketekunan dan keyakinan bahwa Allah-lah yang mengatur rizqi kita. JIka Allah berkehendak maka sangat mudah bagiNya untuk membuka pintu-pintu rizqi buat kita.
Dan saat-saat pintu rizqi itu sudah terbuka, mestinya kita paham dari siapakah rizqi ini datangnya dan apakah kewajiban kita terhadap Allah, Yang Maha Pemberi Rizqi.

Senin, 10 Agustus 2015

SEDERHANA ITU BERKAH

Sebuah pelajaran yang mengesankan tentang gaya hidup kutemui pagi tadi saat kami mengunjungi salah seorang teman haji suamiku.
Teman yang kami kunjungi tadi tinggal di pagerharjo, kecamatan samigaluh, kabupaten Kulon Progo. Samigaluh adalah kecamatan di kulonprogo yang terletak di perbukitan menoreh dengan ketinggian lebih dari 500 dpl. Berbatasan dengan kabupaten magelang dan purworejo.
Hampir 1 jam lamanya waktu yang kami butuhkan untuk sampai ke sana. Melewati jalan-jalan sempit yang menanjak tajam, berkelok-kelok dengan kiri kanan jalan lembah yang dalam selalu membuatku bersyukur Allah takdirkan diriku sejak kecil hingga saat ini di daerah yang mudah terjangkau. Sebuah rumah berlantai 2 menyambut kami.
 

Mungkin ada yang mengira teman suamiku tadi adalah petani sukses, orang yang berkecukupan tetapi milih tinggal di desa, pelosok gunung. Di sinilah yang menarik, karena teman tadi bekerja di perusahaan pertambangan asing. Setiap bulannya bertugas di berbagai negara berganti-ganti. Dia punya rumah di jakarta dan di kalimantan, asal istrinya. Tetapi dia memilih tinggal di samigaluh, kulon progo. Bersama istri dan anak-anaknya menemani ibunya dan mereka masih muda, selisih 2 tahunan dari kami.
"Saya gak betah tinggal di jakarta mas, enak tinggal di sini. Kalau pas pulang ke rumah, sesekali pergi ke kebun juga, ngge tombo kangen".
"Kalo pas bapak pergi, saya di rumah saja, tidak ke mana-mana. Baru kalo bapak pulang, mengajak pergi baru saya pergi"tambah istrinya.
 

Pembawaannya yang rendah hati dan ramah sangat mengesankan. Betapa harta yang berlimpah tak merubah sifat mereka. Kesempatan untuk bersinggungan dengan pusat-pusat kemewahan dunia tak menyilaukan mereka.
Betapa tenang dan tenteram orang-orang yang Allah beri dengan sifat qanaah, merasa cukup dan menyederhanakan hidup mereka. Kekayaan mereka tidak terlihat dari apa yang nampak pada diri mereka tetapi apa yang terpancar dari hati mereka.
Semoga Allah melimpahkan rahmat dan barakahNya pada keluarga mereka dan menjadikan anak-anak mereka, menjadi anak-anak yang sholeh

LUGUNYA AKU

Lebaran kali ini aku berkesempatan untuk mengunjungi beberapa teman.
Saat bertemu dan mengobrol, ibu dari temanku itu berkata"jenengan ki kok lugu men to mbak?"
"Lugu pripun bu?"
"Nggih lugu....sederhana banget ngono lho jenengan ki"

Aku cuman ketawa mendengar komentar ibu temanku itu. Aku yakin ibu itu tidak berniat mengejekku dan aku pun tidak tersinggung dengan penilaiannya. Dibandingkan anaknya yang berpenampilan perfek dan fashionable, diriku yang tampil tanpa polesan make up dan perhiasan satupun mungkin memang terlihat begitu sederhana, atau bahkan seadanya.
Sebenarnya komentar seperti ini bukan pertama kuterima tetapi baru kali ini begitu to the point. Kasihan deh gue...he he he
 

Dalam hal penampilan, aku punya prinsip bahwa baju bagus itu tergantung pada kapstoknya. Artinya sebagus apapun penampilan yang akan menentukan keindahannya tetaplah kepribadian orang itu. Baju bagus tetapi wajah judes, susah senyum tetap tidak akan terlihat indah.
Tetapi rupanya aku kepedean, he he he
Kadang pernah tergoda juga untuk tampil sedikit bling-bling, biar terlihat sedikit gemerlap. Tetapi dihati gak nyaman, kikuk, dan seperti tidak menjadi diri sendiri. It is not me.
 

Pada akhirnya, aku memilih jujur pada diri sendiri. Selagi itu tidak menghilangkan nikmat Allah yang diberikan kepadaku, aku memilih untuk tampil sebagaimana adanya diriku selama ini.
Kadang kita memang harus mencoba untuk mengerti orang lain tetapi jika itu berkaitan dengan prinsip dan kepribadian kita maka tidak mengapa jika orang lain tidak mengerti dengan pilihan kita.

MENJAGA IFAF

Satu hal yang kuanggap penting untuk sering kupesankan pada anak-anak panti adalah agar mereka bersikap mandiri dan menjaga ifaf, menjaga kehormatan diri dengan tidak mudah meminta-minta pada orang lain.
Menerima pemberian terus menerus dari orang lain akan berpotensi terjatuh pada 2 keadaan, yang pertama menjadi tergantung pada pemberian orang lain, yang kedua menjadi rendah diri.
Dua keadaan yang tidak baik untuk perkembangan kepribadian mereka.

Seringkali kukatakan,"Menerima pemberian orang lain bukan hal yang memalukan, ditolong oleh orang lain juga bukan aib, tetapi selalu berharap akan pertolongan orang lain jelas bukan hal yang diajarkan oleh Rasulullah. Meminta-minta kepada manusia tidak akan mengantarkan pada kemuliaan. Rasulullah mengajarkan umatnya dalam kondisi apapun untuk menolong orang lain, meringankan beban orang lain. Sedang kesusahan kita berharaplah hanya kepada Allah.
Maka bersyukurlah kepada Allah saat kalian menerima kebaikan dan berterimakasih kepada orang yang berbuat baik pada kalian. Dan berharaplah suatu saat Allah mampukan kalian untuk menolong orang lain sebagaimana orang lain saat ini menolong kalian.
Banyak orang tak beranjak dari kehidupannya karena dia tak pernah punya cita-cita ingin menolong orang lain. Maunya orang lain menolongnya terus.
 

Di bulan Romadhon, saat begitu banyak orang memperhatikan mereka dan mengulurkan tangan mengasihi mereka, berharap pemberian itu melembutkan hati mereka. Menjadikan mereka bersyukur kepada Allah dan yakin Allah mengasihi mereka dibalik keterbatasan yang mereka punyai saat ini dan bukan sebaliknya.

BERBAGI KISAH HIDUP

Bertemu teman atau sahabat lama adalah sebuah kebahagian. Sekian tahun tak bertemu tak menjadikannya sebuah jarak yang membuat canggung. Langsung nyambung.

Beberapa dari mereka berbagi kisah hidup yang mereka alami. Persoalan hidup yang mereka alami hingga bagaimana mereka menyelesaikannya.Apa yang mereka ceritakan hampir semua membuat mulutku menganga. Masya Allah, sungguh kutaktahu bagaimana jadinya jika aku yang mengalaminya. Setiap orang memang punya jalan hidup masing-masing, dan setiap manusia akan diuji sesuai kadar kemampuannya.
 

Berbagi kisah hidup dan mengambil hikmah darinya akan sampai pada kesimpulan bahwa tidaklah pantas mengirikan hidup orang lain. Apa yang Allah berikan adalah yang terbaik, Allah sudah mengukur kekuatan kita. Maka bersyukurlah dan berbahagialah dengan yang Allah beri. Bersyukur ketika kita berhasil melewati ujianNya. Seberat apapun masalah tidak lagi membebani ketika masalah itu sudah ada di belakang kita, yang tersisa adalah rasa syukur atas besarnya nikmat dan pertolongan Allah sesudahnya.
 

Tanpa harus membuka kembali buku harianku, masih kuingat saat lembaran-lembaran itu penuh air mata. Yang seandainya kuceritakan bisa jadi juga membuat mulut menganga orang yang mendengarkannya. Dan begitu mudahnya Allah menghapus semua itu.

MENGELOLA MASALAH

Beberapa waktu yang lalu, aku menjelaskan bagaimana mengelola masalah ke anak-anak Panti. Cepat atau lambat mereka akan mulai menemui masalah dalam kehidupan mereka, seiring dengan bertambahnya usia dan tanggungjawab mereka. Adanya remaja yang kabur dari rumah atau bahkan bunuh diri hanya karena putus cinta adalah contoh nyata dari ketidakmampuan remaja dalam mengelola masalah mereka. Maka kurasa penting untuk membekali mereka bagaimana menghadapi masalah,sebagai sebuah ketrampilan untuk hidup. Karena orang yang bahagia itu bukannya orang yang tidak pernah punya masalah, tetapi orang yang bisa mengatasi masalah mereka, dan bisa mengambil hikmah dari masalah itu menjadi sesuatu yang membawa kebaikan buat mereka.
 

Pada waktu itu kukatakan pada mereka,”Masalah itu bagai matahari. Dia akan ada selama kehidupan ini ada. Kemanapun kalian akan menghindar, bersembunyi, matahari itu tetap ada di sana. Akan tetapi kalian bisa memanfaatkan matahari itu kebaikan kalian, dan kalian juga bisa melakukan usaha-usaha agar panasnya matahari tidak merugikan kita. Maka hadapi masalah yang kalian hadapi, jangan menghindar. Jika kalian lari atau menghindar, maka masalah itu akan tetap ada”.
 

Malam harinya, kupikir-pikir benar tidak ya perumpamaanku tadi? Sepertinya kok rada-rada tidak nyambung ?

KAYA ITU DI SINI

Setiap kali jalan-jalan pagi menyusuri jalan desa sering bertemu dengan beberapa orang ibu-ibu, 3-5 orang, yang berjalan kaki dengan membawa bekal seadanya. Mereka adalah ibu-ibu buruh tani. Mereka berjalan kaki dari rumahnya menuju sawah yang akan mereka garap.
Setiap kali bertemu, kami gantian saling menyapa lebih dulu.

" Tindak bu?, jalan-jalan bu"?, begitu mereka biasa menyapaku.
Senyum mereka tulus, ikhlas. Meski kondisi yang mereka temui sangat berlawanan dengan yang mereka jalani sehari-hari.
 

Tanpa harus menampakkan yang kupunya, bersandal jepit sekalipun, nampak jelas aku lebih beruntung dari ibu-ibu itu, di pagi yang sama, sama-sama jalan kaki, tetapi mereka pergi untuk bekerja, memikul beban berat kehidupan mereka. Sedang aku? Jalan-jalan santai, bergandengan tangan, senyum sana senyum sini.
 

Ah...betapa mudahnya untuk merasa 'kaya', ketika kita menyadari begitu banyak kemudahan yang Allah beri, ketika kita bisa merasakan apa yang kita punya adalah nikmat dari Allah yang Maha Pemberi Rizqi.
Saat kita bisa melihat senyum tulus dari mereka yang Allah takdirkan 'kurang'dari kita, masih bisakah kita merasa bahwa kita lebih mulia dari mereka hanya karena kita lebih berharta?
Sesungguhnya Allah hanya melihat apa-apa yang ada di hati kita.
Wallahu'alam.

MEMASAK SENDIRI

Saat haji dulu, di madinah aku berjumpa dengan seorang ibu muda, berdarah melayu tinggal di Singapura. Neneknya orang minang, tetapi dia dan orangtuanya kewarganegaraan malaysia.
Kami bercakap-cakap dengan bahasa upin-ipin. Saat dia tahu kami masih berdua saja.
Dia bertanya,"Tiap hari jajan ja?"
Ketika kujawab,"Tidak, saya masak tiap hari"
"Cuman berdua ja masak?, tanyanya dengan nada suara kak Ros. He he he.
Bukan pertama kali ini aku ditanya seperti ini.
"Kami belasan tahun berdua dan entah sampai kapan masih berdua, jika selama itu jajan, alangkah membosankannya. Lagipula dengan memasak sendiri aku bisa menjaga kebersihan dan kehalalan makanan yang kami makan".
 

Begitulah, bagiku memasak sendiri bukan hanya sekedar menghadirkan makanan semata, tetapi itu adalah juga wujud cinta dan amal sholih . Dengan memasak sendiri lebih untuk bisa menjaga kehalalan bahan makanan yang kita makan. Selain itu jadi bisa berbagi juga.
Jadi meskipun, aku galak dan cerewet seperti mak lampir, setiap liburan ponakanku tetap saja hilir mudik masuk ke dapurku.
 

Dan setiap kali selesai makan, sering suamiku berkata,"Alhamdulillah, enak budhe. Matur nuwun ya.
Itu bonus untukku.

KETERBATASAN YANG MENDEKATKAN

Adalah Septa, seorang pemuda difabel yang kukenal lewat cerita suamiku. Dia mempunyai satu kaki yang tidak berfungsi optimal. Saat remaja dia disekolahkan oleh salah satu yayasan sosial. Sesekali dia hadir di majelis taklim yang diadakan di lingkungan kampus UII.

Beberapa kali menghadiri majelis taklim, sampailah dia pada satu kesadaran bahwa jika dia tidak beribadah kepada Allah, tidak mengisi hidupnya dengan ketaatan pada Allah, maka rugilah hidupnya. Di dunia dia sudah sengsara, di akhirat dia juga akan sengsara. Maka semenjak itu dia lebih giat untuk belajar agama.
 

Begitulah seorang difabel yang Allah takdirkan mempunyai keterbatasan, tidak menjadikannya menggugat takdir Allah. Dia bisa menjadikan keterbatasannya untuk memahami apa kehendak Allah atas dirinya.
Dan hari ini dia merintis pengajian untuk para difabel, agar teman-teman senasib dengan dirinya menemukan kesadaran seperti dirinya.
Semoga Allah melimpahkan barakahNya, memudahkan usahanya dan menerima semua amal ibadahnya.